TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Progres pengerjaan Hunian Sementara atau Huntara bagi warga terdampak bencana tanah bergerak Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, sejauh ini masih dalam pematangan lahan menggunakan alat berat.
Adapun Huntara tersebut beralamat di Jalan Raya Capar-Padasari, RT 04/RW 02, Desa Capar, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal.
Sesuai pantauan Tribunjateng.com di lokasi pada Senin (23/2/2026), alat berat mulai melakukan pematangan lahan dengan memadatkan tanah.
Baca juga: Universitas Harkat Negeri Gagas Pusat Kajian Pesisir, Dorong Kolaborasi Hadapi Iklim Kota Tegal
Kurang lebih sebanyak delapan alat berat dikerahkan untuk mempercepat proses pembangunan hunian sementara yang ditargetkan selesai sebelum lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 1447 H tepatnya 21 Maret 2026.
Puluhan pekerja juga terlihat berada di lokasi dengan tugas masing-masing.
Ada yang mengoperasikan alat berat, mengambil batu plester, dan ada juga yang menata batu plester di tengah lahan.
Lokasi Huntara dekat dengan Pondok Pesantren Al-Adalah dua hanya berjarak sekitar 100 meter
Kondisi di lokasi tanah cukup becek, berlumpur dan ada satu titik yang terdapat genangan air.
Hal itu karena kondisi cuaca sampai saat ini masih sering terjadi hujan tak terkecuali di wilayah Kecamatan Jatinegara.
Ada akses jalan di lokasi Huntara yang sudah dibeton untuk memudahkan akses pekerja dan alat berat.
Sebelumnya, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menjelaskan, berdasarkan data sementara yang terdampak tanah bergerak sekitar 900 rumah mengalami kerusakan dengan kategori berat, sedang, dan ringan.
Selain permukiman warga, bencana juga berdampak pada dua pondok pesantren, fasilitas pendidikan, Polindes, serta sejumlah ruas jalan yang ambles dan retak.
Jumlah pengungsi di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara tercatat sekitar 2.700 jiwa.
Untuk mempercepat penanganan, pemerintah menetapkan pembangunan hunian sementara (Huntara) tahap pertama sebanyak 456 unit.
“Pada tahap pertama akan dibangun 456 unit Huntara. Sisanya sebanyak 444 unit masih disiapkan opsi lahannya sambil menunggu hasil kajian tanah dari tim geologi UGM,” jelas Bupati Ischak, pada Tribunjateng.com.
Bupati Ischak menerangkan, lahan seluas 4,7 hektare dari total usulan 12 hektare di Desa Capar telah direkomendasikan untuk pembangunan tahap awal meskipun memiliki tantangan kontur berbukit.
Sebagai alternatif, Pemkab Tegal menyiapkan lahan milik pemerintah daerah di Kalisapu, Kecamatan Slawi, berjarak sekitar 12–13 kilometer dari lokasi terdampak.
"Verifikasi dan pendataan dilakukan secara cermat guna mengantisipasi potensi konflik sosial dalam penentuan penerima Huntara," tegas Bupati Ischak.
Sementara itu, Pelaksana Strategis Jawa Tengah mewakili UPT Kementerian PU Jawa Tengah, Affi Tritato menuturkan, pembangunan 456 unit Huntara telah dimulai dengan dukungan alat berat dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional dan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana.
Pematangan lahan ditargetkan selesai dalam satu minggu, kemudian dilanjutkan pemasangan modular Huntara dari Bogor.
"Secara keseluruhan, pembangunan ditargetkan rampung sebelum Lebaran sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan bagi masyarakat terdampak," tutur Affi.
Baca juga: Pengungsi Tanah Bergerak Desa Padasari Tegal Mulai Keluhkan Batuk, Gatal-gatal, Mual dan Diare
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Tegal M Afifudin menambahkan, terkait anggaran untuk pembangunan hunian sementara semuanya dari pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB.
Termasuk proses pengerjaan pembangunan dan penunjukan vendor yang membangun Huntara juga semuanya ditentukan BNPB.
"Kami mengajukan hunian sementara sekitar 900 rumah. Ukurannya rumah tipe 36 disesuaikan dengan luasan tanah," imbuh Afifudin. (dta)