TRIBUNJABAR.ID - Curhatan terakhir NS (13), anak yang tewas diduga dianiaya ibu tiri di Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, dibongkar teman di pesantren.
Rupanya NS sempat memberikan sarung pada temannya seolah firasat bahwa dirinya tak akan kembali ke pesantren. NS memberikan sarung pada temannya sebagai kenang-kenangan
Bahkan NS pernah mengungkapkan keluh kesah mengenai kondisi rumahnya, korban bahkan sampai menangis pada ibu temannya.
Baca juga: Babak Baru Kasus Bocah Tewas Minum Air Panas di Sukabumi: Surat Dimulai Penyidikan Keluar
Pada temannya, NS bercerita bahwa dirinya tinggal di pesantren karena ayah dan ibu tirinya di rumah selalu ribut.
Sang ibu tiri pun pernah menganiayanya setahun yang lalu.
Kondisi di rumah membuatnya lebih betah tinggal di pesantren, namun NS terpaksa pulang karena semua santri pulang ke rumah mendekati bulan Ramadan.
Sayangnya, kepulangannya jadi malapetaka bagi bocah 13 tahun tersebut. NS dibawa ke rumah sakit setelah tubuhnya melepuh. NS pun meninggal dunia dihari kedua puasa Ramadhan 2026.
Sebelum dibawa ke rumah sakit, NS sempat mengusap pipi sang ayah, Anwar Satibi, sambil meminta maaf.
Ayah angkat Anwar Satibi, Isep Mahesa, mengungkapkan, kata-kata maaf dari NS seakan jadi curahan hati yang bocah itu pendam selama ini.
"Ya mungkin merasa gimana ya, mengesalkan orangtua mungkin," kata Isep dikutip dari Youtube Denny Sumargo, Selasa (24/2/2026).
Isep mengungkapkan, rupanya bukan cuma ibu tiri yang galak dan sering memarahi NS, tetapi ayahnya juga.
Menurut Isep, ayah NS merupakan sosok yang temperamental.
Baca juga: Kasus Bocah Tewas Penuh Luka di Jampangkulon, DP3A Sukabumi Pastikan Pendampingan Proses Hukum
"Karena mungkin ini (Anwar) juga kan sering marah sama anak. Mungkin anak juga merasa banyak salah mungkin ya. Padahal yang salah orangtuanya dalam mendidik," tuturnya.
Isep Mahesa membongkar, NS sempat mengadu hingga menangis ke temannya di pesantren.
NS bercerita bahwa ayah dan ibu tirinya jahat dan galak.
"Kemarin pun di pesantren, sampe sempet nangis mengadu kepada temannya, 'saya bingung mengadu ke siapa, karena orangtua saya itu jahat' katanya, 'galak'," tutur Isep.
NS pun sempat menyampaikan pesan-pesan sebelum meninggalkan pesantren.
NS bahkan sampai menitip pesan ke ustaz di pesantrennya.
Tak hanya pada teman dan ustaznya, NS pun sampai bercerita pada ibu temannya. Videonya pun sudah dikirimkan ke polisi.
Pesan-pesan yang dititipkan NS seakan jadi firasat kalau dirinya akan mengalami petaka.
"Bahkan sampai meninggalkan sarung, jadi ngasih sarung, ada apa itu, ke temannya. Sebelum meninggal itu sampai ngasih sarung, buat kenangan katanya.Saya ada videonya, saya dikirim dari Pak ustaz, makanya pak ustaz nangis. Saya juga ikut nangis," ucap Isep lagi.
Isep mengaku, pesan-pesan hingga curhatan NS di pesantren belum ia ceritakan pada Anwar, namun semua bukti sudah diserahkan ke polisi.
Baca juga: Update Kasus Bocah Tewas Penuh Luka di Sukabumi: Ibu Tiri Diperiksa, Kuasa Hukum Beri Penjelasan
"Sebetulnya ini orangtuanya soal kejadian di pesantren sebelum meninggal, ngasih sarung, ngasih pesan-pesan, ayahnya ini belum tahu ya. Sampai saat ini belum saya kasih tahu. Jadi obrolan saya dengan guru di pesantren. Makanya saya sedih, ada apa ini anak. Sampai bikin kenang-kenangan ngasih sarung," tuturnya.