Setop Remehkan Gen Z! Begini Cara Si Anak Muda Bisa Fokus Belajar
GH News February 23, 2026 12:10 PM
Jakarta -

Gen Z kerap dianggap sebagai generasi yang mudah bosan dan sulit fokus di kelas. Anggapan ini kemudian melahirkan label 'generasi TikTok', membuat banyak dosen mengira mahasiswa hanya tertarik pada materi dengan visual ramai dan penyajian serba cepat.

Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya tepat. Dilansir dari Times Higher Education, riset pada 2023 yang menguji presentasi PowerPoint berbasis Al pada mahasiswa Gen Z justru menunjukkan temuan berbeda dari dugaan awal para peneliti.

Hasilnya, melalui diskusi kelompok, mahasiswa Gen Z mengungkapkan bahwa mereka tidak ingin diperlakukan dengan remeh di kelas. Mereka lebih menyukai materi yang jelas, terstruktur, dan disampaikan dengan desain yang efektif.

Temuan ini menunjukkan, pola pikir kritis Gen Z bisa dipelajari, terutama dari cara mereka menilai materi, desain pembelajaran, dan perlakuan di ruang kelas. Seperti apa pola pikirnya? Yuk, simak selengkapnya.

'Mode Belajar' Aktif Saat di Kelas

Svetoslav G Georgiev dan Joseph Tinsley dari Xi'an Jiaotong-Liverpool University menjelaskan, mahasiswa Gen Z menunjukkan kesadaran tinggi terhadap cara mereka belajar. Mereka memahami bahwa penggunaan media sosial dan suasana kelas merupakan dua konteks yang berbeda.

Beberapa mahasiswa mengungkapkan, saat berada di kelas, mereka mampu beralih ke 'mode belajar'. Mereka menjadi lebih sabar dan membaca materi dengan lebih saksama. Temuan ini menantang anggapan umum bahwa Gen Z selalu terdistraksi akibat kebiasaan digital.

Fokus belajar dipengaruhi bukan hanya oleh kebiasaan menggunakan gawai tetapi juga oleh konteks, motivasi, dan desain pembelajaran yang jelas. Jika materi disajikan dengan jelas dan menghargai mahasiswa, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang menarik dan mampu mempertahankan perhatian mereka.

Materi Jelas Minim Dekorasi

Mahasiswa Gen Z mengungkapkan, mereka lebih menyukai materi kuliah yang disajikan secara jelas dan terstruktur dibandingkan tampilan visual yang terlalu ramai. Mereka menilai, substansi materi dan alur penyampaian jauh lebih penting daripada sekadar dekorasi slide.

Menurut mahasiswa Gen Z, slide yang efektif seharusnya berisi poin-poin singkat yang langsung menyampaikan gagasan utama, bukan paragraf panjang yang membingungkan. Visual tetap dibutuhkan, tetapi harus relevan dan benar-benar mendukung materi, bukan sekadar hiasan latar tanpa makna.

Dosen, Jangan Sekadar Baca Slide

Mahasiswa juga menekankan bahwa dosen sebaiknya tidak hanya membacakan isi slide. Mereka menginginkan materi yang memudahkan pemahaman pesan utama secara cepat dan jelas.

Temuan ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak membutuhkan gaya penyajian yang tidak terstruktur seperti media sosial. Mereka justru menginginkan konten yang dirancang dengan nilai dan tujuan yang jelas.

Pembelajaran Visual Tetap Penting

Meskipun mahasiswa Gen Z cenderung menghindari visual yang berlebihan, mereka sangat menghargai desain yang dirancang dengan cermat. Menurut mereka, elemen-elemen seperti penempatan teks yang strategis, kombinasi warna yang konsisten, dan simbol-simbol sederhana dapat memperjelas dan mempercepat proses pemahaman materi.

Beberapa mahasiswa menyatakan, slide pembuka yang memuat pertanyaan, misalnya definisi sebuah konsep, membantu mereka menyiapkan diri untuk menerima informasi selanjutnya. Isyarat visual semacam ini memudahkan otak untuk mengelompokkan informasi. Dengan begitu, materi yang kompleks terasa lebih mudah dicerna dan tidak membingungkan.

Pendekatan ini memiliki kemiripan dengan konten informatif di media sosial, seperti panduan ringkas, daftar poin, atau perbandingan antarkonsep. Dalam konteks pembelajaran, visual bukan sekadar elemen estetika atau hiburan, melainkan alat bantu kognitif yang mendukung cara mahasiswa berpikir, mengingat, dan mengolah informasi secara lebih efisien.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.