Alami Pendarahan, Santriwati Pembuang Bayi Dirawat di Rumah Sakit, Akui Perbuatan
Hari Widodo February 23, 2026 04:45 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, MAMUJU - Penemuan mayat bayi di sekitar lingkungan sebuah pondok pesantren menggegerkan warga Kelurahan Bebanga, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat digemparkan , Selasa (17/2/2026) lalu.

Tak butuh waktu lama, Polisi dari Polresta Mamuju berhasil mengungkap pelaku yang membuang bayi tersebut.

Kasat Resekrim Polresta Mamuju AKP Agustinus Pigai mengungkapkan bahwa pelaku tak lain adalah seorang santriwati.

"(Pelaku) masih berusia 18 tahun," ujar Agustinus Pigai saat pres rilis di Polresta Mamuju, Jl Ks Tubun, Mamuju, Jumat (20/2/2026).

Sedangkan terduga ayah dari bayi tersebut inisial T berusia 20 tahun.

Agustinus mengungkapkan, sebanyak tiga santriwati dan ustadz awalnya dimintai keterangan. 

Baca juga: Geger Bayi Perempuan Tergeletak di Pinggir Jalan, Kades Ungkap Kronologis Penemuan

Mulai serangkaian pemeriksaan itulah, penyidik kemudian menemukan fakta ada seorang santriwati dalam kondisi tidak sehat (sakit).

"Dari hasil penyelidikan dan fakta-fakta ditemukan, kami kemudian memeriksa santriwati dan akhirnya mengakui dirinya melahirkan bayi tersebut," ujar Agustinus.

Kini ibu dari bayi tersebut dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Mamuju karena mengalami pendarahan.

Sementara ayah bayi tersebut masih dalam pemeriksaan oleh penyidik.

Mayat bayi ditemukan di Lingkungan Gantungan, Kelurahan Bebanga, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Selasa (17/2/2026) sekitar pukul 11.30 WITA. 

Berdasarkan hasil pengecekan awal di lapangan, bayi tersebut diduga dibuang di area perkebunan yang berada di samping pagar belakang sebuah pondok pesantren yang berada di Lingkungan Gantungan, Kelurahan Bebanga.

 Bayi itu dibuang diperkirakan terjadi pada Sabtu (14/2/2026) sekitar pukul 23.00 WITA.

Dua orang saksi telah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. 

Saksi pertama, Muhammad Akbar (18), seorang siswa pondok pesantren yang berdomisili di Kelurahan Bebanga, menjelaskan bahwa pada Selasa pagi ia bersama teman-temannya melakukan kerja bakti (kurvey) di area belakang pondok. 

Saat itu, saksi mencium bau menyengat seperti bangkai. 

Setelah menelusuri sumber bau, saksi menemukan jasad bayi dalam kondisi sudah tidak bernyawa. 

 Kondisi tubuh bayi dilaporkan telah menghitam dan mengering, dengan lengan kiri terputus. 

Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada guru atau ustaz di pondok, sebelum diteruskan ke Polsek Kalukku.

Dengar Suara Bayi

Saksi kedua, Alya Wulan Purnama (14), siswi pondok pesantren yang berdomisili di Lingkungan Gantungan, menerangkan bahwa pada Sabtu malam, 14 Februari 2026 sekitar pukul 23.00 WITA, ia bersama teman-temannya yang berada di asrama pondok sempat mendengar suara tangisan bayi dari arah belakang pondok.

Namun, karena takut dan mengira suara tersebut bukan berasal dari manusia, para saksi tidak berani mendatangi sumber suara.

Baca juga: Bayi 2,5 Tahun Bersimbah Darah Dalam Kamar Hotel, Selama 30 Menit Dianiaya Pacar Ibunya

Saat ini, identitas terduga pelaku masih dalam penyelidikan (lidik) pihak kepolisian. 

 Sejumlah tindakan telah dilakukan oleh Polsek Kalukku, antara lain mendatangi dan mengamankan TKP, mengamankan barang bukti, melakukan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket), serta melaporkan perkembangan awal kepada pimpinan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.