TRIBUNTRENDS.COM - Malam kelima Ramadan menjadi momen refleksi bagi Moh Musa (51), seorang guru ngaji di Desa Totosan, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Seusai tadarus Al Quran, Musa duduk dengan wajah tenang, menceritakan perjalanan panjang pengabdiannya mendidik anak-anak kampung membaca kitab suci, sebuah jalan hidup yang telah ia pilih sejak puluhan tahun lalu tanpa pernah berharap imbalan materi.
Musa mengenang, dirinya mulai mengajar mengaji sejak menikah sekitar tahun 1995. Ia merupakan warga asli Kecamatan Batu Putih yang kemudian menetap di Desa Totosan setelah berumah tangga. Pada masa awal mengajar, Musa bahkan belum memiliki musala. Kegiatan belajar Al Quran dilakukan secara sederhana di teras rumah atau ruang tamu dengan fasilitas seadanya.
“Saya asli Kecamatan Batu Putih dan menikah ke sini, Desa Totosan,” ujar Musa.
Dengan sekitar 20 santri, Musa menegaskan niatnya sejak awal adalah mengabdi kepada masyarakat. Ia sadar betul bahwa menjadi guru ngaji tidak menjanjikan penghasilan. Namun baginya, mengajarkan Al Quran adalah bagian dari ibadah.
“Kelak semoga dicatat sebagai nilai ibadah,” ucapnya penuh harap.
Baca juga: Kisah Titin, Guru Ngaji Difabel yang Tak Pernah Lelah Mengajar Keliling Meski Hidup Penuh Ujian
Di balik keteguhan niatnya, Musa mengakui persoalan ekonomi menjadi tantangan terberat. Sebagai kepala keluarga dengan tiga anak, ia harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Selain mengajar ngaji tanpa honor, Musa bertani di tegalan miliknya, membuka toko kelontong kecil di depan rumah, serta memelihara dua ekor sapi milik orang lain.
Namun penghasilan dari berbagai usaha itu tidak menentu.
“Pun toko kelontong di depan rumah, setiap hari tidak selalu ada hasil memadai, bahkan 500 rupiah saja kadang tidak ada,” ungkapnya.
Dalam kondisi mendesak, Musa mengaku terpaksa meminjam uang kepada kerabat atau tetangga.
“Sambil lalu bertani dan memelihara sapi orang, tidak ada pemasukan lagi. Kadang juga pinjam sana sini, anak kan mondok,” katanya sambil tersenyum getir.
Baca juga: Ustaz Deni Guru Ngaji Nangis di Depan Dedi Mulyadi, Rahasia Pahit di Balik Video Viral Terungkap
Sesekali, Musa menerima bantuan dari pemerintah. Ia mengingat pernah dua kali mendapat bantuan dari Pemkab Sumenep sebesar Rp 1,2 juta per tahun. Dari pemerintah desa, ia juga pernah menerima bantuan sekitar Rp 900 ribu setahun sekali. Meski begitu, Musa mengaku sungkan jika harus berharap banyak.
“Sebenarnya malu kalau berharap. Niatnya kan ibadah, mengajari ngaji,” tuturnya.
Meski hidup serba terbatas, Musa bertekad terus membuka pintu musalanya setiap sore dan malam. Baginya, tidak ada tarif, tidak ada daftar honor. Yang terpenting, anak-anak di kampungnya bisa membaca Al Quran dengan baik.
“Tetap niatnya untuk mengabdi,” ujarnya mantap. Musa percaya, setiap huruf yang diajarkannya akan menjadi penguat keikhlasan yang sejak awal ia tanamkan.
Tribun Jatim | Ignatia | TribunTrends.com | Afif Muhammad