Tanya Ustaz: Bagaimana Agar Puasa Ramadhan Diterima Allah SWT? Ini Penjelasannya
Elfan Fajar Nugroho February 25, 2026 11:33 PM

TRIBUNWOW.COM - Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Lebih dari itu, puasa adalah ibadah yang menuntut keikhlasan, kesabaran, serta kemampuan menjaga diri dari segala hal yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahalanya.

Banyak orang mampu menahan haus dan lapar, namun belum tentu puasanya benar-benar diterima oleh Allah SWT.

Lantas, bagaimana agar puasa kita bernilai dan diterima Allah SWT?

Baca juga: Tanya Ustaz: Apa Makna Hari Raya Idul Fitri atau Hari Kemenangan setelah Bulan Ramadhan?

Simak penjelasan Ustaz Toto Suharto mengenai puasa kita agar di terima oleh Allah SWT yang diulas dalam kanal YouTube Tribunnews.

Pertanyaan: 

Bagaimana agar puasa kita diterima Allah SWT?

Jawaban:

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah niat yang tulus karena Allah SWT.

Niat menjadi fondasi utama dalam setiap ibadah.

Puasa yang dilakukan karena ingin dipuji, sekadar mengikuti tradisi, atau hanya karena kewajiban tanpa kesadaran ibadah, tentu berbeda nilainya dengan puasa yang dilandasi keikhlasan.

Keikhlasan inilah yang menjadikan amalan kecil bernilai besar di hadapan Allah SWT.

Selain niat, menjaga lisan dan perilaku juga menjadi kunci diterimanya puasa. 

Baca juga: Tanya Ustaz: Hukum Puasa bagi Orang Sakit atau dalam Perjalanan, Ini Penjelasannya

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa bisa jadi seseorang hanya mendapatkan lapar dan dahaga dari puasanya.

Hal ini terjadi ketika orang yang berpuasa masih gemar berkata dusta, menggunjing, marah berlebihan, atau melakukan perbuatan maksiat.

Puasa sejatinya melatih pengendalian diri, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara akhlak.

Agar puasa semakin sempurna, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh.

Membaca Al-Qur’an, bersedekah, memperbanyak doa, serta menjaga sholat lima waktu dan sholat sunnah menjadi amalan pendukung yang memperkuat kualitas puasa.

Bulan Ramadhan adalah momentum untuk meningkatkan ketakwaan, sehingga setiap detiknya sebaiknya diisi dengan aktivitas yang bernilai ibadah.

Tak kalah penting adalah menjaga hati dari penyakit seperti iri, dengki, dan riya.

Hati yang bersih akan memudahkan seseorang merasakan manisnya ibadah.

Ketika hati dipenuhi kebencian dan kesombongan, ibadah yang dilakukan pun menjadi kurang bermakna.

Oleh karena itu, introspeksi diri dan memperbaiki hubungan dengan sesama juga menjadi bagian dari upaya menyempurnakan puasa.

Pada akhirnya, diterima atau tidaknya puasa adalah hak prerogatif Allah SWT.

Namun sebagai hamba, kita wajib berusaha memenuhi syarat dan adabnya dengan sebaik-baiknya.

Dengan niat yang ikhlas, menjaga perilaku, memperbanyak amal kebaikan, serta terus memohon ampun dan ridha-Nya, insyaAllah puasa yang kita jalankan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi jalan menuju ketakwaan dan keberkahan hidup.

(Peserta Magang dari Universitas Sebelas Maret, Pradipta Maya Agustania/TribunWow.com, Elfan Nugroho)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.