Pengakuan Korban Trauma Setiap Mendung, Takut Banjir Datang Lagi di Aceh Timur yang Menghancurkan
Untung SofaMaulana February 25, 2026 07:56 PM

- Menjelang masuknya Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah, suasana di Ujung Karang tak lagi harum oleh aroma rempah masakan Meugang.

Yang tercium kini hanya aroma tanah basah dan sisa-sisa kayu yang lapuk.

Begitulah yang dirasakan Usman, warga Desa Ujung Karang, Dusun Tembolon, Kecamatan Sebajadi, Aceh Timur.

Ia menjadi korban banjir Aceh Timur yang kehilangan semua harta bendanya. 

Rumahnya lenyap terbawa arus, lahan pertaniannya rusak, hingga sepeda motornya masih tertanam lumpur dan tidak bisa digunakan lagi.  

Usman berdiri tegap di reruntuhan rumahnya sambil menunjukkan pondasi rumah yang ia tempati dulunya bersama kelima anaknya.

"Saya tidak bisa cerita, sedih kalau lihat seperti ini. Biasanya Ramadhan kami sudah mempersiapkan banyak hal, mulai dari daging meugang, masakan-masakan untuk menyambut bulan puasa,” ceritanya.

“Tapi sekarang apa yang mau dipersiapkan, bisa menjalani ibadah puasa tahun ini saja sudah sangat bersyukur," tuturnya saat diwawancarai Serambinews.com, Selasa (17/2/2026).

Semarak puasa kali ini tidak dirasakan oleh Usman dan warga Ujung Karang lainnya.

Jika biasanya ia sudah mempersiapkan pakaian untuk Ibadah Tarawih, mengusahakan tempat ibadah yang layak untuk keluarga, kini itu hanya menjadi bayangan dalam ingatan Usman setelah diterjang banjir.

"Enggak ada apapun, jadi gimana saya bilang ada. Sementara saat ini pekerjaan saja tidak ada, enggak kerja apa yang mau dipersiapkan untuk puasa, syukur bisa makan," kata Usman.

Tak hanya Usman yang merasakan hal seperti ini.

Semua masyarakat Ujung Karang yang menjadi korban banjir akan menjalani ibadah puasa dalam keterbatasan di bawah tenda pengungsian.

Usman bercerita, bahwa ia tidak pernah terpikir akan mengalami musibah bencana sedahsyat ini.

Rumahnya yang dulu menjadi tempat berpulang dan menjadi tempat istirahat ia bersama istri serta anaknya, kini malah menjadi aliran sungai baru setelah dihantam banjir.

"Pagi Rabu itu pertama naik air, surut sebentar. Namun setelah surut, naik lagi, nah itu air semakin tinggi dan tidak surut lagi, serta menghantam semuanya yang ada di kampung ini," kata Usman.

Ia tidak ingat lagi kapan pastinya rumahnya hancur total sampai tak tersisa.

Ia hanya ingat saat itu menyelamatkan anak-anak dan istrinya ke titik aman, dan menunggu sampai air benar-benar surut.

Saat berada di titik pengungsian darurat, Usman bertahan hidup dengan pertolongan sanak saudara yang memberi makanan dan menyumbang keperluan sehari-hari untuk keluarganya.

Program: Saksi Kata
Sumber: Serambi Indonesia
Editor: Untung Sofa Maulana

#saksikata #banjir #banjirbandang #rumahhanyut #terseret #acehtimur #banjiraceh #ramadahan #ramadan2026 #ujungkarang #aceh

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.