Sebut Jenderal dan Nama Kapolda, Pria Mengamuk dan Hajar Tiga Pegawai SPBU Pulogadung
M Zulkodri February 24, 2026 04:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Tiga pegawai SPBU di Jalan Bekasi Timur Raya, Kelurahan Cipinang, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, menjadi korban dugaan penganiayaan oleh seorang pria yang disebut-sebut sebagai oknum anggota Polri.

Peristiwa itu terjadi pada Minggu, 22 Februari 2026, sekitar pukul 22.25 WIB dan kini tengah ditangani aparat kepolisian.

Insiden bermula saat sebuah mobil mewah mendatangi SPBU untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite.

Operator SPBU, Lukman Hakim (19), yang saat itu bertugas, melakukan prosedur standar dengan memindai barcode Pertamina sebagai syarat pengisian BBM subsidi.

Namun, saat proses pemindaian dilakukan, Lukman menemukan adanya ketidaksesuaian antara data yang muncul di mesin Electronic Data Capture (EDC) dengan kendaraan yang berada di depannya.

Berdasarkan data sistem, nomor polisi yang terdaftar merujuk pada kendaraan jenis Kijang. Sementara mobil yang hendak mengisi BBM merupakan jenis Alphard.

“Mobil yang ada di data barcode untuk pelat nomor itu jenis Kijang. Sementara mobil yang saat kejadian semacam Alphard,” ujar Lukman, Selasa (24/2/2026).

Karena data tidak sesuai, Lukman menyampaikan bahwa kendaraan tersebut tidak dapat dilayani untuk pengisian Pertalite.

Ia kemudian mengarahkan agar pengemudi atau penumpang kendaraan beralih menggunakan BBM non-subsidi jenis Pertamax.

Penjelasan tersebut justru memicu emosi pria yang disebut sebagai penumpang mobil.

Menurut keterangan korban dan saksi, pelaku membentak serta mengeluarkan pernyataan intimidatif.

Ia berulang kali menyebut bahwa mobil yang digunakan adalah milik seorang jenderal dan menyebut jabatan Kapolda.

“Dia bilang, ‘Kamu tahu nggak ini barcode-nya Jenderal? Kamu nggak tahu ini barcode Jenderal? Barcode Jenderal, barcode Kapolda,’ berulang kali,” kata Lukman.

Ucapan tersebut membuat Lukman merasa terintimidasi.

Ia mengaku khawatir karena pelaku bertubuh besar dan takut jika pria tersebut membawa senjata api.

Dijelaskan Semakin Membabi buta

Situasi semakin memanas ketika staf SPBU lainnya, Khairul Anam, mencoba memberikan penjelasan tambahan mengenai prosedur pengisian BBM subsidi.

Bukannya mereda, pelaku justru semakin agresif.

Ia menarik kerah baju Khairul hingga robek, menyeretnya ke bagian depan kendaraan, lalu menamparnya.

Tak berhenti di situ, Lukman juga menjadi sasaran pemukulan di bagian rahang kanan.

Sementara Abud Mahbudin (28), operator lain yang berupaya melerai, mengalami pemukulan lebih parah.

Ia dipukul sebanyak tiga kali hingga satu gigi depannya patah.

“Bang Abud yang paling parah. Dia dipukul sampai gigi depannya patah. Jadi dia itu membabi buta,” tutur Lukman.

Menurut saksi, di dalam mobil terdapat sopir dan seorang penumpang perempuan yang sempat menegur pelaku.

Namun keduanya tidak terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.

Dalam kondisi terdesak, Lukman sempat melarikan diri ke arah mess pegawai.

Pelaku tetap mengejarnya hingga terjadi aksi kejar-kejaran di sekitar area SPBU.

Karena takut situasi semakin membahayakan, Lukman akhirnya berlari menuju Polsek Pulogadung yang lokasinya berada tepat di seberang SPBU untuk meminta bantuan.

Saat kembali ke lokasi bersama petugas, pelaku sudah tidak berada di tempat kejadian.

“Pas balik ke sini bareng petugas untuk nyari orang itu, ternyata orang itu sudah pulang. Sudah balik lagi ke rumah, enggak tahu pulang ke mana dia,” ujar Lukman.

Ketiga korban kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Pulogadung.

Kasus ini kini dalam penyelidikan Unit Reskrim Polsek Pulogadung.

Kapolsek Pulogadung, Kompol Suroto, membenarkan adanya laporan tersebut.

Namun ia menyatakan pihaknya masih mendalami identitas pelaku serta dugaan keterlibatan oknum anggota Polri. “Masih progres penyelidikan,” kata Suroto.

Nopol sama Mobil tak Sesuai

Staf SPBU lainnya, Mukhlisin (38), juga menguatkan kronologi kejadian.

Ia menjelaskan bahwa meskipun barcode terdaftar, kendaraan yang digunakan tidak sesuai dengan data di sistem.

“Nomor barcode-nya sesuai, tapi mobilnya tidak sesuai dengan gambar di mesin EDC. Peraturannya nopol sama mobil harus sesuai,” jelasnya.

Menurut Mukhlisin, petugas sudah menjalankan prosedur sesuai aturan. Penolakan pengisian BBM subsidi dilakukan karena sistem tidak mengizinkan akibat ketidaksesuaian data. Namun penjelasan tersebut justru berujung pada tindakan kekerasan.

Dugaan bahwa pelaku merupakan anggota Polri muncul karena pelaku sendiri menyebut-nyebut mobil jenderal dan jabatan Kapolda saat membentak petugas.

Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian mengenai status pelaku. Saat kejadian, pelaku mengenakan pakaian sipil dan kendaraan yang digunakan bukan kendaraan dinas.

Upaya konfirmasi juga dilakukan kepada Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budhi Hermanto.

Namun ia belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut karena proses penyelidikan masih berlangsung. “Mohon waktu ya,” ujarnya singkat.

Kasus ini menjadi perhatian publik karena menyangkut dugaan penyalahgunaan fasilitas BBM subsidi serta tindakan kekerasan terhadap petugas pelayanan publik.

Sistem barcode sendiri diterapkan untuk memastikan BBM subsidi tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh kendaraan yang tidak berhak.

Saat ini, polisi masih mengumpulkan keterangan saksi dan memeriksa bukti, termasuk rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi.

Aparat berjanji akan mengusut kasus ini secara profesional dan transparan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.