Waspada, Kurma Medjool Israel Gunakan Identitas Negara Lain Demi Hindari Boikot
Evan Saputra February 24, 2026 03:03 PM

BANGKAPOS.COM - Integritas label pangan kini sedang dipertaruhkan menyusul adanya temuan mengenai kurma asal permukiman Israel yang berganti identitas demi menghindari aksi boikot.

Para konsumen yang berniat menghindari produk tertentu karena alasan kemanusiaan kini dihadapkan pada tantangan berat akibat sulitnya melacak asal-usul asli produk Medjool di pasar.

Sejumlah eksportir dilaporkan memanfaatkan celah hukum dan proses re-packing di negara ketiga untuk menghapus jejak asal produk dari wilayah konflik.

Dengan proyeksi nilai pasar yang menembus puluhan miliar dolar di tahun 2026, siasat pelabelan ini dianggap sebagai langkah putus asa untuk mempertahankan dominasi pasar di tengah tekanan politik yang semakin kuat dari komunitas Muslim dan aktivis hak asasi manusia di seluruh dunia

Siasat licik dalam perdagangan kurma global terendus. Demi menghindari boikot konsumen, kurma premium dari permukiman Israel diduga dikirim ke zona perdagangan bebas untuk dikemas ulang dan dilabeli sebagai produk negara lain.

Sejumlah laporan dan organisasi pemantau konsumen di Eropa menuding kurma asal Israel dipasarkan dengan label berbeda guna menyamarkan negara asalnya.

Sehingga kurma Israel tersebut tetap dapat menembus pasar Uni Eropa di tengah meningkatnya seruan boikot dari sebagian konsumen Muslim.

Klaim ini muncul di tengah pesatnya pertumbuhan perdagangan kurma global serta kompleksitas rantai pasok internasional yang dinilai menyulitkan pelacakan asal produk dan transparansi pelabelan.

Diketahui nilai pasar kurma dunia pada 2025 tercatat mencapai 32,7 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dan diproyeksikan naik menjadi 34,5 miliar dolar AS pada 2026. 

Angka tersebut bahkan diperkirakan melonjak hingga 55,58 miliar dolar AS pada 2034.

Hingga saat ini kawasan Timur Tengah dan Afrika masih mendominasi produksi global dengan kontribusi lebih dari 85 persen pasar, mengutip Anadolu Agency, Selasa (24/6/2026).

Meski volume produksinya berada di bawah Mesir dan Arab Saudi, Israel disebut memainkan peran penting dalam perdagangan kurma premium.

Khususnya varietas Medjool yang bernilai tinggi di pasar internasional.

Namun, perbedaan antara angka produksi dan volume ekspor memunculkan pertanyaan soal keterlacakan pasokan.

Sejumlah laporan sektor, media, dan organisasi konsumen menyebut kurma yang diproduksi di Israel maupun di permukiman Israel di Tepi Barat diduga dipasarkan dengan cara menyembunyikan asalnya melalui negara ketiga atau jalur logistik tidak langsung.

Produk tersebut disebut dikirim ke Eropa setelah melalui proses pengemasan ulang di zona perdagangan bebas atau melalui negara perantara, sehingga label negara asal dapat berubah.

Pusat Distribusi: Belanda dan Prancis

Menurut data Bank Dunia, sekitar setengah kurma yang beredar di Belanda dan lebih dari sepertiga di Prancis disebut berasal dari Israel.

Kedua negara tersebut juga tercatat mengekspor kurma senilai sekitar 150 juta dolar AS pada 2024.

Belanda dan Prancis dinilai berperan sebagai pusat pengemasan dan distribusi ulang ke berbagai negara Uni Eropa lain, termasuk Jerman.

Di Jerman, pangsa kurma yang diduga memiliki keterkaitan dengan Israel diperkirakan mencapai sekitar 25 persen dari total pasokan.

Kurma Medjool menjadi sorotan utama dalam polemik ini.

Data dari basis informasi perdagangan CBI menyebut sekitar 50 persen Medjool yang masuk ke Eropa berasal dari Israel, sementara sejumlah publikasi perdagangan pangan internasional memperkirakan angkanya bisa mencapai 75 persen.

Dugaan Pasokan dari Permukiman Tepi Barat

Israel dilaporkan mengekspor sekitar 35 ribu ton kurma per tahun.

Namun, data dari majalah pertanian Lahaklai menyebut produksi di Lembah Arava hanya sekitar 8.800 ton per tahun, sehingga muncul dugaan bahwa sebagian besar sisanya berasal dari perkebunan di permukiman Israel di Tepi Barat.

Sejumlah pihak menyebut praktik ini sebagai “pencucian kurma”, yakni pemasaran produk dari permukiman dengan label asal negara lain seperti Belanda, Maroko, Uni Emirat Arab, atau Palestina.

Uni Eropa sendiri memiliki aturan tegas terkait pelabelan produk dari permukiman Israel.

Putusan Mahkamah Eropa pada 2019 menyatakan produk dari permukiman tidak cukup hanya diberi label “produk Israel”, tetapi harus secara jelas mencantumkan asal dari permukiman agar konsumen tidak disesatkan.

Dampak Boikot Konsumen

Meningkatnya tekanan boikot di Eropa turut memengaruhi sektor ritel.

Co-op Group yang berbasis di Inggris baru-baru ini memutuskan menghentikan pasokan produk dari 17 negara, termasuk Israel, menyusul tekanan dari anggota dan isu dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Di sisi lain, sejumlah perusahaan Palestina maupun perusahaan internasional yang dikaitkan dengan tuduhan tersebut membantah praktik “pencucian kurma”.

Mereka menyatakan rantai pasok yang digunakan telah melalui proses sertifikasi dan audit sesuai standar perdagangan internasional.

Polemik ini memperlihatkan bagaimana isu geopolitik, transparansi perdagangan, dan sensitivitas konsumen kini semakin memengaruhi dinamika pasar pangan global, khususnya komoditas bernilai tinggi seperti kurma.

(Kompas/Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.