Banjir Datang Lagi, BPBD Bali Catat 350 Orang Dievakuasi, 39 Titik di Denpasar Terendam Banjir
Putu Dewi Adi Damayanthi February 25, 2026 07:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Bencana banjir datang lagi dan meredam sejumlah titik di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. 

Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kota Denpasar dan Badung sejak Minggu hingga Selasa (22-24 Februari 2026) mengakibatkan banjir.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, banjir melanda 51 titik di wilayah Provinsi Bali. 

Kota Denpasar tercatat paling banyak dilanda banjir dengan sebanyak 39 titik. Kabupaten Badung tercatat sebanyak 12 titik terendam banjir.

Baca juga: Banjir Lumpuhkan Wilayah Kuta dan Legian, Hector Benavides Heran Bali Dilanda Banjir

Sekretaris BPBD Kota Denpasar, Anak Agung Surya Kencana mengatakan Sanur menjadi lokasi terbanyak terendam banjir. 

Adapun wilayah Sanur yang terdampak yakni jalan by Pass Ngurah Rai No. 259, air mencapai ketinggian selutut orang dewasa. 

Kondisi genangan juga terpantau di sepanjang Jalan Sekuta Gang Mangga dan Gang Agung, Jalan Pungutan (Gang Jasmin/Starling Villa), Jalan Pengiasan Gang III (dekat Danau Tempe), Jalan Bumi Ayu, serta Jalan Muktisari No. 4.

“Di kawasan pemukiman lainnya, genangan air merendam rumah warga di Jalan Tukad Balian (Gang Babakan Sari), Jalan Tukad Nyali (Gang V), Jalan Tukad Pancoran (Gang 4), Jalan Tukad Bilok (Gang Sekumpul), dan Jalan Tukad Petanu (Gang Nuri),” paparnya.

Selain itu, Kawasan Sidakarya dan Sesetan menyasar Jalan Kerta Dalem Sari (Gang Kayu Santen dan Gang 4), Jalan Raya Sesetan (Gang Pantusari dan Gang Mali-Mali), serta Jalan Batur Sari (Br. Betngandang). 

Di kawasan Jalan Danau Tondano juga terjadi genangan di Gang Potlot dan Gang Tegeh Agung.

Di wilayah Denpasar Barat banjir terjadi di Jalan Pulau Ayu Selatan, khususnya di Gang I, Jalan Pulau Saelus II meliputi Gang Kenanga dan Gang Mawar. 

Lalu Jalan Pulau Demak, dampak genangan dilaporkan merata dari Gang 1, 2, 3, hingga Gang 4.

Kawasan Pemogan, meliputi Jalan Taman Pancing Timur (Gang Lestari), Jalan Mekar 2 (Blok A12), serta perumahan di Jalan Kepaon Indah (Blok C, Banjar Taruna Bineka). Jalan Imam Bonjol, genangan air juga masuk ke Perum Padmayana (Blok C).

Di Denpasar Utara dan Timur beberapa titik di wilayah utara dan timur juga tidak luput dari dampak cuaca ekstrem ini, di antaranya Jalan Tegal Wangi (Gang Tegal Jaya), Jalan Antasura (Gang Tunjung). Jalan Akasia 16 (Gang Pudak), Jalan Gunung Sampang. 

Selain itu, laporan kerusakan berupa tanggul sungai yang jebol di Jalan Siulan, Gang Lely No. 88.

Hal ini memicu aliran air yang lebih deras masuk ke area pemukiman di sekitarnya. 

Untuk pohon tumbang terjadi di tiga titik yakni Jalan Sekar Sari gang 4. Br Batursari, Jalan Tunjung Sari No.3, dan Jalan Cempaka Biru no27.

Sebanyak 33 orang dievakuasi di kawasan Jalan Gurita Denpasar. Mereka dievakuasi karena ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa. 

Dari jumlah tersebut terdiri atas 15 anak-anak, 4 bayi dan balita, serta sisanya orang dewasa termasuk lansia. Proses evakuasi dilakukan BPBD Kota Denpasar bersama TNI AL.

Salah seorang warga yang anaknya ikut dievakuasi, Made Nana (38) menuturkan dirinya terbangun pukul 03.00 Wita karena teriakan tetangga. 

“Tetangga saya teriak banjir banjir, dan saat itu air sudah masuk kamar tapi masih datar-datar saja,” ungkapnya.

Namun sekitar satu jam berikutnya, air telah setinggi lutut orang dewasa. Ketika suasana terang, air mencapai pinggang orang dewasa. 

“Kasur sudah basah, kulkas terendam. Beberapa barang saya taruh di atas,” kata perempuan yang tinggal berempat bersama anak, suami dan mertua.

Seorang warga lain, Yanto (32) menuturkan air sudah mulai naik pukul 01.00 Wita. Kemudian pukul 03.00 Wita warga mulai mengungsi mandiri. 

“Saya tinggal di Gang III, air setinggi pinggang. Ini yang paling besar selama 17 tahun saya tinggal di sini,” ungkapnya.

Air pun telah masuk rumah dan merendam barang-barang miliknya di dalam kamar. 

“Motor saya juga tenggelam. Sudah saya isi batako dua tumpuk tetap kena. Dari jam tiga saya mengungsi,” imbuhnya.

Ia pun menyebut pada 10 September 2025 wilayah ini sempat terendam banjir. Akan tetapi tak separah saat ini.

Koordinator TSC BPBD Kota Denpasar, I Gusti Ketut Kartika Udayana memaparkan, timnya melakukan evakuasi warga di tiga titik. 

“Ada di Jalan Bumi Ayu, Jalan Pungutan Sanur, dan di Jalan Gurita ini,” paparnya.

“Banyak yang memilih bertahan di rumah saat kami evakuasi. Untuk kedalaman air bervariasi, paling tinggi sepinggang yang paling Tengah,” paparnya.

Selain itu, banjir juga merendam kawasan pariwisata di Jalan Bumi Ayu, Kelurahan Sanur. 

Sejumlah warga negara asing (WNA) yang menginap di vila dan hotel di kawasan tersebut terpaksa dievakuasi menggunakan perahu karet. 

Sebagian lainnya memilih keluar dengan berjalan kaki menerobos genangan air.

Kawasan terdampak mencakup dua banjar, yakni Banjar Windu Kelod dan Banjar Batu Jimbar dengan ketinggian banjir mencapai sepinggan orang dewasa.  

Wilayah ini dikenal sebagai kantong akomodasi wisata, dengan deretan vila, hotel, dan restoran yang banyak dihuni wisatawan mancanegara.

Salah seorang warga, Nyoman Wena, 56, mengatakan banjir mulai naik sekitar pukul 02.00 Wita setelah hujan deras mengguyur selama tiga hari berturut-turut tanpa jeda panjang. 

“Mulai setengah dua dinihari air naik. Biasanya cepat surut, tapi ini tiga hari hujan tidak hilang-hilang. Di sini komplek wisatawan semua,” ujarnya.

Menurutnya, kawasan tersebut merupakan kawasan cekungan karena ada Pura Telaga sehingga kerap menjadi titik genangan saat hujan deras. 

“Setiap hujan pasti banjir, tapi ini paling parah. Ini pertama kali sampai masuk ke rumah,” katanya.

Ia menambahkan, petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) sempat turun membantu warga yang terdampak. 

Ke depan, ia berharap ada solusi jangka panjang seperti penambahan sistem resapan air atau evaluasi fungsi embung di kawasan Sanur.

Kata dia, dampak banjir dirasakan pelaku usaha pariwisata. Sejumlah tamu memilih meninggalkan penginapan lebih awal. 

Bahkan ada yang meminta pengembalian uang (refund) karena tidak nyaman menginap di tengah genangan.

BPBD Provinsi Bali melaporkan upaya penanganan dampak cuaca ekstrem Selasa 24 Februari 2026 dengan update pukul 18.00 Wita. 

BPBD Bali mencatat kejadian sebanyak 90 titik dengan rincian, banjir sebanyak 51 titik, tanah longsor sebanyak 5 titik, tanggul jebol 1 titik, angin puting beliung 1 titik, pohon tumbang 27 titik, dan senderan jebol 4 titik.

Dari 90 titik kejadian tersebar di Kabupaten/Kota yaitu, Denpasar sebanyak 46 titik dengan rincian 39 titik banjir, 3 titik pohon tumbang, 1 titik tanggul jebol, 1 titik angin puting beliung, 1 titik tanah longsor, 1 senderan jebol. 

Kabupaten Badung dengan 14 titik terinci 12 titik banjir dan 2 titik pohon tumbang. 

Kabupaten Karangasem sebanyak 12 titik dengan rincian 10 titik pohon tumbang, 3 senderan jebol.

Kemudian Kabupaten Gianyar sebanyak 6 titik dengan rincian 4 titik pohon tumbang, 1 titik tanah longsor, dan 1 titik banjir.

Kabupaten Buleleng dengan 4 titik terinci 2 titik pohon tumbang dan 2 titik tanah longsor, Kabupaten Tabanan sebanyak 5 titik dengan rincian 2 titik pohon tumbang, 2 titik banjir, dan 1 titik tanah longsor. 

Kemudian Kabupaten Klungkung 2 titik pohon tumbang, dan Kabupaten Jembrana 1 titik pohon tumbang.

Sementara itu, dampak bencana alam BPBD Bali mencatat nihil korban jiwa, korban luka dan korban mengungsi. 

Sebanyak 350 orang evakuasi sementara sudah kembali ke tempat masing-masing. Sedangkan bangunan yang terdampak sedang pendataan.

Diungkapkan curah hujan rata-rata dua hari terakhir 120 mm/hari. Sedangkan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) peringatan dini hujan pada Rabu 25 Februari 2026 adalah WASPADA : Bangli, Buleleng Jembrana, Karangasem. 

Sedangkan SIAGA untuk Kabupaten Badung, Denpasar, Tabanan, Gianyar, Klungkung.

Dan Peringatan Dini Angin Kencang untuk wilayah Kota Denpasar, Badung, Buleleng, Karangasem, Klungkung, Gianyar. (sup/sar/ian)

Sekolah Terapkan Pembelajaran Daring

Banjir tak hanya merendam pemukiman warga di Kota Denpasar, namun juga merendam sekolah pada Selasa 24 Februari 2026. 

Akibatnya beberapa siswa SD dan SMP harus belajar daring di rumah masing-masing.

Satu di antaranya SDN 4 Sanur, di Desa Sanur Kauh, Kota Denpasar yang dilanda banjir setinggi paha orang dewasa. 

Kondisi ini memaksa siswa belajar daring di rumah masing-masing. 

Tak hanya area sekolah, jalan di depan sekolah yakni Jalan Betngandang I juga terendam hingga sepaha orang dewasa. 

Air juga telah merendam kawasan tersebut hingga masuk ke rumah kamar warga.

Salah seorang guru di SDN 4 Sanur, Putu Febriasa Suryanata mengatakan 576 siswa dari kelas I hingga kelas VI terdampak. 

Sementara beberapa guru hadir di sekolah untuk menyelamatkan dokumen atau buku yang tempatnya agak rendah. 

“Air di depan sekolah juga tinggi, jadi sulit masuk ke sekolah, apalagi untuk siswa. Jadi untuk keselamatan, sekolah membuat kebijakan belajar daring,” kata guru Agama Hindu ini.

Ia pun mengaku belum tahu sampai kapan air akan menggenangi halaman sekolah dan ruang kelas. 

Pasalnya hingga pagi hujan masih tetap turun disertai dengan angin yang cukup kencang. 

“Kami juga tidak tahu sampai kapan niki hujannya akan berhenti. Jadi itu langkah terbaik kami untuk anak-anak sembari menunggu airnya surut,” paparnya.

Tak hanya merendam ruang kelas, ruang guru juga ikut terendam air. Dirinya menyebut, sebelumnya air belum pernah setinggi ini merendam sekolah. 

“Kejadian seperti ini memang sering, tapi ini yang paling parah sampai sepaha. Biasanya paling tinggi selutut,” ujarnya.

Siswa dipulangkan lebih awal juga bukan yang pertama saat ini. Beberapa waktu sebelumnya siswa juga pernah dipulangkan karena banjir.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, AA Gede Wiratama mengatakan, sebanyak tiga SMP di Denpasar menggelar pembelajaran daring. 

“Ada tiga SMP yang daring. SMPN 16, SMPN 6 dan SMPN 13 Denpasar,” katanya.

Ia mengatakan, halaman sekolah yang terendam membuat pembelajaran terpaksa digelar daring. 

Karena pembelajaran di sekolah tak memungkinkan untuk digelar. 

Selain itu, ada beberapa SD juga yang terdampak banjir sehingga digelar pembelajaran daring. 

Beberapa SD tersebut seperti SDN 4 Sanur, SDN 1 Sanur, SDN 10 Sanur, dan SDN 6 Panjer. Total terdapat 23 SD yang terdampak hujan, baik banjir mau pun bocor.

Berdasarkan data Disdikpora Denpasar, SD di wilayah Sesetan, Sanur, dan Dauh Puri menjadi titik terdampak banjir paling parah. 

Di Sesetan, SDN 13, SDN 2, dan SDN 18 terpaksa menerapkan sistem daring karena area sekolah terendam. 

Langkah serupa juga diambil oleh SDN 1 Sanur, SDN 3 Sanur, SDN 4 Sanur, SDN 10 Sanur, dan SDN 6 Panjer di mana akses menuju lokasi sekolah dilaporkan tidak dapat dilalui akibat genangan air.

Selain kendala banjir, cuaca ekstrem juga memicu kerusakan infrastruktur di sejumlah gedung sekolah.  

Tercatat 10 sekolah melaporkan adanya kebocoran atap dan plafon jebol.  

Kerusakan bangunan ini cukup merata di beberapa titik, di antaranya SDN 10 Pemecutan dan SDN 9 Pedungan yang melaporkan kondisi plafon jebol.

Sementara itu, wilayah Padangsambian mencatatkan jumlah sekolah terdampak kebocoran terbanyak, meliputi SDN 1, SDN 3, SDN 5, dan SDN 11. 

Beberapa sekolah lain yang juga melaporkan kerusakan fasilitas akibat rembesan air dan kebocoran antara lain SDN 7 Sumerta, SDN 9 Kesiman, SDN 2 Dangin Puri, SDN 10 Peguyangan, serta SDN 12 Dauh Puri.

Hal serupa dilakukan Disdikpora Kabupaten Badung yang juga mengeluarkan imbauan kepada seluruh satuan pendidikan agar meningkatkan kewaspadaan. 

Disdik mengimbau sekolah agar memberlakukan pembelajaran daring apabila kondisi cuaca dinilai membahayakan.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Badung, Rai Twistyanti Raharja mengakui, jika sejumlah sekolah di beberapa kecamatan telah mengambil langkah antisipatif dengan memulangkan siswa lebih awal. 

Bahkan jika cuaca ekstrem tetap berlanjut dihimbau melanjutkan proses pembelajaran secara daring dari rumah.

Menurut Rai, kebijakan tersebut merupakan bentuk respons cepat terhadap kondisi cuaca ekstrem yang dalam beberapa hari terakhir memicu genangan hingga banjir di sejumlah titik, serta meningkatkan risiko pohon tumbang dan gangguan keselamatan lainnya di lingkungan sekolah. 

Selain itu di beberapa wilayah juga lumpuh karena terjadi banjir seperti di wilayah Kuta. 

“Jadi kita antisipasi. Kita berikan kewenangan kepada satuan pendidikan untuk keamanan siswa,” bebernya.

Dia menegaskan bahwa keputusan untuk menerapkan pembelajaran daring sepenuhnya berada pada kewenangan masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan warga sekolah, kondisi lingkungan sekitar, serta aksesibilitas siswa.

“Keputusan pembelajaran daring ini ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, serta memperhatikan kondisi riil di lapangan,” ujarnya.

Rai menambahkan, penerapan pembelajaran daring diharapkan dilakukan secara proporsional dan tidak membebani siswa. 

Sekolah juga diminta memperhatikan keterjangkauan perangkat pembelajaran serta kestabilan jaringan internet, sehingga hak peserta didik untuk memperoleh layanan pendidikan tetap terpenuhi tanpa menimbulkan kesenjangan.

“Keselamatan adalah prioritas utama. Namun di sisi lain, proses pembelajaran harus tetap berjalan. Karena itu pelaksanaannya harus fleksibel, adaptif, dan tetap memperhatikan kemampuan siswa dalam mengakses pembelajaran daring,” ucapnya.

Berdasarkan laporan yang diterima Disdikpora, sejumlah sekolah di Kecamatan Mengwi hingga Kuta Selatan telah menerapkan kebijakan tersebut. 

Para siswa dipulangkan lebih awal, sekitar pukul 11.00 Wita, untuk melanjutkan kegiatan belajar dari rumah.

Selain itu, terdapat sekolah yang terdampak genangan dan banjir, khususnya di kawasan Kuta, Seminyak, dan Tuban. 

Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu keselamatan dan kenyamanan proses belajar mengajar apabila tetap dilaksanakan secara tatap muka. 

“Kalau dipaksa juga tidak bisa dilaksanakan disekolah, karena belajar butuh kenyamanan. Tetap dalam situasi ini kita utamakan keselamatan,” bebernya.

Lebih lanjut pihaknya juga mengimbau seluruh kepala sekolah agar terus memantau perkembangan cuaca, berkoordinasi dengan pihak terkait, serta memastikan jalur evakuasi dan sarana prasarana sekolah dalam kondisi aman. 

Langkah mitigasi dini dinilai penting untuk meminimalisir risiko apabila terjadi cuaca ekstrem susulan. 

“Pada intinya pembelajaran daring, tegasnya, diberlakukan secara situasional dengan menyesuaikan perkembangan kondisi cuaca di masing-masing wilayah sekolah,” imbuhnya. (sup/gus)

Gubernur Koster Imbau Masyarakat Berhati-hati

Hujan deras beserta angin kencang menerjang wilayah Bali. Akibatnya sejumlah bencana di antara banjir, pohon tumbang, dan tanah longsor melanda di sejumlah wilayah Bali.

Gubernur Bali, Wayan Koster angkat bicara ketika ditemui di agenda Penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Kerjasama Pemenuhan Hak Administrasi Kependudukan bagi Anak Terlantar di Provinsi Bali di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Selasa 24 Februari 2026.

“Banjir sedang di atasi oleh Kepala BPBD, karena dari Sabtu yang lalu hujannya tak henti dari pagi sampai malam, dari malam sampai pagi,” jelas Koster.

Lebih lanjut Koster mengatakan belum membuka posko bencana sebab bencana banjir masih ditangani BPBD Provinsi Bali serta Kabupaten/Kota. Ia pun mengingatkan kembali alat deteksi dini untuk banjir. 

“BPBD sudah memasang alat untuk deteksi dini. Kalau memang ada hal yang rawan itu ada ini, ada sirene yang berbunyi untuk penanganan darurat,” imbuhnya.

Koster mengimbau pada masyarakat agar lebih berhati-hati saat bepergian. 

“Kalau enggak perlu sekali hindari bepergian yang jauh, apalagi ada jalur atau daerah akan melewati rawan banjir,” sambungnya.

Komandan Kodim 1611/Badung, Kolonel Inf Putu Tangkas menginstruksikan seluruh jajaran Danramil dan Babinsa untuk segera terjun ke lapangan guna memitigasi dampak bencana.

Danramil 1611-07/Denpasar Barat, Mayor Cke I Made Oka Widianta, bersama personel Babinsa memimpin langsung membantu evakuasi warga dan mendorong motor pengendara yang terjebak di tengah banjir. 

Pihaknya mengimbau para pengguna jalan untuk sementara waktu menghindari jalur-jalur yang tergenang parah.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat bagi yang melintasi Jalan Gunung Salak, kami mengharapkan mencari jalan alternatif lain karena di sepanjang jalan ini genangan air cukup tinggi,” kata Mayor Oka.

“Jika tidak ada keperluan yang sangat mendesak, mohon jangan keluar rumah demi keselamatan,” imbuhnya.

Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan seperti menghindari berteduh di bawah pohon besar untuk menghindari risiko pohon tumbang akibat angin kencang. 

Mematikan aliran listrik dan amankan barang berharga jika air mulai memasuki area bangunan dan segera lapor kepada aparat terdekat jika terjadi kondisi darurat yang memerlukan evakuasi. (sar/ian)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.