Harga BBM Terbaru 25 Februari 2026, Pertamax Turun, Segini di Bangka Belitung 
Rusaidah February 25, 2026 03:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Berikut daftar harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina terbaru per 25 Februari 2026 di SPBU seluruh wilayah Indonesia.

Mengetahui harga BBM penting bagi masyarakat terutama bagi pengendara untuk mengisi BBM di kendaraannya.

Di bulan Februari 2026 ini Pertamina melakukan penyesuaian harga.

Jelang akhir Februari, beberapa harga BBM terdapat mengalami penurunan harga.

Lantas seberapa besar penurunan harga BBM?

Misalnya di Jawa Barat, harga Pertamax hingga Dexlite turun harga.

Baca juga: Selang 3 Hari, Rumah Dua Bos Timah di Toboali Digeledah Bareskrim, Satunya Kabur Diburu Polisi

Diketahui kenaikan atau penurunan harga BBM tersebut mengacu pada tren harga rata-rata minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Kebijakan penyesuaian harga BBM ini juga atas kewenangan Pertamina dan pemerintah.

Untuk memastikan apakah ada perubahan harga, Anda bisa mengecek update daftar harga BBM terkini secara berkala.

Selain itu, harga BBM ini bisa beda-beda di setiap wilayah di Indonesia.

Lalu, bagaimana harga BBM hari ini di Provinsi Bangka Belitung?

Berikut simak update daftar harga BBM Pertamina terbaru untuk seluruh Indonesia pada hari ini Rabu 25 Februari 2026, dilansir dari mypertamina.id.

1. Provinsi Aceh
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Dexlite: Rp12.350
Pertamina Dex: Rp13.800
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

2. Free Trade Zone (FTZ) Sabang
Pertamax: Rp11.100
Dexlite: Rp12.350
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

3. Provinsi Sumatera Utara
Pertamax: Rp13.000
Pertamax Turbo: Rp12.100
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp 13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

4. Provinsi Sumatera Barat
Pertamax: Rp12.400
Pertamax Turbo: Rp13.250
Pertamina Dex: Rp14.100
Dexlite: Rp13.850
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

5. Provinsi Riau
Pertamax: Rp12.400
Pertamax Turbo: Rp13.250
Pertamina Dex: Rp14.100
Dexlite: Rp13.850
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

6. Provinsi Kepulauan Riau
Pertamax: Rp12.400
Pertamax Turbo: Rp13.250
Pertamina Dex: Rp14.100
Dexlite: Rp13.850
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

7. Free Trade Zone (FTZ) Batam
Pertamax: Rp11.300
Pertamax Turbo: Rp12.050
Pertamina Dex: Rp12.800
Dexlite: Rp12.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

8. Provinsi Jambi
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp 13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

Baca juga: Modus Licik Bobi Simpan Ekstasi dan Sabu di Kotak Parfum Terbongkar, Ribuan Pil Ditaksir Rp1 Miliar

9. Provinsi Bengkulu
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

10. Provinsi Sumatera Selatan
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

11. Provinsi Bangka Belitung
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

12. Provinsi Lampung
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

13. Provinsi DKI Jakarta
Pertamax: Rp11.800
Pertamax Turbo: Rp12.700
Pertamax Green: Rp12.450
Pertamina Dex: Rp13.500
Dexlite: Rp13.250
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

14. Provinsi Banten
Pertamax: Rp11.800
Pertamax Turbo: Rp12.700
Pertamax Green: Rp12.450
Pertamina Dex: Rp13.500
Dexlite: Rp13.250
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

15. Provinsi Jawa Barat
Pertamax: Rp11.800
Pertamax Turbo: Rp12.700
Pertamax Green: Rp12.450
Pertamina Dex: Rp13.500
Dexlite: Rp13.250
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

16. Provinsi Jawa Tengah
Pertamax: Rp11.800
Pertamax Turbo: Rp12.700
Pertamax Green: Rp12.450
Pertamina Dex: Rp13.500
Dexlite: Rp13.250
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

17. Provinsi DI Yogyakarta
Pertamax: Rp11.800
Pertamax Turbo: Rp12.700
Pertamax Green: Rp12.450
Pertamina Dex: Rp13.500
Dexlite: Rp13.250
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

18. Provinsi Jawa Timur
Pertamax: Rp11.800
Pertamax Turbo: Rp12.700
Pertamax Green: Rp12.450
Pertamina Dex: Rp13.500
Dexlite: Rp13.250
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

Baca juga: Batal Makan Nasu Palekko Buatan Ibu Usai Temuan Memar, Bripda DP Anak Polisi Tewas Dianiaya Senior

19. Provinsi Bali
Pertamax: Rp11.800
Pertamax Turbo: Rp12.700
Pertamina Dex: Rp13.500
Dexlite: Rp13.250
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

20. Provinsi Nusa Tenggara Barat
Pertamax: Rp11.800
Pertamax Turbo: Rp12.700
Pertamina Dex: Rp13.500
Dexlite: Rp13.250
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

21. Provinsi Nusa Tenggara Timur
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

22. Provinsi Kalimantan Barat
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp14.100
Dexlite: Rp13.850
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

23. Provinsi Kalimantan Tengah
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.800
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

24. Provinsi Kalimantan Selatan
Pertamax: Rp12.400
Pertamax Turbo: Rp13.250
Pertamina Dex: Rp14.100
Dexlite: Rp13.850
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

25. Provinsi Kalimantan Timur
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.800
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

26. Provinsi Kalimantan Utara
Pertamax: Rp12.400
Pertamax Turbo: Rp13.250
Pertamina Dex: Rp14.100
Dexlite: Rp13.850
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

27. Provinsi Sulawesi Utara
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.800
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

28. Provinsi Gorontalo
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.800
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

29. Provinsi Sulawesi Tengah
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.800
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

30. Provinsi Sulawesi Tenggara
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.800
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

31. Provinsi Sulawesi Selatan
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.800
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

32. Provinsi Sulawesi Barat
Pertamax: Rp12.100
Pertamax Turbo: Rp13.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.800
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

33. Provinsi Maluku
Pertamax: Rp12.650
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

34. Provinsi Maluku Utara
Pertamax: Rp12.100
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

Baca juga: Sederet Aset Mentereng Bos Timah Tobali Dibekukan Basreskrim, Ford Mustang Miliaran Ikut Disegel

35. Provinsi Papua
Pertamax: Rp12.000
Pertamax Turbo: Rp13.000
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

36. Provinsi Papua Barat
Pertamax: Rp12.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

37. Provinsi Papua Selatan
Pertamax: Rp12.000
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

38. Provinsi Papua Pegunungan
Pertamax: Rp12.000
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

39. Provinsi Papua Tengah
Pertamax: Rp12.000
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

40. Provinsi Papua Barat Daya
Pertamax: Rp12.000
Pertamina Dex: Rp13.800
Dexlite: Rp13.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

Impor Migas dari Amerika Serikat Disepakati

Rencana Indonesia mengimpor minyak dan gas bumi (migas) senilai US$ 15 miliar dari Amerika Serikat (AS) memicu risiko.

Pemerintah menegaskan langkah ini hanya menggeser sumber pasokan, bukan menambah volume impor.

Namun, dalam jangka panjang, kesepakatan tersebut tetap menyisakan sejumlah risiko struktural, mulai dari kontrak pembelian hingga potensi menjauhkan agenda swasembada energi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, komitmen pembelian migas tersebut merupakan bagian dari Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Indonesia–AS.

Total nilai US$ 15 miliar itu dialokasikan untuk pembelian BBM olahan sebesar US$ 7 miliar, minyak mentah (crude oil) US$ 4,5 miliar, serta liquefied petroleum gas (LPG) US$ 3,5 miliar.

“Bukan berarti kami menambah volume impor. Namun, kami menggeser sebagian volume impor kami dari beberapa negara, di antaranya negara-negara di Asia Tenggara, Timur Tengah, maupun beberapa negara di Afrika.

Secara keseluruhan, neraca komoditas pembelian BBM kita dari luar negeri tetap sama. Hanya saja sumbernya kita geser,” ujar Bahlil melansir Kontan.

Menurutnya, mekanisme pembelian akan memperhatikan prinsip keekonomian dan saling menguntungkan.

Untuk LPG, yang selama ini impor Indonesia mencapai sekitar 7 juta ton per tahun, volume pasokan dari AS akan ditingkatkan.

Eksekusi teknis kebijakan ini diperkirakan berjalan setelah finalisasi arahan Presiden Prabowo Subianto dalam 90 hari ke depan.

Komitmen impor migas tersebut tercantum dalam Annex IV: Purchase Commitments yang dirilis Gedung Putih, sebagai bagian dari pengaturan perdagangan bilateral Indonesia–AS dengan nilai indikatif mencapai US$ 33 miliar.

Risiko Kontrak dan Tekanan Neraca

Ekonom Universitas Andalas Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menilai, dampak jangka panjang impor migas dari AS sangat ditentukan oleh desain kontrak dan tata kelola. 

Ia menilai impor bisa berdampak positif bila dijalankan sebagai substitusi pemasok dengan kontrak yang fleksibel, transparan, dan kompetitif.

“Risiko muncul ketika komitmen pembelian berubah menjadi kewajiban kaku.

Baca juga: Mencuat Lagi 2 Tersangka Baru Laka Tambang Eks Pondi Pemali Bangka, Identitas dan Peran Terbongkar

Dalam kondisi harga global melonjak atau permintaan domestik melemah, impor yang bersifat rigid justru berpotensi menekan neraca berjalan dan meningkatkan premi risiko ekonomi,” kata Syafruddin kepada Kontan, Senin (23/2/2026).

Ia mengingatkan, pasar keuangan sejak awal 2026 menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap isu tata kelola dan kepastian kebijakan. 

Tanpa disiplin pengadaan dan transparansi kontrak, komitmen impor migas berisiko menjadi sentimen negatif bagi pasar.

Dari sisi kebutuhan riil, praktisi migas Hadi Ismoyo menegaskan impor migas masih menjadi keniscayaan. 

Kebutuhan LPG nasional sekitar 8 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya 2 juta ton.

Pada minyak mentah, kapasitas kilang nasional membutuhkan sekitar 1,83 juta barel per hari, sedangkan produksi dalam negeri baru sekitar 600 ribu barel per hari.

Untuk BBM, permintaan mencapai 1,63 juta barel per hari, sementara kapasitas produksi sekitar 1,28 juta barel per hari.

“Dengan kondisi ini, impor LPG, crude, dan BBM sangat dibutuhkan untuk menjaga pasokan dan ketahanan energi nasional,” ujarnya kepada Kontan, Senin (23/2/2026).

Namun, ia menilai jarak menuju swasembada energi masih sangat panjang. 

Program biodiesel B40 dinilai cukup berhasil mengurangi impor solar, tetapi belum menyentuh bensin.

Swasembada LPG memerlukan konversi ke gas dengan pembangunan infrastruktur gas secara masif, sementara swasembada crude membutuhkan eksplorasi besar-besaran dengan horizon 10–20 tahun.

(Kontan/TribunJabar.id/Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.