TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar mengimbau seluruh Ketua RT dan RW agar meningkatkan kesiapsiagaan di wilayah masing-masing serta bersinergi dalam upaya penanggulangan banjir.
Kepala BPBD Kota Makassar, Fadli Tahar, menegaskan bahwa kondisi saat ini bukan lagi sekadar potensi, melainkan banjir yang sudah terjadi di sejumlah titik.
“Bukan lagi potensi, memang sudah banjir. BPBD Kota Makassar secara rutin memantau dan mencatat titik-titik rawan banjir yang tersebar di wilayah kota,” ujarnya kepada Tribun-Timur.Com, Rabu (25/2/2026).
Berdasarkan pemantauan, terdapat empat kecamatan yang terdampak cukup parah, yakni Biringkanaya, Tamalanrea, Manggala, dan Panakkukang.
Selain itu, genangan juga terjadi di sejumlah ruas jalan utama seperti Jalan AP Pettarani hingga Jalan Perintis Kemerdekaan.
Adapun wilayah dengan dampak signifikan saat ini berada di Kecamatan Manggala dan Biringkanaya.
BPBD telah membuka enam titik pengungsian bagi warga terdampak, dengan total 169 kepala keluarga atau 545 jiwa.
Di Kelurahan Manggala, Kecamatan Manggal, titik pengungsian tersebar di sejumlah masjid, di antaranya Masjid Jabal Nur, Masjid Yuda Al Fatih, Masjid Lailatul Qadar, serta beberapa titik lainnya.
Sementara di wilayah Biringkanaya dan Paccerakkang juga disiapkan lokasi pengungsian untuk warga yang rumahnya terendam.
“Kami menjamin keselamatan warga dengan membuka posko pengungsian, melakukan pemantauan setiap dua jam, dan menyiapkan peralatan seperti perahu karet serta perlengkapan keselamatan,” jelas Fadli.
BPBD juga mengaktifkan Tim Reaksi Cepat di sejumlah titik terdampak banjir untuk melakukan pemantauan, evakuasi, dan asesmen kondisi lapangan.
Selain itu, sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) yang telah dipasang di tiga wilayah bantaran sungai terus dipantau secara berkala.
Terkait peran RT dan RW, Fadli menekankan bahwa aparat pemerintahan paling bawah tersebut merupakan ujung tombak dalam penanganan awal di lingkungan masing-masing.
“Kami mengimbau RT/RW untuk mengidentifikasi warganya yang terdampak, meningkatkan koordinasi dengan kelurahan dan kecamatan, serta segera melaporkan jika terjadi kenaikan tinggi muka air yang membahayakan,” tegasnya.
RT dan RW juga diminta mengedukasi warga agar tetap waspada saat hujan lebat, terutama di wilayah rawan banjir.
Warga diimbau menghindari melintasi lokasi dengan genangan tinggi, tidak memaksakan bepergian saat cuaca ekstrem, serta menjauhi aktivitas wisata laut mengingat potensi angin kencang.
“Jika kondisi membahayakan, segera laporkan ke BPBD atau melalui Satgas di wilayah masing-masing. Koordinasi harus cepat dan terkoordinasi,” katanya.
BPBD Makassar juga terus berkolaborasi dengan instansi terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Sosial, serta Dinas Pemadam Kebakaran untuk mempercepat respons penanganan di lapangan.
Fadli menambahkan, pihaknya tengah mempertimbangkan penetapan status tanggap darurat apabila kondisi cuaca ekstrem dan banjir terus meluas.
Hal itu merujuk pada peringatan dini cuaca ekstrem yang berlaku hingga awal Maret dan mencakup potensi hujan lebat, banjir, longsor, serta angin kencang di wilayah Sulawesi Selatan.
“Yang paling penting, masyarakat tetap waspada, segera melaporkan genangan atau kondisi darurat, dan aktif berkoordinasi dengan RT/RW serta pemerintah setempat,” jelasnya.