Sosok Abdul 12 Tahun Ngajar Ngaji Tanpa Berharap Upah, Tiap Hari Jadi Tukang Sapu
Tommy Kurniawan February 23, 2026 05:03 PM

TRIBUNJAMBI.COM – Sosok Abdul Karim menjadi potret ketulusan seorang guru ngaji yang mengajar tanpa pernah mengharap imbalan materi.

Pria asal Kabupaten Sampang itu merantau ke Bangkalan, Jawa Timur, sejak 2014 dengan tekad mencari nafkah sekaligus tetap mengabdi sebagai pengajar mengaji.

Rumah sederhananya berada di Jalan Letnan Ramli, Kelurahan Kraton. Berbekal ilmu agama yang diperolehnya saat menempuh pendidikan di pesantren, Karim mantap melanjutkan pengabdian di tanah rantau.

"Sebelum merantau saya juga sempat mengajar di pesantren di Sampang. Makanya saya ingin hal itu terus berlanjut di Bangkalan," ujarnya, Minggu (22/2/2026).

Berkat informasi dari rekan di pesantren sebelumnya, Karim kini menjadi salah satu pengajar di Pondok Pesantren Zainal Alimi Bangkalan yang lokasinya tak jauh dari rumahnya.

Di pesantren tersebut, ia tidak pernah menjadikan aktivitas mengajar sebagai sumber penghasilan utama.

"Dari pondok tersebut saya memang tidak pernah berharap mendapat upah. Tapi biasanya pihak pondok memberikan saya secara sukarela ya untuk beli sabun dan kebutuhan pribadi, jumlahnya tidak tentu," ucapnya, melansir dari Kompas.com.

Baca juga: Kabar Terbaru Layanan Bank Jambi Tarik Uang Manual Tanpa Limit Sudah Bisa Dilakukan

Baca juga: Hinca Panjaitan Bantah Jokowi soal Revisi UU KPK Inisiatif DPR

Jualan Telur Gulung dan Jadi Tukang Sapu

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Karim berjualan telur gulung di halaman Stadion Gelora Bangkalan (SGB). Selain itu, ia juga menerima pekerjaan lepas sebagai tukang sapu di area stadion.

Setiap pagi, ia memulai aktivitas dengan membersihkan sebagian halaman stadion.

"Jadi kalau ada orang nyuruh bantu ini itu, saya ambil. Selama rezeki itu halal saya kerjakan," ungkapnya.

Sekitar pukul 09.00 WIB, ia mulai berjualan telur gulung hingga pukul 13.00 WIB.

"Mulai jam 09.00 pagi saya jualan telur gulung di SGB. Biasanya saya jualan sampai jam 1 siang, lalu pulang ke rumah," jelasnya.

Setelah beristirahat dan menunaikan salat, pukul 15.00 WIB ia berjalan kaki menuju pesantren yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya.

"Ke pondok itu biasanya saya jalan kaki karena jaraknya hanya 500 meter dari rumah. Kalau hujan saya naik motor," ungkapnya.

Ia mengajar para santri hingga menjelang Maghrib, lalu melanjutkan kembali selepas salat Maghrib hingga waktu Isya.

"Karena santrinya banyak jadi dibagi-bagi supaya lebih efektif mengajar ngajinya," tuturnya.

Tak hanya mengajarkan baca Al-Qur’an, Karim juga membimbing santri membaca kitab hingga sekitar pukul 22.00 WIB.

"Ya setiap hari itu yang saya lakukan dari pagi sampai malam. Alhamdulillah sampai 12 tahun ini saya terus konsisten untuk mengabdi di pesantren," ungkapnya.

Fokus Ibadah Saat Ramadan

Memasuki bulan Ramadan, Karim menghentikan aktivitas berjualan telur gulung karena pembelinya ikut berpuasa.

"Kalau puasa ya saya bergantung pada uang di tabungan. Karena selama jualan sebelum puasa itu sebagian hasil kami tabung," ucapnya.

Meski berpeluang berjualan pada malam hari, ia memilih fokus beribadah dan mengajar di pesantren.

"Saya memilih untuk mengabdi di pesantren sembari fokus memuaskan ibadah dan tadarus. Itu kan hanya setahun sekali, sayang jika dilewatkan," jelasnya.

Bagi Karim, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk mengeluh.

"Kita hanya perlu menjalankan kehidupan sesuai tujuan. Kesulitan dan kesenangan selalu ada, ya kita hanya butuh kesabaran untuk melewati itu semua," tuturnya.

Meski Pemerintah Kabupaten Bangkalan memiliki program insentif bagi guru ngaji, Karim memilih tidak mengajukan diri.

"Saya pernah diajak teman untuk mengajukan itu, saya tidak mau. Selain memang ingin mengabdi, saya juga tidak enak untuk mengajukan diri karena saya ikut pesantren dan itu bukan lembaga saya," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.