TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah kembali menjadi momen penuh haru bagi pelatih kiper asal Sumatera Utara, Sahari Gultom.
Di tengah suasana umat Muslim menyambut bulan penuh berkah bersama keluarga, pria yang akrab disapa Ucok itu justru kembali harus merelakan kebersamaan karena tuntutan profesinya.
Sebagai pelatih kiper Sumsel United FC yang berlaga di ajang Pegadaian Championship musim 2025/2026, Sahari kini menetap di Palembang. Kesibukan mempersiapkan tim menghadapi jadwal kompetisi yang padat membuatnya hampir setiap tahun tak bisa menikmati awal Ramadan bersama istri dan anak-anak di kampung halaman, Medan.
Situasi tersebut bukanlah pengalaman baru bagi Sahari. Dalam perjalanan kariernya sebagai pelatih profesional, ia memang kerap dituntut untuk berada jauh dari rumah. Bahkan ketika dipercaya menjadi pelatih kiper Timnas Indonesia U-20 beberapa tahun lalu, momen awal Ramadan pun harus dilewatinya di tempat tugas.
“Ya hampir tiap tahun. Tapi kalau Lebaran kadang-kadang sama keluarga, seperti dua tahun lalu di Jakarta kan,” ujar Sahari lewat sambungan seluler kepada Tribun Medan, Selasa (24/2/2026).
Ia menuturkan, seiring waktu dirinya belajar menerima konsekuensi profesi yang dijalaninya. Baginya, menjadi pelatih berarti siap ditempatkan di mana pun dan kapan pun tim membutuhkan. Meski begitu, ia tak menampik bahwa perasaan rindu tetap hadir, terutama ketika Ramadan tiba.
“Sebenarnya sih sudah hal biasa, tapi memang karena tuntutan pekerjaan tadi jadi menjadi hal yang biasa saja. Tapi nanti di Lebaran bisa kembali, walau dua hari langsung kembali lagi,” katanya.
Menurutnya, momen yang paling dirindukan bukan sekadar suasana rumah, melainkan kebersamaan saat menjalankan ibadah. Sahari mengaku merindukan suasana sahur bersama anak-anak, salat berjamaah, hingga momen sederhana berbuka puasa di meja makan keluarga.
“Yang jelas rindu itu kepada anak-anak. Saat ibadah kayak salat, sahur bareng-bareng sama anak-anak, terus berbukanya itu yang kita rindukan saat awal-awal Ramadan,” ungkapnya.
Tak hanya kebersamaan, ia juga mengaku sangat merindukan masakan sang istri. Baginya, cita rasa masakan rumah memiliki makna emosional yang tak tergantikan.
“Yang jelas masakan buatan istri sangat dirindukan di bulan Ramadan ini. Kalau sahur, kalau berbuka, kalau kita beli itu beda dengan masakan istri. Itu yang kangen,” tuturnya.
Beberapa menu favorit keluarga pun langsung terlintas di benaknya saat ditanya soal hidangan Ramadan.
Sop hangat, cumi asin, ikan pepes, hingga sop ayam kampung menjadi sajian yang menurutnya paling menggugah selera.
“Kalau menu itu kadang sop, terus cumi asin, ikan pepes, sop ayam kampung. Beuh, itu enak,” ucapnya sambil tertawa.
Meski jauh dari keluarga, Sahari tetap berusaha menikmati suasana Ramadan di Palembang. Ia mencoba beradaptasi dengan kuliner khas daerah setempat untuk mengobati kerinduan terhadap masakan rumah.
“Kalau di sini menu berbuka atau sahur itu kadang kita membeli menu yang kita rindukan. Tapi karena di sini, ya kita merasakan menu daerah tersebut seperti empek-empeknya, pindangnya. Itu kita harus coba,” katanya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa kebersamaan dengan keluarga tetap menjadi hal yang paling dirindukan. Apalagi, jadwal pertandingan Sumsel United FC yang kembali akan bertanding pada 28 Maret membuatnya kemungkinan hanya memiliki waktu singkat untuk pulang saat Lebaran.
“Saya berharap pada Ramadan ini diberi kesehatan terus, biar lancar puasanya, lancar ibadahnya. Jadi bisa kumpul itu enak. Tapi kalau tahun ini mungkin memang saya tidak bisa lama, karena pertandingan sangat dekat, sudah main lagi tanggal 28 Maret. Jadi mungkin nanti Lebaran hanya di Medan saja, tidak ke Kota Cane seperti biasa atau ke Jakarta,” pungkasnya.
Di balik kerasnya dunia sepak bola profesional, Ramadan bagi Sahari Gultom tetap tentang keluarga, doa, dan harapan. Meski jarak memisahkan, ia percaya kebersamaan tak selalu diukur dari seberapa lama waktu yang dimiliki, melainkan dari ketulusan menjaga ikatan hati.
(Cr29/tribun-medan.com)