TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi – Badan Urusan Logistik (Bulog) Kabupaten Banyuwangi memastikan stok beras di wilayahnya dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan sepanjang 2026.
Wakil Pimpinan Cabang Bulog Banyuwangi, Krishnayuda Tri Pamungkas, menyebutkan persediaan beras di gudang saat ini mencapai 100 ribu ton.
"Dari sisi persediaan, stok beras di Bulog Banyuwangi sangat aman. Bahkan untuk kecukupan stok sepanjang tahun ini," ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Baca juga: Jadwal Imsakiyah Banyuwangi Selasa 24 Februari 2026, Ini Waktu Subuh dan Magrib-nya
Selain menjaga stok, Bulog Banyuwangi juga aktif menyerap beras dari petani lokal. Hingga saat ini, realisasi penyerapan hampir menyentuh 10 ribu ton.
Targetnya, hingga akhir tahun, total serapan bisa mencapai 70 ribu ton, terutama saat panen raya pada Maret dan April.
"Bulog Banyuwangi telah menyerap hampir 10 ribu ton beras. Kami harapkan, pada panen raya bulan Maret dan April, penyerapan akan semakin optimal," jelasnya.
Harga pembelian beras dari petani ditetapkan Rp6.500 per kilogram. Tambahan serapan tersebut diharapkan memperkuat cadangan beras pemerintah di gudang Bulog.
Baca juga: Satgas Pangan Banyuwangi Pantau Harga ke Pasar dan Swalayan Modern
Di tingkat pasar, harga beras di Banyuwangi terpantau stabil.
Untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), harga beras dipatok Rp 12.500 per kilogram.
Beras medium Rp 13.000 per kg, dan beras premium: Rp 14.900 per kg
Selain beras, Bulog juga mendistribusikan minyak goreng Minyakita dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter.
"Selain beras, Bulog juga mendistribusikan minyak goreng Minyakita dengan harga eceran tertinggi Rp 15.700," ujarnya.
Bulog memastikan pemantauan harga dilakukan rutin agar pedagang tidak menjual di atas HET.
"Monitoring harga dilakukan setiap hari oleh petugas dan dilaporkan secara rutin," tegasnya.
Baca juga: Harga Daging Sapi dan Cabai Rawit Naik di Banyuwangi, Pembeli Kurangi Belanjaan
Tak hanya memenuhi kebutuhan lokal, Bulog Banyuwangi juga menjadi salah satu titik distribusi beras ke wilayah Indonesia Timur sesuai arahan pusat.
Sejumlah daerah tujuan distribusi meliputi Kalimantan, Bali, Nua Tenggara Timur, hingga Papua.