TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Sosok Dwi Sasetyaningtyas atau yang akrab disapa Tyas kini tengah menjadi pusat perhatian publik.
Mantan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini memicu kontroversi besar setelah secara terbuka memamerkan paspor Inggris milik anak keduanya di media sosial.
Unggahan tersebut berbuntut panjang karena disertai dengan pernyataan yang dinilai melukai sensitivitas nasionalisme masyarakat Indonesia.
Dalam unggahannya, Tyas mengungkapkan ambisinya agar anak-anaknya memiliki kewarganegaraan asing dengan paspor yang dianggapnya lebih kuat.
Ia secara terang-terangan menuliskan harapannya agar sang buah hati tidak perlu menyandang status sebagai Warga Negara Indonesia (WNI).
“Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan,” tulisnya di Instagram.
Meski ia mengaku tindakannya tersebut didasari rasa kecewa terhadap pemerintah, publik justru menyoroti etika Tyas sebagai alumni yang studinya dibiayai oleh pajak rakyat.
Dampak dari kegaduhan ini kini merembet langsung kepada suaminya, Arya Pamungkas Iwantoro.
Nama Arya ikut terseret setelah warganet menelusuri status kontribusi beasiswanya.
Arya, yang saat ini menetap di Inggris dan bekerja di University of Plymouth, diduga belum menyelesaikan kewajiban pengabdian atau return rate di Indonesia sebagaimana diatur dalam regulasi beasiswa pemerintah.
Akibat dari dugaan pelanggaran tersebut, Arya kini dijatuhi sanksi berat.
Ia diwajibkan untuk mengembalikan seluruh dana beasiswa LPDP yang telah ia terima, lengkap dengan besaran bunga sesuai ketentuan yang berlaku.
Mengingat biaya pendidikan di luar negeri yang sangat tinggi, jumlah yang harus dikembalikan disinyalir mencapai angka miliaran rupiah
Masa Lalu Tyas Dikuliti
Kritik ini pun merembet ke ranah pribadi dan jejak digital masa lalunya.
Baca juga: Suami Tyas Diminta Kembalikan Beasiswa LPDP Plus Bunga Oleh Purbaya, Ternyata Jumlahnya Fantastis!
Warganet yang geram mulai membongkar kembali berbagai unggahan lama Tyas yang dianggap kontradiktif atau menunjukkan sisi lain kehidupannya.
Salah satu yang paling disorot adalah curhatan Tyas mengenai hubungan emosional dengan sang ayah dan pengalaman traumatisnya terkait hal-hal sederhana di masa lalu.
Tyas pernah menceritakan sebuah momen emosional yang terjadi saat ia baru saja kembali dari Belanda ke Indonesia dalam kondisi hamil empat bulan.
Saat berada di Surabaya, ia mengaku sangat ingin menyantap hidangan sushi.
Keinginan itu muncul karena selama menetap di Belanda, harga sushi dianggap terlalu mahal bagi kantongnya sebagai mahasiswa.
Namun, harapan tersebut tidak berakhir manis.
Ia mengaku justru dimarahi dan terpaksa makan di tempat lain, sebuah kejadian yang tampaknya meninggalkan bekas luka mendalam baginya.
Masalah pribadi ini ternyata bukan sekadar kekecewaan sesaat.
Tyas mengungkapkan bahwa ia harus berjuang keras secara mental untuk berdamai dengan masa lalunya.
Ia mengakui sempat berkali-kali mendatangi ahli profesional untuk mengatasi dampak psikologis yang ia rasakan.
“Aku bolak balik ke psikolog cuma buat memaafkan perilaku bapakku,” ungkapnya dalam salah satu unggahan lama.