Penjelasan Spiritual Menag Tentang Puasa, Ruang Detoks Mental hingga Lenyapkan Stres 
Anita K Wardhani February 23, 2026 12:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Stres menjadi salah satu masalah paling umum di tengah kehidupan modern. 

Tekanan pekerjaan, kebutuhan hidup, dan ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan sering membuat banyak orang merasa lelah secara mental.

Baca juga: Tak Puasa karena Hamil Tua, Alyssa Daguise Siapkan Menu Sahur untuk Al Ghazali 

Di hari kelima Ramadan, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti puasa sebagai cara spiritual yang efektif untuk meredakan bahkan menghilangkan stres. 

Dalam refleksinya, ia menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga latihan batin untuk menemukan ketenangan.

Puasa Jadi Latihan Spiritual Melawan Stres Modern

Menurut Nasaruddin Umar, stres muncul ketika kebutuhan mendesak tidak segera menemukan solusi. 

Dalam kondisi seperti ini, puasa berperan sebagai latihan pengendalian diri yang membantu manusia menata ulang cara pandangnya terhadap hidup.

Ia menekankan bahwa banyak orang keliru mengira ketenangan bisa dibeli dengan materi. 

Ilustrasi stress
Ilustrasi stress (Freepik)

Padahal, kenyamanan fisik tidak selalu berbanding lurus dengan kedamaian batin.

“Kita perlu menyadarkan diri kita bahwa kenyamanan mungkin bisa dibeli di hotel berbintang, kelezatan bisa dibeli di restoran mewah, keindahan bisa disaksikan di obyek-obyek wisata, akan tetapi ketenangan dan kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang,"ungkap Nasaruddin pada keterangannya, Senin (23/2/2026). 

Puasa, lanjutnya, adalah bentuk spiritual training yang efektif untuk melawan keinginan diri. 

Dengan menahan makan, minum, dan dorongan nafsu lainnya, seseorang dilatih untuk merasakan ketenangan batin dan kebahagiaan rohani.


Ketenangan Batin Lebih Penting dari Kekayaan Materi

Dalam pandangan Nasaruddin Umar, ketenangan dan kebahagiaan adalah persoalan kondisi jiwa. 

Kekayaan materi tidak otomatis menghadirkan rasa damai, sementara orang dengan harta terbatas pun bisa merasakan kebahagiaan batin.

Ia mengutip ajaran Nabi tentang makna kekayaan sejati: “Al-gina ginan nafs (kekayaan sesungguhnya ialah kekayaan batin).”

Pesan ini menegaskan bahwa ukuran bahagia tidak semata ditentukan oleh materi. 

Meski demikian, Islam juga tidak melarang umatnya mengejar kesuksesan dunia. 

Bekerja produktif tetap penting, karena ibadah pun membutuhkan dukungan aspek duniawi.

Keseimbangan antara usaha dunia dan pembinaan batin menjadi kunci untuk menjaga kesehatan mental. 

Menggabungkan optimisme dan semangat juang dinilai sebagai cara untuk mempertahankan kebahagiaan batin.

I’tikaf Ramadan Jadi Ruang Detoks Pikiran

Ramadan juga menghadirkan momentum untuk sejenak menjauh dari hiruk pikuk kehidupan. 

Nasaruddin Umar menilai praktik i’tikaf di masjid sebagai bentuk “detoks pikiran” yang relevan dengan kehidupan modern.

Dengan berdiam diri di masjid, memperbanyak membaca Alquran, salat, zikir, dan tafakur, seseorang dapat menciptakan ruang hening untuk evaluasi diri. 

Suasana ini diibaratkan seperti pengalaman menyepi yang memberi pencerahan spiritual.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara harta dan kesadaran spiritual agar manusia tidak terjebak pada kehidupan yang semata materialistis.

“Bersihkanlah harta kita dengan zakat dan shadaqah, luruskanlah pikiran kita dengan zikrullah, dan lembutkanlah jiwa kita tafakkur dan tadzakkur, tangguhkanlah pendirian kita di atas rel shirathal mustaqim,"imbuhnya. 

Melalui puasa Ramadan yang dijalani dengan kesadaran penuh, Nasaruddin Umar berharap umat Islam dapat meraih ketenangan batin dan terbebas dari stres. 

Puasa tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga menjadi terapi spiritual yang memperkuat mental dan memperdalam makna hidup.

(Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.