Tribunlampung.co.id, Sukabumi - TR (47) menyebut anak tirinya, NS (13) tidak perlu menjalani autopsi maupun kematiannya diviralkan seperti saat ini.
Menurut dia, tindakan tersebut tidak akan membuat anak tirinya hidup kembali. Terlebih tidak ada keuntungan yang bisa diambil.
"Toh anak saya sudah hilang, sudah tidak ada. Apa dengan diautopsi atau diviralkan ada keuntungan buat saya?" ucapnya dikutip dari TribunJabar, Senin (23/2/2026).
NS sebelumnya membuat geger publik setelah diduga dianiaya ibu tirinya hingga tewas. Ia datang ke rumah sakit terdekat dengan kondisi tubuh melepuh, penuh luka bakar, serta demam.
Pada detik-detik kematiannya, NS sempat menunjuk TR selaku pelaku yang telah membuatnya menderita. Tak berselang lama, nyawanya tidak dapat diselamatkan.
Baca juga: Hasil Autopsi Bocah yang Diduga Dipaksa Ibu Tiri Minum Air Panas, Paru-paru Bengkak
Bocah asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, itu tutup usia pada Kamis (19/2/2026).
Mendengar tudingan tersebut, sang ibu tiri membantahnya mentah-mentah. Menurutnya, kematian NS adalah murni takdir yang tidak perlu dicari-cari kesalahannya.
"Ini memang takdirnya anak saya sudah sampai di sini," ujar TR dengan nada emosional,
TR secara terang-terangan meminta agar kasus ini tidak diperpanjang atau diproses lebih lanjut sebagai tindak pidana.
"Jangan sampai ada yang merasa dirugikan, apalagi sampai ada yang menjadi korban pidana ini itu. Tidak ada (pembunuhan), ini takdirnya," kata dia.
Dalam klarifikasinya, TR merasa diperlakukan tidak adil oleh opini publik yang menyudutkannya sebagai pelaku kekerasan.
TR mengaku telah merawat korban sejak kelas 3 SD dan merasa sangat terpukul dengan kematian anaknya.
Ia bahkan melabeli pihak-pihak yang merasa iba di media sosial sebagai "pahlawan kesiangan".
"Jangan menjadi pahlawan kesiangan," kata dia.
"Saya yang urusi tahlilan, bayar penggali kubur, itu semua pakai uang. Apa ada netizen yang merasa sok kasihan itu menyumbang? Kalau benar sayang, bantu biaya pemulasaraan dan doakan, bukan digoreng di media sosial," katanya.
Menanggapi proses hukum yang kini mengarah padanya, TR mengaku hanya bisa berserah diri. Ia menilai bahwa aturan hukum di dunia bisa saja direkayasa, berbeda dengan keadilan Tuhan.
"Saya pasrah saja, Allah yang Maha Tahu. Aturan negara atau aturan manusia kan bisa diubah, bisa dibuat-buat. Kalau aturan Allah tidak. Saya berharap kebenaran segera diperlihatkan," tuturnya.