TRIBUNTRENDS.COM - Rentetan dugaan kekerasan aparat kembali menyisakan duka. Seorang pelajar meregang nyawa, sementara suara yang mencoba mengingatkan justru berujung pada ancaman.
Situasi ini memicu kemarahan publik dan menyoroti risiko yang mengintai mereka yang menyampaikan kritik di tengah memanasnya isu kekerasan aparat.
Seorang anggota pemadam kebakaran (Damkar) yang semula menyampaikan sindiran bernuansa kemanusiaan tentang fungsi perlindungan, kini menghadapi tekanan serius yang mengarah hingga ke keluarganya.
Baca juga: Bripda MS Aniaya Arianto Tawakal hingga Tewas, Kapolres Tual Didesak Diperiksa: Itu Kewenangannya!
Korban dalam tragedi ini adalah Arianto Tawakkal (14), siswa MTsN di Kota Tual, Maluku. Ia menghembuskan napas terakhir setelah diduga mengalami penganiayaan oleh oknum anggota Brimob pada 19 Februari 2026.
Insiden terjadi di sekitar RSUD Maren, Kota Tual, usai waktu sahur. Saat itu, Arianto bersama kakaknya melintas menggunakan sepeda motor.
Dugaan penganiayaan bermula ketika korban dipukul di bagian kepala menggunakan helm taktikal, hingga kehilangan kendali dan terjatuh keras ke aspal.
Sejumlah saksi mata menyebut Arianto mengalami pendarahan dari hidung dan mulut. Ia sempat dilarikan ke RSUD Karel Sadsuitubun, namun nyawanya tidak tertolong. Arianto dinyatakan meninggal dunia pada Jumat, 20 Februari 2026.
Tragedi ini menyebar luas dan memantik kemarahan warganet. Di tengah gelombang reaksi publik, seorang anggota Damkar bernama Khairul Umam ikut bersuara lewat unggahan di akun Instagram pribadinya, @xkhairulumam.
Dengan nada getir, ia melontarkan sindiran yang langsung menohok inti persoalan tentang alat pelindung yang justru diduga digunakan untuk mencabut nyawa warga sipil.
“Gua mau ngasih tahu Ini namanya helm, gunanya itu buat melindungi kepala, bukan buat ngancurin kepala warga,”
Tak berhenti di situ, ia menambahkan kalimat yang menggugah sekaligus menyindir situasi moral aparat di bulan suci.
“Katanya bulan puasa setan pada dipenjara. Kok masih ada,”
Unggahan tersebut sontak viral. Warganet ramai-ramai mengaitkan pernyataan Khairul dengan kasus tewasnya Arianto, yang diduga dianiaya oleh Bripda MS dari Kompi 1 Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Maluku.
Namun, apa yang semula merupakan kritik bernuansa kemanusiaan, berubah menjadi mimpi buruk. Khairul Umam mengungkap bahwa dirinya mulai menerima pesan-pesan mencurigakan dan bernada ancaman.
Dalam unggahan lanjutan, ia mengaku telah dikirimi dua alamat rumah, lengkap dengan nama orang tuanya. Teror itu disebut membuatnya merinding.
Ia menuliskan bahwa unggahan tersebut sengaja ia publikasikan sebagai bentuk kewaspadaan, sekaligus agar publik mengetahui apa yang tengah ia hadapi.
Dalam tangkapan layar percakapan yang dibagikan, terlihat pesan dari nomor tak dikenal yang menyebutkan alamat rumah dan disertai kalimat bernada intimidatif, seolah mengawasi pergerakan dan keselamatan dirinya.
“Udah sampai ke sini nih, ges. Sampai ngirimin dua alamat rumah gue dan nyebutin nama umi dan bapak gue. Canggih,” tulis Khairul dalam unggahannya dikutip TribunTrends, Kamis, 26 Februari 2026.
Ia mengaku sengaja mempublikasikan pesan tersebut agar menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, ancaman semacam ini tidak bisa dianggap remeh karena telah menyentuh ranah keselamatan keluarga.
Baca juga: Jenderal Listyo Mengutuk Aksi Bripda MS yang Pukul Arianto hingga Tewas, Janjikan Hukuman Setimpal
Menariknya, pesan yang diterima Khairul Umam tidak sepenuhnya bernada kasar. Dalam tangkapan layar lain, pengirim justru menyelipkan kalimat bernuansa doa dan perhatian.
“Sehat-sehat ya, kak. Jaga diri. Semoga selalu diberi keselamatan,” demikian isi pesan yang diterimanya.
Khairul pun merespons singkat dengan ucapan terima kasih dan doa balasan.
Namun, di balik kesan sopan tersebut, ia menilai konteks pesan tetap mengandung tekanan psikologis karena dikirim bersamaan dengan data pribadi keluarganya.
Khairul Umam kemudian mengungkap bahwa teror ini diduga berkaitan erat dengan konten yang ia buat. Beberapa waktu terakhir, ia aktif mengunggah seri konten “day 1 ngenalin fungsi app” yang membahas fitur dan potensi risiko aplikasi tertentu.
“Jadi setelah gue bikin konten ‘day 1 ngenalin fungsi app’, banyak teror yang masuk. Nah, ini salah satunya sampai ke gue,” tulisnya dalam unggahan lanjutan.
Ia menyadari bahwa membahas isu sensitif di ruang digital memang berisiko. Namun, ia tidak menyangka dampaknya bisa menjalar hingga ke keluarga yang sama sekali tidak terlibat.
Baca juga: Nasib Oknum Brimob di Maluku yang Pukul Arianto Tawakal Pakai Helm hingga Tewas, Polri Minta Maaf
Unggahan Khairul Umam pun menuai perhatian warganet. Banyak yang menyatakan dukungan sekaligus keprihatinan, sembari mengingatkan pentingnya perlindungan data pribadi di era digital.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa teror siber dapat bertransformasi menjadi ancaman nyata, terutama ketika data personal disalahgunakan.
Di tengah maraknya aktivitas digital, apa yang dialami Khairul Umam menunjukkan betapa tipisnya batas antara dunia maya dan risiko di dunia nyata.
***
(TribunTrends/Jonisetiawan)