Ibu Kandung NS Santri Diduga Dianiaya Ibu Tiri Laporkan Eks Suami, Bongkar Tabiat Dulu Sering KDRT
Weni Wahyuny February 25, 2026 12:01 PM

TRIBUNSUMSEL.COM - Lisnawati, ibu kandung dari NS (12), resmi menempuh jalur hukum terkait kematian putranya diduga dianiaya ibu tirinya.

Didampingi kuasa hukumnya, Lisnawati melaporkan mantan suaminya, Anwar Satibi dan ibu tiri korban, TR ke Polres Sukabumi pada Selasa (24/2/2026).

Langkah ini diambil karena pihak keluarga mencium adanya kejanggalan di balik peristiwa yang merenggut nyawa sang anak.

"Ada kejanggalan," ucap Lisnawati singkat, dilansir dari Tribunnewsbogor.com.

Baca juga: Ratapan Anwar Ayah NS, Bocah Dianiaya Ibu Tiri Hingga Tewas, Menyesal Larang Anak Dirawat Eks Istri

Krisna Murti, kuasa hukum Lisnawati menyampaikan bahwa kleinnya melaporkan mantan suaminya atas dugaan kelalaian dan penelantaran anak.

Sementara laporan terhadap TR diarahkan pada dugaan pembunuhan berencana.
 
"Kalau kepada S (Satibi) ini kita laporkannya kelalaian, pembiaran lalu penelantaran, itu yang kita laporkan," jelas Khrisna.

Pihak kuasa hukum menilai posisi Anwar Satibi dalam kasus ini dianggap lalai dalam memberikan perlindungan terhadap NS, sehingga tragedi penganiayaan tersebut bisa terjadi hingga merenggut nyawa.

Lisnawati pun membongkar tabiat asli mantan suaminya selama mereka masih membina rumah tangga.

Ia menyebut bahwa Anwar Satibi adalah sosok yang sangat temperamental dan kerap melakukan kekerasan fisik atau KDRT terhadap dirinya, bahkan saat ia sedang mengandung NS.

"Temperamental, sering dipukul sering jambak. Waktu dalam kandungan juga (dibilang) sudahlah kamu mendingan meninggal juga," ungkap Lisnawati.

Baca juga: Curhat NS Bocah Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Ngadu ke Teman Santri Tak Tahan Orang Tua Jahat

Tak sampai di situ, Lisnawati juga membeberkan perilaku Anwar yang diduga kerap berhubungan dengan wanita lain selama mereka masih menikah.

Kecurigaan itu muncul karena Anwar seringkali pulang ke rumah dengan tanda fisik yang mencurigakan di bagian leher.

"Dulu dia memang menikah sama orang lain. Saya tanya kalau pulang ke rumah banyak cupangnya (di leher)," pungkasnya.
 
Pengakuan soal tabiat buruk di masa lalu ini kini menjadi salah satu poin yang memperkuat alasan Lisnawati melaporkan Anwar Satibi ke pihak berwajib.

Anak Curhat Orang Tua Jahat

Di balik kematian NS, korban selama ini dikenal kerap memendam sisi kelam kehidupan dengan rapat.

Sebelum meninggal dunia, bocah malang tersebut sempat mencurahkan isi hatinya kepada teman-temannya di pesantren.

Sambil menangis, NS mengaku merasa bingung dan tertekan dengan kondisi di rumahnya.

Hal itu disampaikan oleh kakek angkatnya sekaligus pengurus pesantren tempat korban menimba ilmu.

"Kemarin pun di pesantren (Nizam) sampai sempat nangis mengadu kepada temannya. 'Saya bingung mengadu ke siapa karena orang tua saya itu jahat,' katanya gitu kan, 'galak' gitu," kata H Isep, kakek angkat korban saat tampil di podcast Denny Sumargo, yang tayang Senin (23/2/2026).

Isep pun mengaku sampai menangis mendengar curhatan dari wali santri yang menjadi tempat curhat korban.

"Jadi mungkin kedua-duanya itu (tertekan) karena sering pertengkaran tentang masalah anak, masalah anak itu. Sampai titip pesan kemarin, juga ada dari Pak Ustaz ya, ada saya sampaikan begini begini begini. jadi anak itu merasa bingung ya melihat orang tua ribut terus ya." kata Isep.

"Itu dia cerita sama temannya terus sama ibu temannya di pesantren," sambungnya.

Baca juga: Sosok TR, Ibu Tiri Diduga Aniaya Anak Sambung Hingga Meninggal di Sukabumi, Pernah Dilaporkan KDRT

Korban merasa pesantren adalah satu-satunya tempat persembunyian yang aman dari kegaduhan di rumahnya.

Hal yang paling menyayat hati seolah menjadi firasat yang ditinggalkan Nizam sebelum ia pulang ke rumah dan berakhir tragis. 

Pengurus pesantren mengungkapkan bahwa Nizam sempat memberikan sarung kesayangannya kepada seorang teman.

"Dia sebelum meninggal itu sampai menitipkan sarung buat kenangan katanya. Pak Ustaz sampai menangis menceritakan ini, saya juga ikut nangis, seperti sudah ada firasat," ungkap Isep.

"Makanya saya sedih, ada apa ini anak ya sampai bikin kenang-kenangan buat temannya ngasih sarung." sambungnya.

Hingga saat ini, pihak keluarga baru mengetahui detail pesan-pesan terakhir tersebut. 

Sang ayah mengaku sangat terpukul menyadari bahwa diamnya sang anak selama ini menyimpan luka yang begitu dalam.

"Lebih sabar. Iya, dia itu beda dengan saya karakternya. Kalau saya kan frontal ya, lebih ekstrovert ya. Kalau dia lebih introvert, lebih diam gitu," kata Anwar Sabiti, ayahnya.

Meski memendam trauma, Nizam dikenal sebagai santri teladan di pesantrennya. 

"Dia murid kesayangan guru-gurunya. Adabnya sangat baik, santun. Kalau minta apa pun dan saya bilang belum ada uang, dia diam, dia mengerti," kenang ayahnya dengan suara bergetar.

Kini, kepergian NS menjadi pukulan berat bagi sang ayah yang merasa menyesal meninggalkan buah hatinya bersama ibu tirinya saat ia tengah bekerja di Sukabumi Kota.

Keluarga Tunggu Autopsi

Kasus kematian NS kini tengah menjadi perhatian publik setelah muncul dugaan kekerasan ekstrem, termasuk isu korban dipaksa meminum air panas. 

Pihak kepolisian telah melakukan autopsi dan mengumpulkan keterangan saksi, termasuk dari pihak pesantren.

Keluarga kini menunggu hasil resmi autopsi untuk membuktikan dugaan keterlibatan ibu tiri korban dalam kasus ini.

Tim forensik RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Sukabumi telah melakukan autopsi selama tiga jam. Kepala Instalasi Forensik, Kombes dr. Carles Siagian, menyatakan ditemukan luka bakar di lengan, kaki, punggung, hingga luka permanen di area bibir dan hidung.

"Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar. Namun, luka-luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian," ujar dr. Carles, Jumat (20/2/2026), dilansir dari Kompas.com.

Kejanggalan ditemukan pada organ dalam, di mana paru-paru korban tampak membengkak.

Hingga saat ini, sampel organ telah dikirim ke Jakarta untuk uji laboratorium toksikologi guna mencari jejak zat tertentu atau penyakit bawaan.

Pemeriksaan sampel itu juga memerlukan waktu sekitar 5 hingga 7 hari.

Ibu Tiri Bantah Aniaya

Di tengah penyelidikan kepolisian, ibu tiri korban berinisial TR (47) akhirnya angkat bicara dan membantah segala tudingan kekerasan yang dialamatkan kepadanya.

TR mengaku telah merawat NS sejak korban duduk di bangku kelas 3 SD.

Ia merasa terpukul dengan kepergian sang anak, namun di sisi lain merasa diperlakukan tidak adil oleh opini publik.

 "Saya berharap semoga ada kemukjizatan dari yang Mahakuasa karena bukan seperti ini yang saya harapkan, dan tidak sekejam itu seperti yang dituduhkan oleh para netizen," kata TR dalam keterangan voice-nya saat dihubungi Kompas.com via WhatsApp, Sabtu (21/2/2026) malam.

TR mengeklaim bahwa luka melepuh yang ada pada beberapa bagian tubuh NS disebabkan akibat panas yang melanda NS.

"Terkait penyiraman yang kaya gitu, itu tidak benar dan tidak ada, jujur itu kalaupun ada kulit yang melepuh (pada NS), itu faktor dari panas dalam gitu, terus akibat (ada dugaan penyakit yang diderita NS), jadi tidak ada yang namanya penyiraman air panas, ataupun minum air panas tidak pernah ada, saya tidak kejam seperti yang dituduhkan netizen," lanjut TR.

Terkait proses hukum yang sedang berjalan, TR mengaku hanya bisa berserah diri kepada Tuhan.

Ia berpendapat bahwa keadilan di dunia bisa direkayasa, berbeda dengan hukum Tuhan.

"Saya pasrah saja, Allah yang Maha Tahu. Aturan negara atau aturan manusia kan bisa diubah, bisa dibuat-buat. Kalau aturan Allah tidak. Saya berharap kebenaran segera diperlihatkan," tuturnya.

TR juga meminta agar kasus ini tidak diperpanjang karena ia meyakini kematian NS adalah murni takdir.

"Toh anak saya sudah hilang, sudah tidak ada. Apa dengan diautopsi atau diviralkan ada keuntungan buat saya? Jangan sampai ada yang merasa dirugikan, apalagi sampai ada yang menjadi korban pidana ini itu. Tidak ada (pembunuhan), ini takdirnya," pungkas TR.

Polisi Periksa 16 Saksi dan Bukti Medis

Sementara itu, jajaran Polres Sukabumi terus melakukan pendalaman untuk mengungkap fakta di balik luka-luka tak wajar pada tubuh korban.

Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, menegaskan pihaknya bekerja secara profesional berdasarkan pembuktian ilmiah (scientific crime investigation).

"Saat ini total 16 saksi telah kami mintai keterangan secara mendalam. Saksi-saksi tersebut mencakup keluarga, saksi yang melihat kondisi TKP, hingga saksi ahli dari tenaga medis atau dokter yang menangani korban," kata AKBP Samian, Sabtu (21/2/2026) malam.

Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, memaparkan bahwa hasil visum sementara menunjukkan kondisi korban yang memprihatinkan.

Ditemukan berbagai luka mulai dari wajah hingga kaki.

"Hasil visum menunjukkan adanya luka lecet di beberapa bagian wajah, leher, hingga anggota gerak. Selain itu, ditemukan luka bakar derajat 2A di beberapa titik tubuh dan lebam merah keunguan yang mengindikasikan adanya trauma tumpul," jelas Hartono.

Hingga saat ini, polisi masih menunggu hasil laboratorium Patologi Anatomi dan Toksikologi Forensik terhadap sampel organ dalam korban untuk menentukan penyebab pasti kematian.

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.