TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dunia digital sempat diramaikan oleh tawa ikonik dan frasa EGP (Emang Gue Pikirin) yang menjadi titik balik bagi Sundanis, rapper asal Bandung yang menjadi kreator di balik fenomena tersebut.
Sundanis kemudian merenung bertanya ke dirinya sendiri yang akan dilakukan setelahnya.
“Aku menyadari, tawa viral saja nggak cukup untuk menjaga karier musik dalam jangka panjang,” ujar musisi hip-hop ini, Rabu (25/2/2026).
Berbekal keresahan tersebut, Sundanis berupaya kembali berkarya dengan tantangan menghadapi ekspektasi publik yang tinggi.
Ada beban untuk mengulang formula yang sama agar bisa mempertahankan popularitas. Namun, Sundanis memilih jalur yang berbeda.
Agar tak terjebak pada ketakutan gagal bereksperimen, ia kembali ke akarnya dengan menulis lirik yang jujur, spontan, dan mengalir. Prinsip ini yang ia terapkan di karya terbarunya berupa single berjudul Bad Mood.
Lagu tersebut lahir dari proses yang terbilang cepat. Dalam hitungan jam, Sundanis merampungkan lirik dan notasi.
Kecepatan ini bukan berarti mengesampingkan kualitas, melainkan menunjukkan bahwa insting dan pengalaman panjangnya dalam bermusik menjadi kekuatan utama.
Bagi Sundanis, proses cepat itu justru menunjukkan kejujuran. Ia tidak ingin terlalu banyak menghitung atau merancang respons publik. Jika momen terasa tepat, ia memilih merekam apa adanya.
Gandeng Uiendha untuk Dapatkan Chemistry
Sundanis bilang, tantangan terbesar dalam penggarapan single Bad Mood bukan pada teknis rekaman, tetapi pada pemilihan rekan duet. Sundanis merasa lagu ini membutuhkan perspektif perempuan
untuk memperluas spektrum emosinya.
Pilihan akhirnya jatuh kepada Uiendha, model asal Bandung, yang dinilai mampu menghadirkan warna dan energi berbeda dalam single Bad Mood.
“Harus ada chemistry agar lagunya terasa hidup dan menyatu sempurna,” ucap Sundanis dikutip Rabu, 25 Februari 2026.
Jika EGP adalah perayaan sikap cuek dan tawa, maka “Bad Mood” hadir sebagai bahasa yang lebih personal. Lagu ini menjadi sebuah fase eksplorasi yang menunjukkan bahwa Sundanis mampu menyentuh sisi emosional yang lebih luas.
Baca juga: Profil Nicki Minaj, Rapper Pembenci Trump yang Kini Berubah Dukung MAGA
Melalui single yang akan dirilis akhir Februari ini, Sundanis menegaskan bahwa langkah barunya bukan tentang mereplikasi kesuksesan, melainkan tentang terus berkembang sebagai musisi.
“Bad Mood” menjadi cara baginya mengubah suasana hati yang buruk menjadi karya yang tetap menyenangkan dan memberikan impact.
Sundanis selama ini dikenal sebagai penyanyi dan pencipta lagu yang karya-karyanya relate dengan keseharian masyarakat. Debutnya dimulai tahun 2007 dengan membawakan lagu-lagu yang mengusung aliran musik hip-hop dengan unsur etnik Sunda, baik dalam penggunaan alat musik maupun bahasa.
Setelah sukses besar dengan single EGP di 2025, dia bereksperimen melalui berbagai kolaborasi dan warna musik baru untuk memperkuat eksistensinya di industri musik tanah air.