Ketika orang bersedekah untuk kami, kami juga bersedekah lagi untuk orang. Kan, itu lebih baik

Aceh Timur, Aceh (ANTARA) - Mereka yang telah kehilangan segalanya, tanpa ragu tetap membagi rezeki kepada sesama, entah membagi seporsi makanan, seikat buah, hingga segelas air minum yang sukar didapat pascabencana.

Sebisa mungkin mereka berupaya untuk tetap memberi; Meski dalam kondisi serba kekurangan, keinginan untuk bersedekah tetaplah ada di dalam diri.

Mereka adalah penyintas bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh pada November 2025.

Pemandangan perayaan bulan suci Ramadhan di tenda pengungsian mendatangkan hangat yang menyesakkan bagi relung jiwa yang menyaksikannya.

Rasanya terbelah; di satu sisi mereka menunjukkan makna berbagi yang sesungguhnya, di sisi lain terdapat miris yang menyayat hati.

Alih-alih berada dalam perlindungan rumah dengan empat dinding yang kokoh, para korban bencana melalui Ramadhan di bawah tenda berwarna jingga bertuliskan BNPB.

Alih-alih terpasang ucapan bertuliskan “Marhaban ya Ramadhan”, ucapan yang terpasang di tempat mereka adalah “Hunian Darurat”.

Warga Desa Gampong Gunci berada di kompleks hunian darurat di Sawang, Aceh Utara, Aceh, Senin (16/2/2026). Sebanyak 326 jiwa dari 85 KK dari Desa Gampong Gunci telah menempati hunian darurat selama tiga bulan kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda desa tersebut pada akhir November 2025 dan dijadwalkan akan pindah ke hunian sementara pada awal Ramadhan 1447 H. (ANTARAFOTO/Aprillio Akbar)



Berbagi kepada sesama

“Kami banyak rindu. Biasa kami berkumpul, sekarang di tenda. Bingunglah kami bercerita, tetapi alhamdulillah kami masih aman,” ujar Kepala Dusun Lhok Pungki, Firmadi.

Firmadi adalah penyintas bencana banjir dan tanah longsor yang menempati tenda BNPB sejak bencana melanda Dusun Lhok Pungki yang berlokasi di Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Aceh.

Dusun Lhok Pungki dikenal sebagai ‘dusun yang hilang’, sebab seluruh rumah yang berdiri di kawasan itu habis tersapu oleh banjir dan tanah longsor. Bukan tertimbun, melainkan habis tak bersisa. Puing-puing pun tak tampak.

Dusun tersebut dilanda dua bencana sekaligus, dan selama nyaris tiga bulan, 85 kepala keluarga (KK) masih tinggal di bawah tenda pengungsian.

Ketika ia mulai terbiasa hidup di tenda pengungsian, Firmadi menyampaikan kebiasaannya pun turut berubah. Ia yang terbiasa membeli makanan dan minuman hanya untuk keluarga di rumah, kini turut memikirkan orang lain.

“Sekarang kalau beli apa-apa, gak bisa gak lihat sebelah (tetangga). Kan nggak enak, kalau yang di sebelah nggak dibeliin,” tutur Firmadi.

Perasaan serupa juga tumbuh dalam diri Halmatun Sadian. Kekeluargaan yang terbangun di bawah tenda jingga BNPB membuatnya merasa susah dan senang harus dilalui bersama.

“Kalau puasa di rumah kan sahur bisa atur sendiri, goreng sendiri. Kalau di sini mana bisa? Semua sama-sama,” tutur Halmatun.

Halmatun menggunakan keliman hijab untuk menghapus air mata yang mulai menggenangi pelupuk kala teringat kepada bencana yang mengubah kehidupannya. Terlebih, ketika memasuki bulan suci Ramadhan.

Lantas ia memaksakan seulas senyum pada wajah, berupaya untuk tetap tegar meski terbayang Ramadhan pada tahun sebelumnya.

“Tetapi masak ramai-ramai begini seru juga,” ucapnya disertai tawa kecil, walau suara yang bergetar menyiratkan perih yang tertahan.

Di tenda pengungsian tersebut seolah ada aturan yang tak tertulis, bila tak bisa berbagi, maka sebaiknya tak membeli.

Warga Dusun Lhok Pungki Desa Gunci mengolah daging dalam acara tradisi meugang menjelang bulan Ramadhan 1447 H di dapur bersama hunian darurat Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Aceh, Senin (16/2/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri)

Peumulia Jamee

Terlepas dari perayaan bulan suci Ramadhan, masyarakat Aceh menganut tradisi memuliakan dan menghormati tamu atau yang disebut peumulia jamee. Tradisi itu berakar dari nilai kemanusiaan dan keislaman.

Wujud peumulia jamee terlihat dari cara masyarakat Aceh menjamu tamu: menyajikan makanan, minuman, dan kenyamanan.

Pada bulan suci Ramadhan, menghidangkan santapan untuk berbuka puasa merupakan salah satu wujud dari peumulia jamee. Tradisi ini tetap mereka amalkan meski dalam kondisi yang penuh akan keterbatasan, seperti pascabencana banjir bandang dan tanah longsor.

Perjalanan tim ANTARA dari tenda ke tenda tak luput dari pengalaman tersebut. Ketika bertandang ke tenda pengungsian Dusun Lhok Pungki, Aceh Utara, mereka mengumpulkan kursi, menatanya dengan bentuk melingkar, dan menghidangkan masakan yang mereka garap bersama-sama.

Warga, termasuk anak-anak di pengungsian, menolak untuk duduk sebelum para tamu menempati kursi yang disediakan, dan kursi yang disediakan begitu terbatas, hanya untuk sejumlah tim ANTARA dan satu untuk kepala dusun.

Kehangatan serupa juga berlangsung ketika tim ANTARA tiba di Dusun Sarah Gala, Aceh Timur. Para pengungsi menghidangkan ikan balado, tempe goreng, sup sayur, disertai segelas air minum dan segelas sirop manis.

Mereka tak menyentuh makanan yang dihidangkan sebelum para tamu mulai menyantap. Sementara kami berdiam karena sungkan, mereka mempersilakan dengan begitu sopan.

“Ayo, berbuka. Sudah azan,” ujar seorang ibu yang sedari awal menjadi kepala dapur ketika mempersiapkan hidangan berbuka puasa.

Tak hanya hidangan berbuka puasa, ketika tim ANTARA meliput suasana sahur di tenda pengungsian Dusun Bahagia, Aceh Tamiang, seorang pengungsi menggelar karpet dan menghidangkan segelas teh manis, dua potong daging, berikut dengan nasi putih.

Ia hanya memiliki satu karpet, dan memohon maaf sebab tak bisa memberi alas yang lebih luas.

“Maaf harus sempit-sempitan,” ujar Siti Hasanah atau yang akrab disapa Nur Lamek, sementara ia duduk di lantai. “Karpet kami hanya satu.”

Rasa sungkan memenuhi diri hingga ke ubun-ubun. Namun, menolak pemberiannya dapat menimbulkan ketersinggungan dan umumnya dianggap kurang sopan.

Bagaimana bisa para penyintas bencana yang semestinya menerima bantuan, menerima pertolongan, dan diberi kenyamanan, justru mendahulukan para tamu?

Menyadari sungkan yang terlihat jelas dari penolakan halus dan air wajah, Nur Lamek pun menenangkan tamu-tamunya.

“Ketika orang bersedekah untuk kami, kami juga bersedekah lagi untuk orang. Kan, itu lebih baik,” ujar Nur Lamek.

Hidangan sahur yang dimasak oleh Siti Hasanah di hunian darurat pengungsi Desa Bundar, Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (19/2/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri)

Perjalanan dari tenda ke tenda melukiskan bahwa hari raya tak selamanya disambut dengan pesta yang meriah maupun pakaian baru.

Perayaan juga bisa dilakukan dengan sederhana. Para pengungsi yang tetap berbagi di tengah-tengah keterbatasan menunjukkan kasih yang selalu ada di dalam diri masyarakat Aceh.

Kesederhanaan itu menjadi kemegahan tersendiri dalam menjalani bulan suci Ramadhan.