SURYA.CO.ID, SURABAYA - Membangunkan anak untuk makan sahur sering kali menjadi tantangan besar bagi orang tua selama bulan Ramadan, karena munculnya fenomena "Gerakan Tutup Mulut dan Mata" (GTMM).
Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Elmi Tri Yuliandari, menegaskan bahwa kunci utama agar anak tidak rewel saat sahur terletak pada pola tidur dan dukungan positif.
Menurut Elmi, penyebab utama anak sulit dibangunkan adalah waktu istirahat yang kurang akibat tidur terlalu larut malam.
“Jangan sampai si kecil tidur terlalu larut malam. Hal ini akan membuat anak susah bangun ketika waktunya makan sahur,” ujarnya, Selasa (24/2/2025).
Ia menyarankan orang tua untuk memastikan anak mendapatkan waktu istirahat yang cukup, baik tidur malam maupun tidur siang.
“Orang tua juga sebaiknya membangunkan anak setidaknya 30 menit sebelum imsak agar anak lebih siap dan tidak terburu-buru,” tambahnya.
Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan orang tua untuk menciptakan suasana sahur yang kondusif bagi si kecil:
Selain pola tidur, Elmi menekankan pentingnya memberikan pemahaman kepada anak tentang makna sahur dengan bahasa yang mudah dimengerti.
“Sampaikan bahwa sahur membantu mereka tetap kuat dan bersemangat saat beraktivitas di pagi hingga siang hari,” jelasnya.
Ia juga menyarankan orang tua untuk menjalin komunikasi dua arah sebelum anak tidur, khususnya terkait pilihan makanan.
“Komunikasikan sebelum tidur, tanyakan menu apa yang diinginkan. Hal ini bisa membuat anak lebih semangat saat dibangunkan,” kata Elmi.
Terakhir, dukungan emosional berupa apresiasi dinilai mampu meningkatkan kepercayaan diri anak dalam menjalankan ibadah puasa.
“Anak yang mendapatkan dukungan dan apresiasi dari orang tuanya akan merasa lebih percaya diri dan semangat menjalankan ibadah puasa,” pungkasnya.