TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Semangat kolaborasi pemuda Bone Barat mengisi awal Ramadan melalui pembukaan Karafest 2026 (Kampung Ramadan Festival) di Lapangan Sepak Bola Patangkai, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Rabu (25/2/2026).
Festival ini mengusung misi menggerakkan ekonomi lokal dan memfasilitasi kreativitas generasi muda.
Kegiatan dibuka Ketua DPRD Kabupaten Bone, A. Tenri Walinonong.
Ia memberikan apresiasi atas gerakan positif pemuda Lappariaja dan sekitarnya.
Acara pembukaan turut dihadiri Anggota DPRD Bone Farel Adhywasa, Camat Lappariaja, Camat Bengo, Camat Tellu Limpoe, Kapolsek Lappariaja, serta seluruh kepala desa se-Kecamatan Lappariaja.
Kehadiran para pejabat tersebut memperkuat dukungan pemerintah terhadap ekosistem kreatif yang dibangun pemuda Bone Barat.
Ketua Panitia, Muhammad Reski, menyebut Karafest lahir dari kesadaran kolektif pemuda untuk menciptakan ruang produktif selama Ramadan.
“Kegiatan ini diinisiasi untuk membantu UMKM sekitar tumbuh bersama dan memiliki ruang lebih luas. Tahun ini ada 22 tenant UMKM yang meramaikan Karafest selama 25 hari, mulai 23 Februari sampai 19 Maret 2026,” jelasnya.
Selain mendorong pergerakan ekonomi, Karafest juga menghadirkan tujuh lomba keagamaan sebagai ajang pengembangan bakat generasi muda di Kabupaten Bone.
“Kami ingin menghadirkan ruang berkumpul yang positif, yang bisa mengalihkan anak-anak muda dari aktivitas yang tidak bermanfaat,” tambahnya.
Menurutnya, festival ini menjadi bukti bahwa gerakan pemuda dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM sebagai tulang punggung ekonomi lokal.
Tak hanya panitia dan pejabat, pelaku UMKM menyambut antusias kegiatan tersebut.
Salah satu pemilik tenant kuliner, Siti Marlina, mengaku Karafest menjadi momentum penting bagi pelaku usaha kecil di Bone Barat.
“Sejujurnya kami pelaku UMKM sangat terbantu. Ramadan biasanya ramai, tapi adanya festival seperti ini membuat pembeli lebih tertarik datang. Penjualan di hari pertama saja sudah terasa berbeda,” ungkapnya.
Ia menilai kegiatan sebesar ini jarang digelar di Bone Barat sehingga antusiasme masyarakat sangat tinggi.
“Semoga kegiatan seperti ini rutin dilakukan. Selain menambah rezeki, kami bisa memperkenalkan produk ke lebih banyak orang,” ujarnya.
Pelaku UMKM lainnya, Arman, yang menjual minuman kekinian, juga merasakan dampak serupa.
“Karafest ini bukan cuma soal jualan, tapi interaksi dan suasana. Tempatnya hidup sekali. Kami bisa bertemu pelanggan baru dan sesama pelaku UMKM. Ini peluang besar buat kami,” katanya.
Karafest 2026 diharapkan menjadi pusat perputaran ekonomi sekaligus destinasi kreatif dan kultural selama Ramadan di Bone Barat. (*)