TRIBUNNEWSMAKER.COM - Nama Dwi Sasetyaningtyas, yang akrab disapa Tyas, mendadak menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Serangkaian unggahannya di media sosial memicu kontroversi yang meluas dan memancing beragam reaksi.
Sebagai mantan penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), setiap pernyataannya tak luput dari sorotan. Polemik bermula ketika ia memamerkan paspor Inggris milik anak keduanya.
Unggahan tersebut disertai komentar yang dianggap sensitif terkait kewarganegaraan. Tyas secara terang-terangan mengungkapkan harapannya agar anak-anaknya tidak berstatus WNI.
"Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan," tulisnya melalui akun Instagram pribadinya.
Alih-alih mendapat simpati, pernyataan itu justru memantik kritik tajam. Banyak warganet mempertanyakan sikapnya sebagai alumni beasiswa yang dibiayai dari pajak rakyat.
Tyas berdalih bahwa ucapannya lahir dari rasa kecewa terhadap pemerintah. Namun publik menilai ada persoalan etika yang tak bisa diabaikan.
Kontroversi ini kemudian melebar ke ranah lain. Jejak digital masa lalunya kembali diungkit, termasuk kisah hubungan keluarga dan latar belakang kehidupannya.
Salah satu cerita yang kembali ramai dibahas adalah pengakuannya tentang kenangan pahit bersama almarhum ayahnya. Kisah itu ia bagikan secara emosional di media sosial.
Tyas menceritakan momen ketika pulang dari Belanda dalam kondisi hamil empat bulan. Ia mengaku sangat ingin menyantap sushi saat itu.
Namun keinginannya justru mendapat respons keras dari sang ayah. Teguran tersebut bahkan ia tuliskan ulang dalam unggahannya.
Baca juga: Respon Dwi Sasetyaningtyas Usai Pernyataan Menkeu Purbaya soal LPDP, Merasa Tersindir: Jangan Fitnah
"Susha sushi terosss, panganan mentah ngono ae lapo seh dituku, larang pisan, gak usah! (Sushi terus, makanan mentah gitu aja kenapa sih dibeli, mahal sekali, tidak usah!)," tulis Tyas menirukan teguran tersebut.
Menurut pengakuannya, ia hanya bisa terdiam dan menunduk di dalam mobil. Peristiwa itu membekas kuat dalam ingatannya.
Padahal, Tyas mengaku berniat mentraktir keluarga besar karena jarang pulang ke Indonesia. Ia merasa momen kebersamaan itu seharusnya menjadi kesempatan berbagi.
Ia juga menegaskan bahwa penolakan tersebut bukan dipicu masalah ekonomi. Dalam tulisannya, ia menyiratkan bahwa sang ayah sebenarnya mampu.
"Padahal aku JARANG BANGET PULANG. Padahal aku tau bapakku punya uang. Padahal aku mau traktir bayarin sekeluarga," lanjutnya dalam unggahan itu.
Cerita-cerita pribadi itulah yang kini kembali menjadi bagian dari pusaran kontroversi yang mengelilingi nama Tyas.
Terkait kondisi finansial sang ayah, Tyas sendiri pernah mengungkap profesi almarhum dalam sebuah wawancara lawas pada tahun 2019.
Ia menyebut ayahnya adalah seorang profesional di bidang keuangan dengan posisi yang cukup mapan.
"Papa saya adalah seorang Financial Manager, apa-apanya dihitung," ujarnya.
Baca juga: Terbongkar Pemasok Sekoper Narkoba ke Eks Kapolres Bima AKBP Didik, Sudah Pakai Narkotika Sejak 2019
Ia juga mengenang bagaimana sang ayah kerap melatih kemampuan bahasa Inggrisnya dengan menyuruhnya berinteraksi langsung dengan turis asing saat mereka sedang bepergian ke luar kota.
Namun, narasi yang berbeda muncul dalam unggahan Tyas di platform Threads.
Saat berinteraksi dengan netizen, ia justru menggambarkan masa lalunya yang jauh dari kesan mewah.
Tyas menyebut bahwa orang tuanya dulu tinggal di rumah kontrakan yang berlokasi di dalam gang sempit yang tidak terdeteksi oleh peta digital.
Ia menambahkan bahwa kondisi ekonomi keluarganya baru membaik setelah orang tuanya mampu mencicil rumah tapak yang hingga kini menjadi tempat mereka mudik.
Sorotan publik semakin tajam setelah terungkap bahwa Tyas merupakan menantu dari seorang mantan pejabat di Kementerian Pertanian (Kementan).
Fakta ini semakin memperkeruh suasana, terutama ketika dikaitkan dengan kesanggupan suaminya untuk mengembalikan dana beasiswa LPDP yang nilainya ditaksir mencapai Rp2,5 miliar.
(TribunNewsmaker.com/ TribunnewsBogor)