Kritik Pernyataan Dwi Sasetyaningtyas, Ketua Komnas HAM : Jangan Menyinggung Perasaan Masyarakat
Moch Krisna February 25, 2026 09:32 AM

 




TRIBUNSUMSEL.COM --
Polemik kasus alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Dwi Sasetyaningtyas turut disorot Komnas HAM RI.

Adapu ketua Komnas HAM RI, Anis Hidayah turut memberikan komentar terkait hal tersebut.

Menurutnya, memilih kewarganegaraan merupakan bagian dari hak setiap individu yang dijamin dalam prinsip hak asasi manusia.

Meski demikian, ia mengingatkan agar penyampaian sikap atau pilihan tersebut dilakukan secara hati-hati.

Mengingat yang bersangkutan merupakan alumni penerima beasiswa LPDP.

Menurutnya, penggunaan diksi di ruang publik seharusnya dipertimbangkan agar tak menyinggung perasaan masyarakat.

Sebab, dana LPDP berasal dari uang publik.

 

REKAM JEJAK- Dwi Sasetyaningtyas ternyata bukan kali ini saja membuat kontroversi. Ia pernah bersiteru dengan artis Sarah Sechan tepat dua bulan lalu pada Desember
REKAM JEJAK- Dwi Sasetyaningtyas ternyata bukan kali ini saja membuat kontroversi. Ia pernah bersiteru dengan artis Sarah Sechan tepat dua bulan lalu pada Desember (Instagram/Sasetyaningtyasdwi)

 

Sebelumnya, Dwi Sasetyaningtyas alias DS, awardee Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menuai sorotan tajam setelah pamer dengan bangga anaknya mendapatkan paspor menjadi warga negara Inggris/British Citizen.

Kontroversi bermula dari unggahan video Dwi Sasetyaningtyas yang memperlihatkan surat resmi dari Home Office Inggris mengenai status kewarganegaraan anak keduanya.

Terlebih yang memicu gelombang kritikan keras berakar dari pernyataan Tyas sapaan akrabnya, yang seloroh menyebut "cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan".

Pernyataan Tyas yang memicu perbincangan publik tersebut turut menyeret nama suaminya yang diketahui juga merupakan penerima beasiswa LPDP.

LPDP bahkan angkat bicara menyebutkan, suami Tyas, Arya Iwantoro diduga belum menyelesaikan kewajiban kontribusinya setelah menyelesaikan studi.

Netizen kemudian banyak yang geram, merasa konten tersebut kurang bijak dilontarkan seorang awardee LPDP. 

Tyas, sapaan akrabnya, adalah Sarjana di Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia lanjut studi S2 di Delft University of Technology, Belanda mengambil jurusan Sustainable Energy Technology. 
Beasiswa LPDP itu didapatkannya untuk studi di tahun 2015 dan lulus tahun 2017.

Tyas juga sudah berada di Indonesia mulai tahun 2017-2023.

Selama menunaikan kewajiban sebagai awardee, Tyas menginisasi penanaman 10 ribu pohon bakau di berbagai pesisir pantai di Indonesia. 

Dia mewadahi ibu rumah tangga untuk bisa berpenghasilan dari rumah serta turut andil dalam penanggulangan bencana Sumatra hingga membangun sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).
 
Ia adalah founder dari @sustaination @ceritakompos @bisnisbaikclub. Selama ini ia juga vokal mengkritisi pemerintah.

Namun kembalinya Tyas ke Inggris karena mendampingi suami yang bekerja sebagai konsultan periset atau Senior Research Consultant di University of Plymouth.

Terkait kalimat Tyas, ia menjelaskan bahwa hal itu pelampiasan rasa kesal sebagai WNI.

Tetapi banyak netizen menilai, Tyas melontarkan komentar tersebut seolah merendahkan status warga Indonesia. 

Masalah ini semakin membesar dengan caranya membalas komentar netizen juga tidak bijak.

Tyas kembali membuat konten dan menjelaskan alasannya membuat konten paspor anak WNA. 

"Ungkapan cukup aku aja yang WNI anakku jangan adalah bentuk rasa kecewa, marah, kesalku sebagai WNI terhadap kebijakan pemerintah yang tidak PRO RAKYAT. Jujur, kalo aku sih capek jadi WNI. Tapi sebagai penerima beasiswa UANG RAKYAT, sudah seharusnya aku menyuarakan kepentingan rakyat," tulisnya dalam konten yang ia bagikan di Instagram.

Seorang netizen kemudian membagikan fakta bahwa suami Dwi, Arya  yang diketahui ternyata penerima beasiswa LPDP.

Hal itu diketahui dari tulisan Arya  di dalam tesisnya yang menyebutkan berterima kasih kepada pembiayaan LPDP. Informasi akan tesis AP ini terbuka, bisa diakses publik.

Sementara sebelumnya, Dwi mengaku suaminya bukan penerima beasiswa LPDP.

Netizen kembali meradang dengan pengakuan yang berbeda ini. 

Tak berhenti disitu, warganet kembali memanas setelah mengetahui identitas ayah Arya terungkap ke publik. 

Sosok tersebut adalah Syukur Iwantoro, seorang mantan pejabat tinggi di Kementerian Pertanian (Kementan) yang rekam jejaknya pernah bersinggungan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Temuan ini mencuat setelah seorang warganet melakukan penelusuran mendalam dan menemukan kejanggalan pada narasi “hidup susah” yang sempat disampaikan oleh Dwi Sasetyaningtyas. 

“Mba Sasetyaningtyas bilang dia dan suami itu hidup susah dulu,” tulis akun @birkindust_di Thread pada Kamis, 19 Februari 2026, yang kemudian mengungkap identitas asli ayah mertua Tyas.

Warganet kemudian menyoroti dugaan kewajiban pengabdian awardee LPDP yang dikenal dengan aturan 2N+1.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.