SURYAMALANG.COM, MALANG - Kios berukuran 4 X 7 meter di Pasar Tawangmangu, Kota Malang menjadi tempat untuk menikmati jajanan pentol berbahan kanji atau cilok.
Di ruang mungil itu tertata tempat duduk plastik, sofa kecil, dan beberapa colokan listrik di dinding yang kerap dipakai pengunjung untuk mengisi daya ponsel sambil menunggu pesanan.
Meskipun sederhana, kios itu hangat dan hidup dipenuhi tawa pelanggan yang datang silih berganti.
"Kami pertama buka di Pasar Klojen pada November 2025. Cabang di Pasar Tawangmangu ini baru buka akhir Januari 2026," ujar Rahmadani Al Firizqy, penggerak bisnis Cilok Jadoel kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (22/2).
Cilok Jadoel yang digagas wanita berusia 19 tahun itu memiliki kualiatas berbeda. Pentolnya unik, berbahan dasar kanji, bukan campuran daging seperti cilok masa kini. Justru itu yang membuat cilok ini disebut 'jadoel'.
Adanya gajih yang membedakan Cilok Jadoel berbeda dengan cilok lainnya. "Gajihnya menyatu dengan pentol. Itu yang bikin beda, dan rasanya lebih gurih," ujarnya.
Teksturnya tidak kenyal seperti cilok kebanyakan. Cilok Jadoel lembut, dan mudah digigit. Ukuran pentolnya pun besar diameter sekitar 3 sentimeter, dan tersedia dalam dua varian yakni cilok dan cilok tahu.
Tak seperti cilok pada umumnya yang menggunakan banyak pilihan sambal, Cilok Jadoel hanya punya satu bumbu saus merah. Saus merah ini punya rasa manis dan pedas.
"Ketika dipadu dengan cilok, rasanya manis, pedas, dan gurih. Banyak yang bilang itu yang bikin nagih," terang wanita yang akrab disapa Alfi tersebut.
Untuk cabang Tawangmangu, pelanggan bisa memilih tambahan kuah. Kuah itu merupakan campuran cabai bubuk untuk pengunjung yang doyan hangat-hangat.
Cilok Jadoel dibanderol seharga Rp 5.000 per 15 biji. Dalam sehari, kios ini bisa didatangi sekitar 25 orang, mulai anak kecil sampai ibu-ibu dan remaja yang kerap bolak-balik membeli.
"Kami juga aktif jualan di Instagram dan TikTok. Banyak yang datang ke kedai kami gara-gara lihat unggahan di media sosial (medsos)," ujarnya.
Tidak hanya pembeli eceran, banyak juga yang membeli berondongan untuk acara.
"Biasanya saya ambil 25 kresek dari Lawang setiap hari. Satu kresek berisi 50 biji. Setiap hari sering habis. Kalau ada sisa paling hanya satu kresek saja," terangnya.