Cristian Chivu Super Pede Inter Milan Bisa Comeback dari Bodo/Glimt, Kalaupun Kalah Tak Perlu Malu
Drajat Sugiri February 24, 2026 04:30 PM

TRIBUNNEWS.COM - Cristian Chivu super pede Inter Milan bisa membalikkan agregat setelah tertinggal 1-3 dari Bodo/Glimt di leg pertama play off 16 besar Liga Champions.

Inter Milan secara mengejutkan kalah 3-1 di kandang Bodo/Glimt di Aspmyra Stadion pada leg pertama tengah pekan lalu.

Kekalahan itu disebut Chivu karena pengaruh faktor lapangan sintetis dan cuaca. Kini menatap leg kedua, pelatih Inter Milan percaya San Siro akan menjadi panggung kebangkitan timnya.

Pelatih asal Rumania ini tak menampik bahwa timnya sempat gagal beradaptasi pada leg pertama. Namun ia menegaskan Inter sudah belajar dari kesalahan tersebut. 

"Kami tahu kualitas mereka, tapi kami juga tahu siapa kami. Jika ada satu tim yang bisa membalikkan keadaan ini, itu adalah kami," tegasnya dalam konferensi pers, dikutip dari Football Italia.

Inter datang dengan modal yang tidak buruk. Tujuh kemenangan dari delapan laga terakhir di semua kompetisi, termasuk tiga kemenangan beruntun di kandang, menjadi alasan kuat untuk optimistis. 

Setelah kalah di leg pertama, Nerazzurri juga langsung mendapat kemenangan meyakinkan 2-0 dari Lecce akhir pekan lalu.

Bodo/Glimt sendiri memang sempat menang 1-2 dari Atletico Madrid dan mengalahkan Manchester City 3-1 di kandang. Tapi catatan saat melawat ke tim Italia tidak sebaik ketika tampil di rumah sendiri.

Wakil Norwegia itu punya catatan kurang meyakinkan saat tandang ke markas klub Serie A, kalah lima dari enam kunjungan sebelumnya.

BERDUEL - Potret aksi duel Bodo/Glimt vs Inter Milan pada leg pertama play-off babak 16 besar Liga Champions, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB. Bodo/Glimt sukses menang dengan skor 3-1 atas Inter Milan.
BERDUEL - Potret aksi duel Bodo/Glimt vs Inter Milan pada leg pertama play-off babak 16 besar Liga Champions, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB. Bodo/Glimt sukses menang dengan skor 3-1 atas Inter Milan. (UEFA)

Sementara itu, Inter Milan memang akan tanpa Lautaro Martinez yang mengalami cedera. Namun Chivu mengatakan hal itu jadi jadi persoalan.

Chivu menyebut skuadnya memiliki banyak pemimpin di lapangan. Lebih lanjut, ia menekankan mentalitas, konsistensi, dan keberanian telah menjadi fondasi utama Inter musim ini.

"Kami memiliki banyak pemimpin. Siapa pun yang melangkah ke lapangan merasa bertanggung jawab," tambahnya. 

"Semua orang telah melakukannya dengan baik, mereka merasa terlibat dan percaya diri, dan mereka tahu kontribusi mereka sangat penting," jelas Chivu.

Inter Milan rata-rata mencetak lebih dari dua gol per laga di musim ini. Berdasarkan data statistik FBref, mereka telah mencetak total 62 gol dari 26 pertandingan liga.

Sementara di Liga Champions, tim asuhan Cristian Chivu ini memiliki rata-rata 1,78 gol per laga dengan total 16 gol dari 9 pertandingan.

Menariknya, Inter berpeluang mencatat sejarah baru. Jika mampu menang dengan selisih tiga gol atau lebih, itu akan menjadi kemenangan terbesar mereka di fase gugur Liga Champions sepanjang sejarah klub.

Sebuah tantangan besar, tetapi bukan sesuatu yang mustahil bagi Inter Milan yang tengah dalam momentum positif.

Chivu juga mengingatkan agar anak asuhnya tidak bermain dengan rasa panik. Menurutnya, laga bisa berjalan hingga 120 menit atau bahkan adu penalti. 

Kuncinya adalah menjaga keseimbangan, tetap percaya diri, dan tampil sebagai versi terbaik sejak menit pertama.

"Kami memperbaiki kesalahan dari leg pertama, tetapi konteksnya tidak biasa – lapangan yang tidak biasa kami lakukan, takut cedera."

"Anda selalu mempersiapkan pertandingan sejak awal dengan cara yang sama: dengan keberanian, kesadaran, dan kejelasan." 

"Kami harus siap sejak awal, tanpa keputusasaan untuk segera mencetak gol. Kami harus mengelola momen-momen penting dengan baik dan mengandalkan kekuatan yang terus ditunjukkan grup ini," jelasnya.

Kalau Kalah Tak Perlu Malu

Dalam konferensi pers jelang laga, Cristian Chivu mendapat pertanyaan dari media Norwegia, tentang apakah Inter harus merasa malu jika tersingkir oleh klub dari kota kecil berpenduduk 50 ribu jiwa.

Pelatih 45 tahun ini pun menunjukkan sisi emosionalnya dan bahkan sedikit tersulut amarahnya.

Ia menegaskan, jika Inter gagal lolos ke 16 besar, itu bukan aib.

Pada leg pertama di Norwegia, Inter sudah berusaha menjadi versi terbaiknya, hanya saja lawan tampil lebih efektif.

"Tidak ada yang memalukan dalam sepak bola," tegas Chivu.

Ia bahkan menilai pertanyaan itu sebagai bentuk ketidakrespekan terhadap Inter.

Menurutnya, sepak bola adalah soal kerja keras dan proses dari dua tim yang sama-sama layak dihargai.

Bodo/Glimt, kata dia, sudah membuktikan kualitasnya dengan hasil-hasil impresif di Eropa, termasuk melawan tim besar seperti Manchester City dan Atletico Madrid.

"Kami menghormati mereka dan memberi selamat. Tapi kami tidak merasa malu," ujarnya tegas.

Kini, semuanya kembali ke rumput San Siro. Inter tertinggal dua gol, tetapi kepercayaan diri sang pelatih menunjukkan satu hal: Nerazzurri belum menyerah—dan mereka siap membalikkan keadaan.

(Tribunnews.com/Tio)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.