Ibu Tiri yang Aniaya Santri 12 Tahun di Sukabumi jadi Tersangka, Berdalih Didik Anak
Weni Wahyuny February 25, 2026 03:01 PM

TRIBUNSUMSEL.COM - Polres Sukabumi menetapkan ibu tiri, TR (47) dari NS (13) sebagai tersangka dalam dugaan penganiayaan yang berujung pada kematian korban.

Kepala Kepolisian Polres Sukabumi, AKBP Samian, membenarkan bahwa kini TR sudah berstatus sebagai tersangka dalam penganiayaan terhadap NS. 

"Terkait perkara meninggalnya anak dengan kekerasan di Polres Sukabumi, Sat Reskrim sudah menetapkan tersangka saudari TR yang merupakan ibu tiri. Terhadap TR sudah kami tetapkan tersangka atas dugaan kekerasan, baik fisik atau psikis," kata Samian saat ditemui awak media di Mapolres Sukabumi, Rabu (25/2/2026) siang, dikutip Kompas.com

Samian menerangkan bahwa pihaknya masih mendalami motif TR dalam melakukan kekerasan itu, tetapi sebagai orang tua TR berdalih untuk mendidik anak.

Lanjut Samian, dari hasil pemeriksaan, TR juga melakukan penganiayaan terhadap NS pada tahun 2024 lalu.

Baca juga: Ibu Kandung NS Santri Diduga Dianiaya Ibu Tiri Laporkan Eks Suami, Bongkar Tabiat Dulu Sering KDRT

Hal itu dibuktikan dengan adanya laporan dari ayah NS mengenai penganiayaan yang dilakukan TR terhadap anaknya, tetapi hal itu diselesaikan secara mediasi. 

"Penganiayaan yang diberikan oleh korban anak NS ini sudah terjadi beberapa tahun lalu, seperti di tanggal 4 November 2024 itu pernah terjadi laporan. Laporan itu sudah kami proses dan ada perdamaian itu, akan kami dalami lagi. (Untuk motif) masih kami dalami karena ini sebagai orangtua berdalih mendidik anaknya," ucap Samian.

Tunggu Hasil Lab 

Saat ditanya mengenai penyebab kematian NS, Samian berujar bahwa pihaknya masih menunggu hasil laboratorium dari sampel korban yang telah diambil saat otopsi pada Jumat (20/2/2026) lalu. 

"Kemudian kami juga sedang menunggu hasil uji patologi anatomi dan juga toksikologi. Kami masih menunggu karena memang untuk pengecekan laboratorium itu butuh waktu sehingga kita sama-sama menunggu, sabar," ucap Samian.

Tersangka Lain 

Samian menegaskan bahwa pihaknya juga masih mendalami apakah ada tersangka lain dalam kasus tersebut atau tidak.

"Masih kami dalami untuk (tersangka) lain (apakah ada atau tidak). Namun, kami masih fokus mendalami daripada unsur-unsur perkenankan daripada pasal-pasal yang mana bisa kami perkuat,” tutup Samian.

Sebelumnya, NS bocah di Bojongsari Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, meninggal dengan penuh luka di sekujur tubuhnya. 

Dari video viral yang beredar, korban diduga mendapatkan tindakan penganiayaan dari ibu tirinya.

Hasil otopsi yang dilakukan pada Jumat (20/2/2026) menunjukkan bahwa pada korban terdapat luka bakar di sekujur tubuh, lengan, kaki, paha, tangan serta punggung.

Selain itu, luka pada korban juga terdapat juga di area bibir dan hidung, yang diduga karena luka bakar. 

Dari luka tersebut, dokter forensik belum bisa memastikan apakah hal itu terjadi karena penganiayaan atau bukan. 

Namun, ada dugaan terkena panas yang kemudian menyebabkan luka bakar.

Kini, tim dokter forensik masih menunggu hasil laboratorium dari sampel paru-paru dan jantung milik korban yang dibawa ke laboratorium. 

Pemeriksaan sampel itu juga memerlukan waktu sekitar 5 hingga 7 hari.

Korban Curhat Orang Tua Jahat

Di balik kematian NS, korban selama ini dikenal kerap memendam sisi kelam kehidupan dengan rapat.

Sebelum meninggal dunia, bocah malang tersebut sempat mencurahkan isi hatinya kepada teman-temannya di pesantren.

Sambil menangis, NS mengaku merasa bingung dan tertekan dengan kondisi di rumahnya.

Hal itu disampaikan oleh kakek angkatnya sekaligus pengurus pesantren tempat korban menimba ilmu.

"Kemarin pun di pesantren (Nizam) sampai sempat nangis mengadu kepada temannya. 'Saya bingung mengadu ke siapa karena orang tua saya itu jahat,' katanya gitu kan, 'galak' gitu," kata H Isep, kakek angkat korban saat tampil di podcast Denny Sumargo, yang tayang Senin (23/2/2026).

Isep pun mengaku sampai menangis mendengar curhatan dari wali santri yang menjadi tempat curhat korban.

"Jadi mungkin kedua-duanya itu (tertekan) karena sering pertengkaran tentang masalah anak, masalah anak itu. Sampai titip pesan kemarin, juga ada dari Pak Ustaz ya, ada saya sampaikan begini begini begini. jadi anak itu merasa bingung ya melihat orang tua ribut terus ya." kata Isep.

"Itu dia cerita sama temannya terus sama ibu temannya di pesantren," sambungnya.

Korban merasa pesantren adalah satu-satunya tempat persembunyian yang aman dari kegaduhan di rumahnya.

Hal yang paling menyayat hati seolah menjadi firasat yang ditinggalkan Nizam sebelum ia pulang ke rumah dan berakhir tragis. 

Pengurus pesantren mengungkapkan bahwa Nizam sempat memberikan sarung kesayangannya kepada seorang teman.

"Dia sebelum meninggal itu sampai menitipkan sarung buat kenangan katanya. Pak Ustaz sampai menangis menceritakan ini, saya juga ikut nangis, seperti sudah ada firasat," ungkap Isep.

"Makanya saya sedih, ada apa ini anak ya sampai bikin kenang-kenangan buat temannya ngasih sarung." sambungnya.

Hingga saat ini, pihak keluarga baru mengetahui detail pesan-pesan terakhir tersebut. 

Sang ayah mengaku sangat terpukul menyadari bahwa diamnya sang anak selama ini menyimpan luka yang begitu dalam.

"Lebih sabar. Iya, dia itu beda dengan saya karakternya. Kalau saya kan frontal ya, lebih ekstrovert ya. Kalau dia lebih introvert, lebih diam gitu," kata Anwar Sabiti, ayahnya.

Meski memendam trauma, Nizam dikenal sebagai santri teladan di pesantrennya. 

"Dia murid kesayangan guru-gurunya. Adabnya sangat baik, santun. Kalau minta apa pun dan saya bilang belum ada uang, dia diam, dia mengerti," kenang ayahnya dengan suara bergetar.

Kini, kepergian NS menjadi pukulan berat bagi sang ayah yang merasa menyesal meninggalkan buah hatinya bersama ibu tirinya saat ia tengah bekerja di Sukabumi Kota.

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.