Kisah Joko Ikhlas Jadi Guru Ngaji Tanpa Honor di Blora, Dapat Pengganti Langsung Dari Langit
rival al manaf February 25, 2026 07:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, BLORA - Kisah inspiratif sebagai guru ngaji tanpa honor datang dari Kabupaten Blora Jawa Tengah.

Dia adalah Joko Slamet pria berusi 45 tahun yang sudah bertahun-tahun menjadi guru ngaji tanpa honor.

Namun, ia merasa meski tanpa honor ada berkah jalur langit yang langsung turun kepadanya.

Hasil panen jagungnya melimpah sejak ia jadi guru ngaji tanpa honor.

Dari 1 kilogram bibit yang ia tanam, ia panen 1 ton 2 kuintal.

Baca juga: BREAKING NEWS, Driver Ojol Tahun Ini Dapat THR, Bukan Sekadar Bonus

Baca juga: Pemkab Kebumen Salurkan Bantuan Untuk Santri, Tempat Ibadah dan Guru Ngaji, Total Rp 10,56 Miliar

"Iki ijole awake dhewe ngopeni anak-anak (ini pengganti kita merawat anak-anak)," kalimat itu diucapkan Joko Slamet kepada istrinya saat mendapati hasil panen jagung yang melimpah. 

Keberhasilan tani tersebut menjadi titik balik tumbuhnya rasa ikhlas di hati sang istri terhadap dedikasi Joko sebagai guru ngaji tanpa honor di Desa Gondang, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora.

Hingga kini, pria berusia 45 tahun itu masih terus mengajar ngaji. Aktivitas itu dilakukan di rumahnya.

Sekitar pukul 16.45 WIB, anak-anak mulai memadati dampar (meja belajar). Sebagian dari mereka, ada yang membawa Alquran, Juz Amma, dan Iqra'.

Pukul 17.00 WIB, kegiatan mengaji dimulai dengan bacaan Alfatihah. Selanjutnya, anak-anak bergantian menyetorkan bacaannya di hadapan Joko Selamet.

Bermodalkan dengan diding (penunjuk), Joko membenarkan bacaan dan huruf yang tampak kurang sesuai dibaca oleh anak didiknya.

Aktivitas mengaji itu selesai sekitar 17.30 WIB. Aktivitas sebagai guru ngaji sudah ia ditekuni sejak tahun 2005 lalu.

Joko bercerita, mulanya ia bercita-cita sebagai tentara. Namun, impian itu harus terkubur karena kondisi ekonomi keluarga.

"Lulus SD, saya matur (bicara) sama bapak nek cita-citaku ingin jadi ABRI. Tapi kalau tetap lanjut sekolah hingga SMA, bapak bilang kepadaku terkait nasib adik-adikku yang barangkali tidak bisa melanjutkan sekolah," kata dia.

Cita-cita baru kemudian tumbuh. Joko berkeinginan masuk pesantren. Keinginan ini bermula ketika ia melihat seorang modin sedang melakukan pemulasaran jenazah.  

Saat itu, ia menilai tata cara yang dilakukan modin kurang maksimal. Dari sinilah, Joko melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren di Kemadu, Kabupaten Rembang selama lima tahun.

Kemudian melanjutkan mondok lagi ke Jawa Timur selama tiga tahun.

Selama di pesantren, Joko mendalami ilmu tentang pemulasaran jenazah. "Selama di pondok pesantren, yang saya tekuni itu tidak tentang pendidikan anak-anak, tetapi tentang pemulasaraan jenazah," kenang Joko.

Joko pun kembali ke desa. Kala itu, Ia bersama rekannya berkeinginan merintis pendidikan madrasah untuk anak-anak.

Awalnya, pembelajaran dilakukan di masjid. Kelas-kelas ditata sedemikian rupa dengan sekat-sekat. Niat baik itu kemudian disambut baik oleh kepala desa setempat hingga terwujudlah bangunan madrasah.

Namun, permasalahan muncul karena selama beberapa tahun tidak ada honor bagi para guru ngaji yang mengajar.

Joko menjelaskan, guru ngaji di sini mayoritas bekerja sebagai petani. Sehingga mereka cenderung akan tetap memprioritaskan aktivitas di sawah.

"Pak lurah bingung kalau enggak ada honor guru ngaji, kan otomatis ekonomi keluarga kocar-kacir, sedangkan kalau pas sibuk bertani para guru ngaji itu dipastikan tidak berangkat mengajar," terang dia.

Menjadi Guru Tanpa Honor

Kepala desa kemudian meminta Joko menjadi guru aktif di madrasah. Namun, tanpa honor. Ia pun bersedia dan menerima tawaran tersebut.

"Ini saya alami sekitar lima tahun hingga adanya musim Corona," ujar dia yang juga bekerja sebagai petani itu.

Menjadi guru aktif di madrasah tanpa ada honor, sempat memunculkan perselisihan dengan sang istri.

Namun, ia mencoba meyakinkan, bahwa menjadi guru ngaji juga mampu mengangkat perekonomian.

Ya, jalan ekonomi Joko Slamet datang melalui jalur lain. Keyakinannya itu terbukti dengan hasil panen jagung yang melimpah.

"Waktu itu, saya menanam jagung satu kilogram, mendapatkan hasil panen satu ton dua kwintal," terang dia.

Dengan hasil itu, ia membuktikan kepada istrinya bahwa menjadi guru ngaji bagi anak-anak mampu mengangkat perekonomian keluarga.

"Iki ijole awake dhewe ngopeni anak-anak. Dadi lambat laun ibune sadar. Tukul ikhlase (ini lho sebagai gantinya merawat anak-anak, jadi lambat laun istri saya sadar, tumbuh rasa ikhlas)," terang dia.

Resmi Menjadi Modin

Disela-sela aktivitasnya mengajar ngaji, ia masih menyempatkan waktu untuk melanjutkan pendidikan melalui kejar paket B dan paket C.

Sekitar tahun 2022, ketika ada lowongan perangkat desa, ia pun mendaftar. Dan, Joko pun diterima sebagai perangkat desa bagian kesra atau modin.

Saat itu, Joko sudah memiliki pengalaman pemulasaraan jenazah kurang lebih belasan tahun.

"Kulo pengabdiane teng nggone nyepeng jenazah niku 13 tahun lho (saya pengabdian di bagian pemulasaraan jenazah itu 13 tahun lho)," terang dia.

Bagi Joko, rasa senang bukan hanya diukur dengan materi. Mampu mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak rasanya sudah mengalahkan duniawi.

Rasa susah yang dialaminya seketika terobati tatkala anak didiknya bisa belajar dengan baik. (*)

Sumber: kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.