Cinta Laura Soroti Penerima LPDP dari Kalangan Orang Kaya, Sedih Karena Nilai Tak Tepat Sasaran
Desi Triana Aswan February 25, 2026 08:43 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Cinta Laura baru-baru ini viral di media sosial usai sorotan tajamnya terkait penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). 

Kritikan tajam Cinta Laura tersebut sudah terjadi sejak tahun 2024 silam. 

Hal tersebut disampaikan Cinta dalam podcast YouTube Kemal Palevi. 

Saat itu, Cinta tengah mempromosikan film horor terbarunya berjudul Panggonan Wingit 2: Miss K. 

Di sela-sela obrolan itu, Cinta dan Kemal membahas soal beasiswa salah satunya LPDP. 

Perempuan kelahiran 17 Agustus 1993 itu lantas menyoroti terkait pendanaan LPDP yang menurutnya tak tepat sasaran. 

Baca juga: Viral Video Lawas Cinta Laura soal LPDP, Tak Pernah Daftar Beasiswa Demi Orang Lebih Membutuhkan 

Ia menilai masih ada orang-orang mampu yang justru ikut bersaing untuk mendapatkan beasiswa tersebut. 

Padahal menurut Cinta, para orang kaya ini justru bisa membiayai kuliah mereka tanpa harus memakai beasiswa. 

Cinta bahkan sampai sedih atas hal tersebut. 

Karena ia menilai banyak generasi bangsa yang lebih membutuhkan beasiswa, bukan orang kaya atau dari kalangan mampu. 

"Sesuatu yang bikin aku sedih tentang beasiswa ini," kata Cinta dalam konten Kemal Palevi di tahun 2024. 

"Kadang-kadang tidak diberikan kepada orang yang tepat dalam arti tidak diberikan kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan," imbuhnya. 

Cinta lantas mengungkapkan sosok kenalannya yang lolos beasiswa LPDP. 

Ia tak menyebutkan nama, namun dirinya menyebut rekannya tersebut memiliki kemampuan finansial untuk kuliah. 

Bahkan menurut Cinta, temannya tersebut sangat jauh dari kekurangan. 

Namun Cinta menegaskan tak akan menyebut nama temannya tersebut. 

"I'm not gonna say who, dia itu anak orang kaya banget, kaya banget. Enggak perlu beasiswa, orang tuanya tinggal criiing bayar university fees-nya," ungkap Cinta. 

Cinta pun heran, karena orang tersebut justru dapat beasiswa. 

"Tapi orang ini dapat beasiswa dari negara," lanjutnya. 

Ia menyayangkan hal tersebut. Menurutnya, di Indonesia masih banyak generasi atau anak-anak yang lebih pintar. 

Sayangnya, kata Cinta, akses untuk menerima beasiswa tersebut jauh dari jangkauan. 

"Sorry ya mungkin orang punya pendapat yang berbeda, tapi menurut aku banyak sekali anak Indonesia yang pintar banget tapi benar-benar enggak punya uang sehingga enggak bisa sekolah di luar negeri," ungkapnya. 

"Padahal mereka kalau apply pasti diterima. Ayo bantu orang-orang kayak gitu lah," ucapnya. 

Baca juga: Biodata Cinta Laura, Karier, Prestasi, Asal Keluarga, Kontroversi, Sempat Hiatus Lalu Comeback

Dia merasa seharusnya beasiswa bisa diberikan kepada orang-orang yang memang benar-benar tak mampu secara finansial tapi pintar secara akademis. 

"Kalau orang-orang yang udah kaya dan emang pintar, let them pay themselves," ucap Cinta. 

"Give the scholarships to people who really need it, yang benar-benar enggak bisa afford sekolah di luar negeri," kata Cinta Laura. 

Cinta juga menyayangkan tindakan penerima beasiswa LPDP yang akhirnya memilih bekerja di luar negeri.

"That's your choice dan I respect that dan emang kalau itu yang terbaik buat kamu do it," tutur Cinta. 

"Cuman, aku tahu bahwa banyak sekali anak-anak muda Indonesia yang awalnya enggak mau kembali itu karena ego mereka yang terlalu tinggi dan orang dengan ego yang tinggi adalah seorang dengan self esteem yang rendah," ujarnya. 

Cinta sendiri memilih untuk tak pernah mengajukan beasiswa saat kuliah di luar negeri karena ingin kuota beasiswa itu diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan.

"Aku bersyukur, thank God, bahwa aku dan keluarga aku mampu untuk bayar sendiri tuition sekolah," ucap Cinta. 

Dia merasa dengan tidak mengajukan beasiswa, setidaknya dia bisa memberikan kesempatan itu pada orang yang memang benar-benar lebih membutuhkan. 

"Aku mau slot beasiswa itu dikasih ke orang yang emang butuhin," tutur Cinta. 

Karena Cinta tahu masih ada banyak orang di luar sana yang pintar tapi hanya bisa bermimpi sekolah ke luar negeri. 

"Sorry ya mungkin orang punya pendapat yang berbeda," kata Cinta.

Polemik LPDP

LPDP adalah beasiswa yang diberikan pemerintah pada generasi bangsa untuk kuliah di dalam maupun di luar negeri. 

Beberapa penerima beasiswa LPDP luar negeri tergolong mampu atau berkecukupan. 

Sementara, Cinta Laura berharap beasiswa tersebut bisa diberikan pada orang yang lebih membutuhkan. 

Perlu diketahui, kemunculan potongan video lawas Cinta tersebut setelah ramai polemik alumni LPDP yang tak bangga jadi Warga Negara Indonesia (WNI). 

Ia adalah Dwi Sasetyaningtyas. Sosoknya ramai jadi perbincangan usai mengunggah video pamer terkait kewarganegaraan anaknya. 

Ia bahkan mengeluarkan pernyataan soal mengupayakan anak-anaknya tak menjadi WNI. 

Secara tak langsung, pernyataan ini menuai polemik di publik. 

Wanita yang akrab disapa Tyas itupun viral di media sosial. 

Sosoknya belakangan diketahui adalah alumni LPDP. 

Dari salah satu aturan dari beasiswa, bahwa penerima LPDP harus kembali ke Indonesia dan mengabdi. 

Namun, berbeda dengan Tyas. 

Dirinya tak pulang. Bahkan justru menjadikan anak-anaknya kewarganegaraan Inggris bukan Indonesia. 

Atas hal tersebut kini Tyas mendapat sorotan tajam. 

Pernyataan Tyas Bikin Mahfud MD Marah

Pakar hukum tata negara sekaligus eks Menkopolhukam, Mahfud MD turut angkat suara atas polemik pernyataan alumni LPDP yang viral di media sosial. 

Mahfud MD menyadari bahwa kata wanita bernama Dwi Sasetyaningtyas adalah kenyataan yang ada di bangsa ini. 

Namun bagi Mahfud, tak sepatutnya ia melontarkan hinaan terhadap bangsa Indonesia. 

Sebelumnya, Tyas sapaan wanita tersebut viral di media sosial gegara mengunggah video pamer memperlihatkan kewarganegaraan anaknya. 

Ia mengupayakan anaknya tak menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). 

Padahal Tyas adalah seorang WNI. 

Pernyataan yang memicu reaksi publik semakin panas adalah saat Tyas mengatakan 'cukup aku saja yang WNI, anakku jangan'.anakku jangan'.

Ucapan Tyas itu terlontar dalam sebuah video yang diunggah olehnya sembari memperlihatkan dokumen yang menyatakan anaknya resmi menjadi warga negara Inggris.

Dalam sekejap, video tersebut banyak dibagikan di media sosial, 

Tak hanya itu, nama Tyas dikuliti hingga terungkap dirinya adalah seorang alumni LPDP, beasiswa yang bersumber dari negara. 

Hal ini semakin membuat publik geram. Terlebih saat mengetahui, bahwa Tyas belum menuntaskan pengabdian pada negeri usai mengenyam bangku kuliah dari LPDP. 

Begitupula suaminya, Arya Pamungkas Irwantoro yang harus turut terkena imbas atas perbuatan Tyas. 

Arya dituntut ganti rugi biaya beasiswa istrinya dan dirinya pula. 

Kemarahan publik ini begitu ramai di media sosial. 

Orang-orang membuat video atau sekedar mengutarakan pendapatnya lewat kolom komentar. 

Bahkan sosok Mahfud MD pun terdorong untuk berbicara mengomentari Tyas. 

Mahfud marah karena Tyas justru menghina Indonesia meski sebenarnya kesuksesan yang dicapainya saat ini juga ada andil dari negara.

Ia lantas menasehati wanita yang tinggal di Inggris itu. 

Mahfud bilang bahwa seharusnya Tyas harus bisa cinta dengan bangsa ini. 

Sesuai dengan prinsip yang selalu Mahfud sampaikan. 

"Saya mendengar (pernyataan Tyas) itu marah dan itu bertentangan dengan prinsip yang selalu saya katakan yaitu jangan pernah lelah mencintai Indonesia. Sepertinya, dia lelah ini," katanya dikutip dari YouTube Mahfud MD, Rabu (25/2/2026).

"Saya marah orang lalu tidak suka kepada Indonesia. Padahal dia sendiri itu mendapatkan kenikmatan karena Indonesia, lalu dia melecehkan Indonesia di depan publik dengan begitu parah dan menyakitan bagi kita," sambung Mahfud.

Kendati marah, Mahfud mengatakan bahwa viralnya sosok Tyas ini juga menjadi koreksi bagi pemerintah dalam membuat kebijakan.

Menurutnya, Tyas telah sampai pada puncak kekecewaannya terhadap pemerintah hingga berujung anaknya tidak ingin berstatus sebagai WNI.

Mahfud juga mengatakan pernyataan Tyas ini memiliki kesamaan dengan gerakan tagar #KaburAjaDulu yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Bahkan, dia menyebut fenomena dari sosok Tyas ini berkorelasi dengan gerakan #KaburAjaDulu.

"Kalau di dalam tidak terlayani dengan baik sebagai warga negara, ya kabur aja dulu. Itu serangkaian karena nampaknya pemerintahannya terlalu 'steril' dari kritik-kritik itu."

"Masyarakat ngritik dianggap salah atau ya sudah silahkan kritik, kami tetap jalan," tegas Mahfud.

Berkaca dari viralnya sosok Tyas, Mahfud juga mengingatkan bahwa nasionalisme bisa luntur ketika memang pemerintahnya tidak berpihak kepada rakyat.

Dia menegaskan hak dasar yang harus dipenuhi warga adalah hak hidup. 

Sehingga, menurut Mahfud, hal yang wajar ketika muncul fenomena seperti viralnya sosok Tyas tersebut ketika hak hidup masyarakat tidak bisa dipenuhi pemerintah.

"Orang mau berusaha diperas, mau cari kerjaan dipalak dan belum tentu dapat, mau eksekusi vonis juga harus bayar, perkara sudah inkrah diadili lagi. Itu kan banyak."

"Kan keperluan nomor satu kan hidup, kalau nggak bisa hidup nggak bisa memenuhi sandang, pangan, papan, ya udah kabur aja dulu. Ini fenomenanya sama (seperti kasus Tyas)," ujarnya.

Dalam akhir pernyataannya, Mahfud menegaskan bahwa dirinya marah atas apa yang disampaikan oleh Tyas.

Namun, di saat yang bersamaan, dia memahami pernyataan Tyas yang bersyukur anaknya tidak berstatus sebagai WNI adalah sebuah fakta di mana pemerintahan Indonesia bobrok.

Mahfud pun berharap kepada Tyas agar tetap mencintai Indonesia dengan segala kekurangan dan permasalahan yang tengah terjadi.

Dia kembali menegaskan bahwa seluruh capaian yang diperoleh Tyas saat ini tetap ada andil dari negara seperti menerima beasiswa LPDP.

"Mbak Tyas, saya marah kepada Anda menghina republik ini. Tapi juga saya paham bahwa apa yang Anda katakan itu karena fakta yang sering mengecewakan di tempat kita."

"Tapi cintailah negeri ini. Anda bisa sekolah karena Indonesia merdeka karena punya sumber daya yang bagus. Kita jangan diam untuk selalu cinta dengan Indonesia," pungkasnya.

Tyas Minta Maaf, sang Suami Disanksi Pengembalian Beasiswa LPDP

Viralnya video Tyas membuatnya meminta maaf kepada publik. 

Dia menegaskan unggahan video tersebut merupakan wujud dari kekecewaannya atas apa yang terjadi di Indonesia.

"Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat 'cukup saja saja yang WNI, anak-anak saya jangan', dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut."

"Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan," tulisnya dalam unggahan di akun Instagram pribadinya.

Dia mengakui bahwa pernyataannya yang menyebut agar anaknya saja yang tidak menjadi WNI telah melukai masyarakat.

Tyas juga menyadari perkataannya tersebut bisa dimaknai merendahkan masyarakat Indonesia.

"Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi," pungkasnya.

Selain itu, viralnya Tyas berujung kepada sang suami, Arya Pamungkas Irwantoro, disanksi oleh LPDP untuk mengembalikan seluruh dana beasiswa yang diterima selama menempuh pendidikan magister dan doktoral.

Adapun Arya merupakan lulusan magister dan doktoral di Utrecht University, Belanda.

Sanksi ini disampaikan oleh Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa.

Purbaya mengatakan Arya tidak hanya disanksi mengembalikan beasiswa tetapi juga beserta bunganya.

"Pak Dirut LPDP sudah bicara dengan suami terkait dan dia sepertinya sudah setuju untuk mengembalikan uang yang dipakai LPDP nilainya jadi termasuk bunganya. Kan saya juga taruh uang di bank ada bunganya," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Januari di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta , Senin (23/2/2026).(*)

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)(Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.