Menelusuri Jejak Sejarah Makam Keramat Ratu Bagus Kuning di Plaju Palembang, Legenda Siluman Kera
Welly Hadinata February 25, 2026 04:27 PM

Penulis Naskah : Novianti, Mahasiswa Semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Kota Palembang dikenal sebagai salah satu kota tertua di Indonesia yang menyimpan jejak sejarah panjang dan kekayaan budaya religius.

Salah satu situs yang hingga kini masih menjadi magnet kunjungan peziarah adalah Makam Keramat Ratu Bagus Kuning di kawasan Plaju, tepatnya di Jalan DI Panjaitan, Kota Palembang.

Situs ini bukan hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga sarat dengan nuansa spiritual dan legenda yang hidup di tengah masyarakat.

Tokoh Penyebar Islam di Palembang

Berdasarkan kisah yang berkembang secara turun-temurun, Ratu Bagus Kuning memiliki nama asli Putri Mulya Syarifah Mahani binti Syekh Dikh Zainal Abidin.

Ia diyakini sebagai tokoh perempuan yang berperan dalam penyebaran Islam di wilayah Sumatera Selatan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.

Ratu Bagus Kuning disebut sebagai murid para wali dari Pulau Jawa yang kemudian berdakwah dan menetap di Palembang. Gelar “Bagus Kuning” disematkan karena warna kulitnya yang kuning langsat serta karomah yang diyakini dimilikinya.

Pegiat sejarah Palembang, Mang Dayat, menyebut Ratu Bagus Kuning dikenal sebagai tokoh yang menjaga kesucian hidupnya hingga akhir hayat.

“Gelar Bagus Kuning diberikan karena kulitnya yang kuning langsat, serta karomah yang dimilikinya dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit,” ujarnya melalui kanal YouTube pribadinya.

Menurut cerita juru kunci makam, masyarakat Plaju pernah dilanda wabah penyakit kulit. Ratu Bagus Kuning kemudian mengumpulkan warga dan berdoa dengan khusyuk hingga berkeringat.

Aroma harum dari keringatnya dipercaya menjadi perantara kesembuhan atas izin Allah SWT.

Perjalanan dan Legenda Siluman Kera

Sebelum tiba di Palembang, Ratu Bagus Kuning disebut menempuh perjalanan melalui perairan Batanghari dan sempat berhadapan dengan para pendekar setempat.

Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke wilayah yang kini dikenal sebagai Plaju.

Di tempat tersebut, berkembang legenda tentang kerajaan siluman kera. Konon, kedatangan Ratu Bagus Kuning dan rombongannya sempat ditentang oleh penguasa gaib setempat.

Pertarungan pun terjadi dengan kesepakatan bahwa jika raja siluman kera kalah, maka para pengikutnya akan mengabdi.

Dalam kisah yang dipercaya masyarakat, raja siluman kera akhirnya kalah dan para pengikutnya menjadi penjaga setia wilayah tersebut.

Hingga kini, kawasan makam dikenal dengan populasi kera yang cukup banyak. Berdasarkan keterangan juru kunci, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 400 ekor.

Kawanan ini diyakini sebagai “prajurit” yang menjaga makam, dengan raja kera yang disebut Kondor.

Kera-kera tersebut terbagi dalam dua kelompok, yakni yang berada di dalam kawasan makam dan di luar area makam.

Daya Tarik Religi dan Budaya

Setiap hari, peziarah datang untuk berdoa dan mengenang sosok Ratu Bagus Kuning. Selain nilai religius, keberadaan ratusan kera yang hidup berdampingan dengan situs makam menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Makam Keramat Ratu Bagus Kuning tidak hanya menjadi simbol jejak sejarah penyebaran Islam di Palembang, tetapi juga cerminan akulturasi antara nilai spiritual dan legenda lokal yang terus hidup dalam ingatan masyarakat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.