TRIBUNNEWS.COM, SUKABUMI - Sosok NS (13), santri yang tewas diduga dianiaya ibu tirinya, TR (47), begitu membekas di ingatan teman-temannya di Pondok Pesantren Darul Ma'arif Cibitung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Duka mendalam pun menyelimuti para sahabat saat wartawan Tribunnews.com menemui mereka, Selasa (24/2/2026) malam.
Usai salat tarawih, Pengasuh Pondok Pesantren Abdul Rohman (38) mengajak Tribunnews.com berbincang di sebuah saung bambu yang berada di area pesantren.
Ia tidak sendiri. Tak lama berselang, tiga santri muda tampak menghampiri saung tersebut.
Mereka adalah sahabat NS semasa di pesantren.
Ketiganya berjalan perlahan dengan kepala sedikit tertunduk.
Baca juga: Motif Ibu Tiri Aniaya Anaknya di Sukabumi, Lakukan Kekerasan dengan Dalih Mendidik
Penampilan mereka sederhana, khas santri mengenakan kain sarung dan peci.
Namun, raut wajah mereka tak bisa menyembunyikan kesedihan.
Sesampainya di saung, mereka lalu membagi kenangan tentang sosok NS.
Ruswandi (20), seorang santri yang hadir, membuka pembicaraan dengan suara pelan.
Baca juga: Bocah Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri di Sukabumi, Ayah Korban Mengaku Kerap Cekcok dengan Istri
Di matanya, NS adalah sosok yang sangat ceria.
"Sosok Almarhum itu di Pondok Pesantren sangat-sangat ceria. Beliau itu mungkin bisa dibilang pembawa happy kepada teman yang sedang murung," kata Ruswandi.
Menurut Ruswandi, NS dikenal sosok yang baik.
Semasa di pesantren, ia tak pernah bermasalah dengan siapapun.
"Almarhum juga tidak pernah, tidak pernah terlihat murung atau bagaimana, mungkin dia orangnya pendiam. Pendiam itu dalam artian tidak terlalu banyak cerita kepada siapa-siapa, namun beliau itu orangnya happy-happy saja dengan semua orang itu akur gitu, tidak pernah bertengkar dengan siapapun, tidak punya masalah dengan siapapun," ujarnya.
Ia mengungkapkan, NS juga suka menghibur ketika teman-temannya ada yang murung.
"Suka begini kalau ada orang yang murung di pondok suka bisa dihibur oleh beliau juga dengan tawanya, dengan candaannya beliau itu sangat-sangat bisa ngelawak juga," ucapnya.
Pesantren sempat diliburkan lebih awal pada 3 Februari 2026 karena adanya pembangunan pondok.
Para santri, termasuk NS, diwajibkan kembali pada 18 Februari untuk mengikuti pengajian kitab Ramadhan.
Namun, pada malam tanggal 18 Februari, NS tidak terlihat. Ruswandi mengaku kaget ketika mendengar kabar kepergian NS keesokan harinya.
Sebab, saat terakhir kumpul bareng sebelum libur, tidak ada kejanggalan atau indikasi bahwa almarhum sakit.
Anggi Prayoga (20), santri lainnya, turut angkat bicara.
Kenangan tentang NS begitu melekat saat mereka berada di kobong (asrama) dan saat mengaji bersama.
"Almarhum ini orangnya itu dia tuh orangnya rajin gitu di kobong dan juga yang paling saya ingat itu di saat waktu ngaji bareng gitu dengan guru kami, dia tuh termasuk salah satu orang yang paling sering disebut namanya oleh guru kami di saat waktu ngaji. Karena ya orangnya itu penghibur," ucap Anggi dengan mata berkaca-kaca sambil menunduk.
Rasa kehilangan yang mendalam juga dirasakan Faris Fadlan Al Farizi (24).
Hubungan Faris dan NS sudah melampaui sekadar teman satu pondok.
"Orangnya asyik, ceria, gembira gitu. Suka main ke rumah saya, suka berdua, suka makan bersama sampai dia menganggap ibu saya ibu sendiri gitu," ungkapnya.
"Sangat kehilangan seorang kawan yang deket sama saya, pernah suka berdua, suka tidur berdua di masjid," imbuhnya menambahkan.
NS meninggal pada Kamis (19/2/2026) di RSU Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi.
Sebelum meninggal, NS mengaku disuruh minum air panas oleh ibu tirinya, TR. Hal ini disebut menyebabkan adanya sejumlah luka bakar pada tubuh korban.
Namun, TR membantah tudingan penganiayaan maupun pembunuhan, dan menyebut kematian NS sebagai takdir.
TR mengaku telah merawat korban sejak kelas 3 SD dan merasa terpukul atas kepergian anak tersebut.
Ia menilai respons publik di media sosial berlebihan dan tidak adil.
Ia bahkan menyebut netizen sebagai “pahlawan kesiangan” karena dianggap hanya mengomentari tanpa memberikan bantuan nyata, termasuk dalam proses pemakaman.
Terkini, kepolisian Polres Sukabumi telah menetapkan TR sebagai tersangka atas dugaan kekerasan, baik fisik atau psikis.