Demi Kesehatan Turis-Warlok, Thailand Cantumkan Kadar Gula pada Minuman
GH News February 23, 2026 08:09 PM
Bangkok -

Sebagai salah satu destinasi wisata kuliner favorit di Asia Tenggara, Thailand jadi surganya wisatawan untuk sajian kuliner. Terlebih banyak makanan-minuman yang menarik untuk dicoba. Tapi kini Thailand punya kebijakan baru untuk warganya karena dianggap sudah melebihi batas normal untuk konsumsi gula.

Pemerintah Thailand menggandeng sembilan jaringan kedai kopi besar untuk mengurangi separuh kadar gula yang selama ini dianggap sebagai tingkat kemanisan normal pada sejumlah produk. Langkah itu diambil karena konsumsi gula masyarakat dinilai sudah berlebihan.

Dikutip dari , Senin (23/2/2026) rata-rata warga Thailand mengonsumsi 21 sendok teh gula per hari, jauh di atas batas enam sendok teh yang direkomendasikan World Health Organization (WHO). Minuman manis menjadi penyumbang utama dan membuat Thailand termasuk salah satu konsumen kalori dari minuman bergula terbesar di Asia.

Di tengah kampanye itu, suasana berbeda terlihat di sebuah kios kecil di kota tua Bangkok, Bibi Nid, tetap setia dengan racikan Thai tea-nya di depan pelanggan yang merekam dengan ponsel. Ia menuangkan susu kental manis, menambahkan tiga sendok makan gula penuh, lalu menyiramnya dengan teh panas yang baru disaring sebelum dimasukkan ke kantong berisi es.

"Saya ingin memanjakan pelanggan saya," kata Bibi Nid.

Sebelumnya, Pemerintah Thailand telah menerapkan pajak gula untuk minuman kemasan sejak 2017, dengan fase terakhir berlaku tahun lalu.

Asisten profesor di Universitas Mahidol, Pojjana Hunchangsith, mengatakan kebijakan itu mendorong produsen mengubah resep.

"Salah satu dampak terbesar adalah reformulasi produk, dengan banyak produsen menurunkan kadar gula untuk menghindari tarif pajak yang lebih tinggi," ujarnya.

Namun, pajak tidak menyasar minuman racikan di kedai dan pedagang kaki lima, padahal pilihannya beragam, dari teh susu boba hingga susu merah muda berbahan sirup sala.

"Minuman-minuman itu merupakan sumber asupan gula yang sangat penting di Thailand," tambah Pojjana.

Ia menyebut minuman yang diracik langsung memang lebih sulit diatur. Kini, sejumlah jaringan kafe menyediakan pilihan tingkat kemanisan 0%, 25%, 50%, 75%, hingga 100%.

Dalam skema baru, kadar gula pada opsi 100% untuk minuman tertentu dipangkas setengah dari sebelumnya. Sopir taksi di Bangkok, Ann Thumthong, mendukung kebijakan itu karena menurutnya dengan aturan yang tersebut setidaknya bisa mengurangi kadar preferensi rasa manis masyarakat.

"Kita bisa melatih ulang preferensi rasa manis sehingga membutuhkan lebih sedikit gula," katanya.

Profesor madya ekonomi di Universitas Khon Kaen, Phumsith Mahasuweerachai, menilai perubahan kecil bisa berdampak besar. Penelitiannya menunjukkan, hanya dengan memberi opsi tingkat kemanisan, pelanggan cenderung memilih minuman yang lebih rendah gula. Informasi kalori saja tidak cukup berpengaruh.

"Jika kita tidak mendorong (pelanggan) atau mengingatkan mereka, akan sulit bagi mereka untuk melakukan perubahan. Mereka pergi ke kedai kopi dan itu terjadi secara otomatis," ungkap Mahasuweerachai.

Meski begitu, tak semua orang merasa perlu mengurangi gula. Seperti Phakamas yang membeli cokelat dingin saat istirahat dan menilai konsumsinya terkait kandungan gula pada masih wajar.

"Menurutku mengonsumsi gula tidak apa-apa, aku tidak sering mengonsumsinya. Mungkin aku hanya minum satu atau dua cangkir dalam seminggu," tuturnya.

Bagi Bibi Nid yang sudah 30 tahun berjualan, mengurangi gula bukan pilihan mudah. "Tidak, tidak, tidak," katanya tegas.

"Alasan mengapa minuman ini populer adalah karena rasanya yang kuat dan intens. Tanpa gula, kopi dan teh akan terasa hambar dan pahit," lengkap dirinya.

Muhammad Lugas Pribady
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.