Motif Bripda Pirman Aniaya Juniornya Bripda Dirja Pratama Hingga Tewas di Asrama Polda Sulsel
Moch Krisna February 25, 2026 12:01 PM

 

TRIBUNSUMSEL.COM - Kematian Bripda Dirja Pratama alias Bripda DP (19) yang semula dilaporkan karena membentur-benturkan kepalanya sendiri terpatahkan.

Bripda Dirja tewas diduga setelah dianiaya seniornya di asrama Ditsamapta Polda Sulsel, tempat korban dan tersangka tinggal dan berdinas di Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Minggu (22/2/2026) pagi.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto, menyesalkan tindakan kekerasan tersangka Bripda Pirma yang mengakibatkan juniornya Bripda Dirja Pratama meninggal dunia.

Baca juga: Tampang Bripda Masias Brimob di Maluku Resmi Dipecat usai Aniaya Siswa hingga Tewas, Menunduk

Didik mengungkapkan, motif sementara Bripda P menganiaya Bripda DP didasari motif pembinaan kedisiplinan.

"Hasil pemeriksaan sampai dengan sekarang karena alasan pembinaan Senior Yunior," tegas Kombes Pol Didik Supranoto dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/2/2026) malam, dilansir dari Tribunsulsel.com.

Menurutnya, alasan pembinaan Bripda Pirman memukul Bripda DP hingga merenggang nyawa, tidak dapat dibenarkan.

"Pembinaan dengan kekerasan tidak dibenarkan dalam bentuk apapun," katanya.

Sejatinya, lanjut Didik, pembinaan senior terhadap juniornya haruslah konstruktif.

"Karena pembinaan senior yunior harus bersifat membangun (membangun, disiplin, membangun fisik dan hirarki terhadap senior) bukan menyiksa atau bentuk lain yang menyengsarakan," jelasnya.

Saat ditanya pasal yang disangkakan terhadap Bripda P selalu penganiaya Bripda DP, Didik mengaku akan menginformasi lebih lanjut.

"Nanti saya tanyakan lagi ke propam ya," tuturnya.

Bripda P telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan yang menewaskan juniornya, Minggu (22/2/2026).

Peristiwa itu terjadi di asrama Ditsamapta Polda Sulsel, tempat keduanya tinggal dan berdinas.

Bripda P merupakan lulusan Bintara Polri 2024, sementara korban Bripda DP adalah lulusan 2025. Setelah lulus, keduanya ditempatkan di Ditsamapta Polda Sulsel.

Baca juga: Genggam Tangan Kapolda Sulsel, Tangis Pilu Ibu Bripda Dirja usai Anak Tewas Diduga Dianiaya Senior

Ditsamapta bertugas menyelenggarakan fungsi kepolisian umum, meliputi Turjawali (pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli), pengamanan unjuk rasa, pengendalian massa (Dalmas), hingga bantuan satwa. Satuan ini menjadi garda terdepan dalam pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Kematian Bripda DP menggemparkan penghuni asrama yang berada di belakang Markas Polda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.

Korban sempat dirawat di RSUD Daya sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Jenazah kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk dilakukan autopsi.

Kapolda Sulsel, Djuhandhani Rahardjo Puro, menghadiri pemakaman Bripda DP di Kabupaten Pinrang, Senin (23/2/2026).

Usai pemakaman, ia menggelar konferensi pers di Mapolres Pinrang dan mengumumkan bahwa korban meninggal akibat dianiaya seniornya.

Menurutnya, penetapan tersangka dilakukan setelah ditemukan kesesuaian antara keterangan pelaku dan hasil pemeriksaan medis oleh Biddokkes.

“Kesesuaian itu dari keterangan memukul bagian kepala korban dan bagian tubuh lainnya, ini sudah sinkron,” ujarnya.

 

Sempat Dilaporkan Benturkan Kepala

Kematian Bripda DP sempat dilaporkan karena membentur-benturkan kepalanya sendiri, seolah mengarah pada tindakan bunuh diri.

Namun saat Polda Sulsel mendalami kasus itu, terungkap Bripda DP tewas ditangan seniornya Bripda Pirman.

Bripda Pirman bahkan sempat menemani korban saat dirawat di rumah sakit.

Dari foto yang diterima Reporter Tribun-Timur.com, Rachmat Ariadi, Selasa (24/2/2026), Bripda Pirman terlihat duduk jongkok bersandar menemani Bripda DP yang terbaring sedang dirawat.

Raut wajahnya bak dipenuhi penyesalan.

Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro mengatakan, laporan awal yang diterima Bid Propam menyebut korban meninggal akibat membentur-benturkan kepalanya sendiri ke tembok asrama.

Namun, hasil pemeriksaan tidak mendukung informasi tersebut.

"Laporan awal yang kami terima yang bersangkutan meninggal karena membentur-benturkan kepala. Namun kita tidak percaya begitu saja. Apa yang disampaikan oleh anggota bahwa dia membentur-benturkan kepalanya itu tidak benar," katanya kepada awak media di Mapolres Pinrang usai melayat ke rumah Bripda DP, Senin (23/2/2026).

Proses pembuktian kemudian dilakukan melalui pemeriksaan ilmiah oleh tim kedokteran dan forensik kepolisian.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tim Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes), terdapat persesuaian antara keterangan tersangka Bripda Pirman dengan bukti fisik yang ditemukan berupa luka pukulan di bagian kepala dan badan korban.

"Keterangan saudara P dihubungkan dengan hasil pemeriksaan Biddokkes menunjukkan adanya persesuaian, baik dari luka pukulan di bagian kepala maupun bagian tubuh lainnya. Ini sudah sinkron," ungkapnya.

Pihak kepolisian kini tengah memproses lebih lanjut kasus ini untuk memberikan kepastian hukum.

Djuhandhani menyebut ada lima anggota yang saat ini masih dalam proses pemeriksaan intensif.

Salah satu di antaranya diketahui merupakan rekan satu angkatan korban.

Meski demikian, Kapolda menekankan pentingnya asas praduga tak bersalah dan pemenuhan bukti materiil sebelum menetapkan status hukum mereka.

"Dari lima ini anggota semua, ada satu teman angkatan. Keterlibatan mereka masih kami dalami, kalau orang tidak bersalah kita tidak boleh hukum. Tadi malam kita sudah lakukan konstruksi ulang," jelasnya.

 

6 Polisi Diperiksa

Ayah Bripda DP, Aipda Muhammad Jabir mengatakan, hasil koordinasi sementara dengan Bid Propam Polda Sulsel, ada enam orang polisi yang diperiksa.

Keenam orang itu, adalah teman seangkatan dan senior Bripda DP.

"Sudah ada diperiksa di Polda sekarang, tiga, lettingnya juga dipanggil semua," ujar Aipda Muhammad Jabir ditemui di depan Ruang Forensik Dokpol Biddokkes Polda Sulsel.

"Lettingnya tiga orang dan seniornya juga tiga orang," lanjutnya.

Personel Polres Pinrang ini pun berharap, agar penyelidikan penyebab kematian Bripda DP diungkap transparan.

Sementara, Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto mengatakan, dugaan sementara meninggalnya Bripda DP diduga karena sakit.

Namun demikian, lanjut Didik, penyelidikan masih dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti meninggalnya DP.

"Iya ada anggota Bripda DP selesai shalat shubuh terlihat sakit, kemudian dibawa ke RSUD Makassar (RS Daya), setelah dilakukan perawatan meninggal dunia," kata Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto kepada tribun.

"Sementara permasalahan masih dilakukan proses pemeriksaan/pendalaman lebih lanjut, perkembangan akan kami sampaikan," lanjutnya.

Sementara itu, Kabid Propam Polda Sulsel, Zulham Effendy, memastikan penyelidikan dilakukan secara profesional dan terbuka.

“Kita Bid Propam mendalami, makanya jenazah dibawa ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan lebih lanjut, baik visum luar maupun visum dalam,” jelasnya.

Ia menegaskan, jika ditemukan adanya kekerasan atau peristiwa mencurigakan, pihaknya akan menindak tegas sesuai aturan.

“Kalau memang ada kejadian di luar dari kejadian umum atau mencurigakan, atau kekerasan di situ kita akan luruskan,” tegasnya.

Kini, nasib enam anggota tersebut bergantung pada hasil autopsi dan pendalaman Propam.

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.