TRIBUNBANYUMAS.COM - Jelang putaran nasional, juara Liga 4 Jawa Tengah 2025/2026 Persibangga Purbalingga menghadapi situasi tak mudah.
Gelombang perpisahan menerpa tim berjuluk Laskar Jenderal Soedirman ini.
Mulai dari Manajer Hamzah Asadullah, kapten tim Andre Putra, penyerang andalan Rizqi Fauzano, striker Haidar Nur Afif, serta asisten pelatih Wahyu Wijiyastanto.
Hengkangnya sejumlah sosok penting ini diduga karena masalah internal.
Pembahasan di kalangan suporter, situasi panas di Persibangga Purbalingga terjadi justru saat tim kebanggaan Kota Perwira itu menjadi juara Liga 4 Jateng.
Menang lewat adu pinalti atas Persak Kebumen di Stadion Jatidiri Semarang, Senin (16/2/2026), membuat seluruh tim merasakan euforia.
Para pemain pun ingin merayakan kegembiraan di Semarang.
Baca juga: Persibangga Purbalingga Hadapi Krisis Jelang Liga 4 Nasional, Ditinggal Manajer dan Sejumlah Pemain
Mereka meminta manajemen menambah durasi menginap satu hari di Kota Lumpia.
Namun, keinginan para pemain ini ditolak manajemen.
Manajemen ingin tim langsung pulang ke Purbalingga untuk mempersiapkan diri konvoi kemenangan keesokan hari, Selasa (17/2/2026).
Mereka ingin langsung membagikan dan merayakan kegembiaraan dengan masyarakat Purbalingga.
Sayang, perbedaan pandangan ini tak menemui solusi.
Pemain yang kadung kecewa membagikan kabar kepada suporter bahwa mereka harus menanggung biaya penginapan dan transportasi atas tambahan waktu yang mereka inginkan.
Kontan, kabar ini membuat suporter kecewa kepada manajemen.
Mereka pun menyerang manajemen yang dianggap tak memihak kepada tim.
Hingga akhirnya, manajemen secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap.
Hamzah Asadullah yang saat itu masih menjabat manajer mengungkapkan dapur Persibangga Purbalingga.
Mulai dari komitmen mereka tak menunggak gaji pemain, hingga bonus setiap kali Persibangga menang di setiap fase yang mereka lalui, hingga final Liga 4 Jateng.
"Dari awal, kami diamanahi di Manajemen Persibangga dengan niat dan komitmen kami hanya untuk semaksimal mungkin memajukan Persibangga dengan target naik atau promosi ke Liga 3."
"kami juga berkomitmen untuk mensupport Persibangga dengan semaksimal mungkin, baik mensupport pemain, pelatih, operasional, dank keseluruhannya."
"Dan komitmen tersebut sudah kami lakukan dari awal berjalan hingga hari ini. Salah satu bentuk komitmen tersebut, manajemen Persibangga mengeluarkan anggaran sedikitnya Rp400 juta per bulan yang digunakan untuk gaji, makan, penginapan, transport, bonus, dan operasional lain," bunyi pernyataan Hamzah Asadullah diunggahan resmi Persibangga Purbalingga.
Baca juga: Menang Adu Pinalti Lawan Persak Kebumen, Persibangga Juara Liga 4 Jateng
Sayang, penjelasan manajemen ini membuat bola liar yang telah menggelinding makin besar.
Ketidakpuasan yang terus dialamatkan ke manajemen membuat Hamzah Asadullah akhirnya memilih mundur.
Yang kemudian diikuti sejumlah pemain dan asisten pelatih.
Kini, di tengah persiapan menghadapi Liga 4 Nasional, Persibangga Purbalingga tak hanya memiliki pekerjaan rumah membentuk tim yang solid tetapi juga memperbaiki komunikasi yang rapuh. (*)