Beda dengan Tyas, Pria Ini Buktikan Integritas LPDP, Tolak Tawaran Kerja di AS untuk Bangun Papua
jonisetiawan February 25, 2026 12:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah banyaknya kisah talenta Indonesia yang berkarier di luar negeri, langkah Medelky Anouw justru bergerak ke arah sebaliknya.

Lulusan Magister Kimia dari Arizona State University ini memilih kembali ke Tanah Air dan mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Papua.

Padahal, kesempatan berkarier di Amerika Serikat sempat terbuka lebar. Deky sapaan akrabnya hampir memperoleh posisi sebagai guru sains di New Jersey.

Ia juga mengejar sejumlah peluang kerja lain di luar negeri yang menjanjikan masa depan profesional yang mapan.

Namun sebuah momen perenungan mengubah arah hidupnya.

Baca juga: Gegara Kasus Tyas LPDP, Alyssa Soebandono Cuci Tangan dari Daftar Artis Penerima Beasiswa Negara

Malam Perubahan Arah Hidup

Suatu malam, saat masih menjadi asisten pengajar di Arizona State University, Deky tengah memeriksa laporan laboratorium digital dengan fasilitas canggih. Di tengah aktivitas itu, pikirannya melayang pada kondisi kampung halamannya di Papua.

Kontras yang tajam itu menyentaknya. Di satu sisi, ia menyaksikan laboratorium modern dan sumber daya melimpah.

Di sisi lain, ia teringat sekolah-sekolah di Papua yang berdiri tanpa guru tetap, laboratorium yang sangat terbatas, serta siswa-siswa yang kekurangan sarana belajar dasar.

“Pada saat itu, saya menyadari di mana saya benar-benar dibutuhkan,” ucapnya, dikutip dari laman Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Keputusan pun diambil: ia pulang.

Alumni LPDP
Alumni LPDP Medelky Anouw, lulusan S2 Kimia dari Arizona State University, memilih kembali ke Tanah Air dan menjadi PNS di Papua meski sempat hampir berkarier di Amerika Serikat. (Ist)

Mengabdi sebagai PNS di Papua Tengah

Kini Deky mengemban tugas sebagai PNS di Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah. Ia menjabat sebagai Pelaksana Tugas Kepala Seksi Pembiayaan Pendidikan.

Tanggung jawabnya bukan sekadar administratif. Ia mengawasi program pembiayaan pendidikan yang menopang ribuan siswa, termasuk skema beasiswa dan kemitraan dengan perguruan tinggi.

Deky juga terlibat dalam pengawasan Program Sekolah Sepanjang Hari yang mengintegrasikan pembelajaran formal, pembentukan karakter, dan kegiatan ekstrakurikuler.

Ia turut memprioritaskan pengembangan sekolah berasrama terpadu bagi siswa SD hingga SMA, khususnya bagi Orang Asli Papua (OAP).

Program-program tersebut menjangkau wilayah terpencil dan daerah rawan konflik seperti Puncak, Intan Jaya, dan Puncak Jaya.

“Ada sekolah-sekolah yang sudah tidak beroperasi selama bertahun-tahun karena masalah keamanan,” jelasnya.

“Namun masyarakat terus berharap agar anak-anak mereka tetap mendapatkan pendidikan.”

Baca juga: DPR Ingatkan Menkeu Purbaya: Jangan Asal Blacklist Tyas Alumnus LPDP Tanpa Dasar Hukum yang Kuat!

Guru yang Tumbuh dari Keterbatasan

Sebelum menjadi awardee LPDP, Deky adalah guru di sekolah swasta di Papua. Ketertarikannya pada bidang STEM membawanya dipercaya mengajar Kimia.

Ia menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa. Ubi jalar, wortel, dan hasil kebun setempat menjadi media belajar untuk menjelaskan konsep ilmiah.

“Kami mulai dengan apa yang sudah mereka ketahui,” katanya.

Pendekatan itu lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Ia tumbuh dalam keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan. Namun orang tuanya meyakini bahwa pendidikan adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik.

“Ayah saya sangat mendukung pendidikan kami,” kenangnya.

“Setelah bekerja, beliau akan mengajari kami membaca, menulis, dan berhitung.”

Fondasi itulah yang membuatnya menjadi orang pertama di keluarganya yang menyelesaikan pendidikan sarjana dan pascasarjana.

Ketika sang ayah meninggal saat ia masih kuliah, pamannya mengambil peran memberi dukungan agar studinya tetap berlanjut.

Perjuangan Menuju Arizona

Keinginan memperdalam ilmu membawanya melamar beasiswa LPDP setelah mendapat informasi dari media sosial dan pengumuman Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Papua.

Prosesnya panjang dan penuh tantangan. Ia menjalani persiapan bahasa Inggris selama sembilan bulan. Setelah enam bulan, nilai IELTS-nya belum memenuhi syarat.

“Yang terpenting adalah tidak menyerah,” tegasnya.

Ia memperpanjang masa persiapan tiga bulan lagi hingga akhirnya berhasil memenuhi standar dan berangkat ke Arizona State University.

Di sana, jalur akademiknya sempat bergeser ke Geokimia Organik Hidrotermal akibat pandemi, tetapi justru membawanya pada pengalaman laboratorium kelas dunia dan budaya akademik yang mendorong pemikiran kritis.

Baca juga: DPR Endus Kelemahan Seleksi LPDP yang Berujung pada Munculnya Alumnus Anti-WNI Seperti Tyas & Suami

Tidak Pernah Menyesal Pulang

Ketika ditanya apakah ia menyesal memilih kembali ke Papua ketimbang berkarier di luar negeri, jawabannya selalu tegas: tidak.

“Kembali ke Papua adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat,” ujarnya.

Baginya, tujuan kini sangat jelas: memastikan dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, anak-anak Papua dapat tumbuh menjadi versi terbaik diri mereka.

“Jika saya dapat berkontribusi, meskipun dalam skala kecil, untuk masa depan anak-anak ini, itu sudah merupakan kehormatan terbesar bagi saya. Ini bukan tentang nilai finansial, tetapi tentang dampak yang berarti.”

Membangun Fondasi Pendidikan Kontekstual

Sebelum bergabung dengan pemerintah, Deky turut mendirikan Yayasan Pusat Sains Papua, yang memperkenalkan pendidikan matematika dan sains berbasis konteks lokal.

Kini gagasan tersebut berkembang hingga level kebijakan. Ia berkontribusi dalam pengembangan kurikulum sains kontekstual dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti buah merah dan terong Belanda untuk menjelaskan konsep kimia, termasuk reaksi asam-basa.

Di sela tugasnya, ia kerap melakukan kunjungan lapangan dan bertemu anak-anak yang berjalan tanpa alas kaki melintasi pegunungan demi bersekolah di fasilitas yang minim. Pemandangan itu terus menguatkan tekadnya untuk tetap mengabdi di tanah kelahiran.

Kisah Medelky Anouw menjadi potret bahwa beasiswa bukan sekadar tiket menuju dunia, melainkan juga jalan pulang untuk membangun negeri.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.