TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Banjir kembali menggenangi beberapa wilayah di Kota Makassar.
Kecamatan Manggala dan Biringkanaya tercatat sebagai dua wilayah yang terdampak, dengan perbedaan signifikan dari sisi jumlah pengungsi, titik posko, dan tingkat kesiapsiagaan.
Camat Biringkanaya, Maharuddin mencatat dua dari empat kelurahan terdampak telah membuka enam titik pengungsian.
Hingga Rabu (25/2/2026) malam, tercatat sekitar 452 jiwa mengungsi.
Pengungsian dimulai sejak kemarin siang, dengan koordinasi intensif antara RT/RW, BPBD, dan Dinas Sosial untuk evakuasi dan pemenuhan logistik.
“RT/RW tetap menghimbau warga yang terdampak agar segera mengungsi. BPBD standby untuk evakuasi jika dibutuhkan, dan Dinsos menjamin kebutuhan makanan para pengungsi,” ujar Maharuddin.
RT/RW di Biringkanaya juga ditugaskan mengamankan rumah warga yang ditinggalkan, bekerja sama dengan TNI, Polri, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas.
Sementara di Kecamatan Manggala, banjir terjadi di tiga kelurahan yakni Manggala, Tamangngapa, dan Batua.
Kondisi terparah berada di Kelurahan Manggala, di mana telah dibuka tiga titik pengungsian yang menampung 134 jiwa.
Camat Manggala Ahmad menekankan RT/RW sebagai lini pertama dalam respons cepat kebencanaan.
“RT/RW memantau tinggi muka air dan segera melaporkan jika ada kondisi berbahaya. Mereka juga membantu proses evakuasi bila diperlukan,” ujar Ahmad.
Di Manggala, tim kesehatan dari puskesmas disiagakan di posko pengungsian untuk mencegah risiko penyakit pascabanjir.
Perbedaan mencolok antara dua kecamatan ini terlihat dari jumlah pengungsi dan titik posko.
Biringkanaya mencatat lebih banyak pengungsi (452 jiwa) dan posko (6 titik), dibandingkan Manggala yang tercatat 134 jiwa di tiga posko.
Namun, kedua kecamatan menekankan pentingnya peran RT dan RW sebagai ujung tombak penanganan banjir dan koordinasi cepat dengan instansi terkait.
Selain itu, kondisi genangan di Biringkanaya cenderung stabil di sebagian wilayah, sementara Manggala mencatat genangan lebih tinggi di Kelurahan Manggala, sehingga evakuasi lebih prioritas di titik tersebut.
Keduanya tetap mengimbau warga yang terdampak untuk waspada, menjaga keamanan rumah, dan mengurangi risiko listrik saat air menggenang.
Sinergi antara RT/RW, lurah, kecamatan, BPBD, dan Dinas Sosial menjadi kunci agar penanganan banjir efektif dan kebutuhan warga terdampak terpenuhi.(*)