TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Gempa dangkal kembali mengguncang Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar), Senin 23 Februari 2026 siang pukul 12.52 WIB.
"Hari Senin, 23 Februari 2026 pukul 12:52:53 WIB, wilayah Sintang diguncang gempa bumi tektonik,"tulis akun BMKG,
Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki parameter Update dengan magnitudo 3.2.
Episenter gempabumi terletak pada koordinat 0.15° LU dan 111.87° BT , atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 42 km Timur SINTANG-KALBAR pada kedalaman 16 km.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi kedalaman dangkal akibat aktivitas Sesar Adang.
Berdasarkan laporan masyarakat, gempa bumi ini dirasakan di Sintang intensitas II MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa seakan-akan ada truk berlalu.). Hingga saat ini belum terdapat laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan.
Baca juga: INFO! Sintang-Sekadau Diguncang Gempa 3,9 Skala Richter Hari Ini Sabtu 31 Januari 2026
Hingga pukul 14:14 WIB, hasil monitoring belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).
Meski tidak ada gempa susulan, BMKG mengimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi-informasi yang belum terbukti kebenarannya.
"Masyarakat di wilayah Sintang dan sekitarnya dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,"jelas BMKG.
BMKG juga mengimbau masyarakat waspada dan menghindari tempat-tempat membahayakan keselamatan akibat gempa serta memeriksa bangunan pasca gempa.
"Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa bumi, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa bumi yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah,"imbau BMKG
Selain gempa yang terjadi pada Senin 23 Februari 2026 kemarin, gempa bumi tektonik juga sempat mengguncang Sintang beberapa kali dalam kurun waktu tak lama bahkan dalam 1 bulan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi tektonik kembali terjadi di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar) pada Sabtu 31 Januari 2026 pukul 13.50 WIB.
Episenter gempabumi terletak pada koordinat 0.09° LU dan 111.76° BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 87 kilometer (km) Timur Sekadau, Kalbar pada kedalaman 15 km.
Kedalaman yang tergolong dangkal membuat getaran cukup terasa meski magnitudonya relatif kecil.
BMKG menjelaskan, gempa bumi ini merupakan gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas Sesar Adang.
Sejumlah warga melaporkan getaran dirasakan di wilayah Sintang dengan intensitas II–III MMI.
Getaran terasa nyata di dalam rumah dan digambarkan seperti ada truk besar yang melintas.
Kemudian pada tanggal 23 Januari 2026 gempa tektonik juga terjadi di Sintang pada pukul 14.27 WIB.
Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki parameter update dengan magnitudo 4.8.
Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 0.10° LU dan 111.78° BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 89 kilometer Timur Sekadau, Kalbar pada kedalaman 10 kilometer.
Gempa bumi ini dirasakan di Sintang, Melawi, dan Sekadau dengan intensitas III-IV MMI.
Getaran dirasakan kuat oleh banyak orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Terasa seakan ada truk berlalu.
Sesar Adang adalah salah satu sesar (patahan) geologi yang berada di wilayah Kalimantan, tepatnya di sekitar perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat.
Secara umum, sesar adalah rekahan atau patahan pada lapisan batuan di kerak bumi yang mengalami pergeseran akibat tekanan tektonik. Pergeseran ini bisa menimbulkan aktivitas gempa bumi.
Dilansir dari perpustakaan digilib, Sesar Adang merupakan salah satu sesar aktif terpanjang yang membelah Pulau Kalimantan, terbentang dari wilayah Pontianak, Kalimantan Barat, hingga pesisir timur Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Zona sesar ini menjadi penyebab gempa bumi tektonik dangkal, seperti gempa M3,2 di Sintang pada Februari 2026, yang berpotensi menimbulkan pergerakan tanah, longsor, dan pematahan permukaan.
Beberapa sesar lain yang lebih dikenal di Indonesia misalnya: