Rekam Jejak Ibu Tiri Bantah Siram Air Panas ke Bocah 12 Tahun, Pernah Dilaporkan Suami ke Polisi
Azis Husein Hasibuan February 24, 2026 09:37 AM

TRIBUN-MEDAN.com - NS (12), bocah asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengaku disuruh ibu tiri minum air panas.

Sebelum meninggal dunia, saat berada di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), NS sempat mengungkap kejadian sebenarnya.

Ketika ditanya mengapa tubuhnya penuh luka, NS dengan sisa tenaganya langsung merespons.

Sambil terbaring lemah, NS melayangkan telunjuknya ke arah sang ibu tiri yang berada di ruangan tersebut.

"Tuh, tuh..." ucap NS lirih namun jelas.

Namun, tudingan tersebut dibantah oleh sang ibu tiri, berinisial TR. 

"Terkait penyiraman itu, tidak benar dan tidak ada. Kalaupun ada kulit yang melepuh, itu faktor dari panas dalam," ujar TR membela diri.

PENGANIAYAAN - Viral anak 12 tahun dianiaya sampai akhirnya meninggal di rumah sakit di Sukabumi, Jakarta Barat. Diduga penganiayaan dilakukan ibu tiri (berkerudung)
PENGANIAYAAN - Viral anak 12 tahun dianiaya sampai akhirnya meninggal di rumah sakit di Sukabumi, Jakarta Barat. Diduga penganiayaan dilakukan ibu tiri (berkerudung) (TRIBUN MEDAN)

"Tidak ada yang namanya penyiraman air panas ataupun minum air panas, tidak pernah ada,

Saya tidak kejam seperti yang dituduhkan netizen," sambungnya. Ia mengklaim bahwa luka-luka di tubuh NS adalah dampak dari penyakit kronis yang sudah lama diderita korban.

"Anak meninggal karena sakit kanker darah leukemia dan autoimun. Jadi kulit melepuh itu karena faktor panas dalam," bebernya.

Kekerasan ini sebenarnya sudah sampai ke ranah hukum setahun silam.

Anwar pernah melaporkan istrinya ke Polres Sukabumi setelah melihat tubuh NS babak belur dihantam benda tumpul akibat bertengkar dengan si anak angkat.

"Pas kejadian penganiayaan yang saya laporkan setahun lalu itu gara-gara berantem sama anak itu (anak angkat). 

Saksi waktu itu Kanit Riki. Kita buka baju anak saya, saya sampai menangis lihatnya," ungkap Anwar.

Nahas, laporan tersebut tidak berlanjut ke meja hijau, dan atas campur tangan tokoh masyarakat, Anwar luluh setelah sang istri bersimpuh memohon ampun agar tidak dipenjara.

"Dia sampai sujud ke saya, minta jangan dilaporkan. Katanya Mama mau tobat dan berperilaku baik. Akhirnya terjadi perdamaian," tuturnya. Namun, perdamaian itu rupanya menjadi awal dari bencana yang lebih besar bagi NS.

Korban Sudah Diautopsi

Di sisi lain, kembali melansir Wartakotalive.com, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Polri, Kombes Pol dr Carles Siagian, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan autopsi atas permintaan Polres Kabupaten Sukabumi.

Hasil pemeriksaan tim dokter forensik justru menemukan fakta yang kontras dengan klaim penyakit korban.

“Memang hasil sementara yang bisa saya sampaikan terdapat luka bakar di sekujur tubuh korban. Ekstremitas di lengan, di paha, di perut,

Kemudian ada luka tumpul juga di bagian bibir dan hidung pasien,” ungkap dr. Carles, Sabtu (21/2/2026).

Meski ditemukan banyak luka, tim dokter belum bisa memastikan apakah luka tersebut yang menjadi penyebab utama kematian NS.

Dr. Carles menyebut luka-luka luar itu tidak bersifat mematikan, namun ada kecurigaan pada kondisi organ dalam korban.

“Mengenai penyebab memang kami belum bisa tentukan karena luka-luka tersebut yang kami sebutkan memang tidak menyebabkan kematian,

Tapi kami melakukan pemeriksaan mendalam, mengambil beberapa sampel dari organ-organ dalam dan mengirimkannya, dan kami sedang menunggu hasil dari Jakarta,” ucapnya lagi.

Dr. Carles mencatat bahwa secara fisik, Nizam tampak seperti anak yang terurus dengan baik.

“Sekadar informasi, anak ini dalam kondisi fisik yang cukup baik, artinya terawat, tidak kurus, rambut baik terawat,

Tetapi ada luka-luka di sekujur tubuhnya,” imbuh Carles. Kini, tim medis tengah meneliti apakah keanehan pada organ dalam tersebut murni karena penyakit atau dampak penganiayaan.

“Dari organ-organ dalam memang ada kecurigaan, tetapi kami belum bisa menentukan apakah ini karena sebuah penganiayaan,

Ada beberapa kondisi juga yang menyebabkan organ dalam mengalami perubahan, salah satunya adalah penyakit,” sambungnya.

NS (12) meninggal dunia setelah diduga dianiaya oleh ibu tirinya, TR (47). Hasil autopsi menemukan adanya sejumlah luka bakar di lengan, kaki, punggung, bibir, hidung, serta pembengkakan pada organ dalam.

Kasus ini pun telah disorot oleh Polres Sukabumi. 

Suami sibuk bikin kontan dan minta donasi

Beberapa akun yang mengaku mengenal Anwar pun akhirnya membuka suara.

Mereka mengungkap sosok Anwar yang disebut "playing victim".

Bahkan disebutkan kalau Anwar kerap menyiksa mantan istrinya.

Anwar juga disebutkan sudah 12 kali menikah dan berakhir cerai.

Disebutkan pula bahwa perceraian Anwar dengan ibu kandung NS juga karena mantan istrinya sering disiksa.

Akun Facebook Ka Ang mengaku kenal dengan Anwar dan tinggal di daerah yang sama.

Ia menyebut kalau Anwar lebih sibuk membuat konten daripada mengaji untuk anaknya.

"Abi ningali akang akang iyeu nga hayoh wee sibuk ngonten asanateh, tapi asa teu katingali nju ngaos yasin atau ngiring nguburkeun, aya beja mah can nincak nincak acan ka makam..

(Saya lihat akang ini sibuk ngonten terus perasaan, tapi kayaknya tidak terlihat sedang mengaji atau ikut menguburkan, ada yang bilang malah belum menginjak makam sama sekali)," Tulis akun itu.

Bahkan ia juga mendengar kabar kalau Anwar tidak keluar uang sepeser pun untuk pemulasaran jenazah NS.

Semua biaya ditanggung oleh kakak Anwar yang diduga merupakan kades.

Namun, ia menyebut kalau hubungan Anwar dengan kakaknya itu tidak baik.

Ia juga menyebut kalau Anwar menikahi ibu tiri NS karena ekonomi.

"Soalna saya masih sadaerah jeung manehna, mobil di mobilan motor dimotoran, bahkan anu ngamodalan de nizam oge ibu tirina lain bapana. Aya bapak model kitu ih amit amit

(Soalnya saya masih satu daerah dengan dia, mobil dikasih, motot dikasih, bahkan yang membiayai den nizam juga ibu tirinya bukan ayahnya)," Tulis dia lagi.

Ia pun mengaku miris melihat Anwar malah sibuk membuat postingan di Facebook.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.