Pertanyaan:
“Dokter, apakah stres juga dapat berpengaruh terhadap terjadinya saraf kejepit?”
(Pertanyaan dari jurnalis TribunHealth.com, dalam Healthy Talk ‘Risiko Saraf Kejepit pada Pekerja Kantoran’ pada Sabtu, 7 Februari 2026)
Jawaban Dokter Spesialis Neurologi RS Kasih Ibu Solo, dr. Ema Ratna Kartinawati, Sp.N:
“Mungkin enggak berpengaruh langsung ya, cuman dia bisa memperberat.
Karena tadi faktor stres.
Dari stres itu akan keluar hormon-hormon stres seperti kortisol, adrenalin, yang mana hormon ini nanti bisa meningkatkan sensitivitas si saraf tadi untuk meningkatkan nih ambang nyerinya, jadi lebih peka terhadap nyerinya.
Jadi terasa lebih berat atau terus-menerus.”
Simak penjelasan lengkapnya dalam tayangan berikut:
Saraf kejepit adalah kondisi di mana saraf mengalami tekanan dari jaringan di sekitarnya, seperti otot, tulang, tulang rawan, atau jaringan ikat.
Tekanan ini menyebabkan peradangan pada saraf, mengganggu impuls saraf, serta menurunkan suplai nutrisi dan darah ke saraf tersebut.
Akibatnya, timbul berbagai gejala yang bisa berkembang dari ringan hingga berat jika dibiarkan.
Baca juga: 5 Dampak Buruk Kerja Remote atau Jarak Jauh, Ternyata WFH Tak Sepenuhnya Baik untuk Kesehatan Mental
Kondisi ini tidak hanya menyerang orang tua atau pekerja berat, tetapi juga pekerja kantoran yang duduk lama di depan layar, pengguna gadget dengan postur tidak ergonomis, serta mereka yang melakukan aktivitas monoton berulang seperti mengetik atau memegang mouse.
Kurangnya peregangan dan stres kronis yang memicu ketegangan otot juga menjadi faktor risiko utama.
Bagian tubuh yang paling sering terkena meliputi leher (servikal) akibat kebiasaan menunduk, punggung bawah (lumbosakral) karena duduk terlalu lama dengan postur buruk, serta pergelangan tangan (CTS/Carpal Tunnel Syndrome) akibat aktivitas berulang.
Pada tahap awal, penderita biasanya merasakan pegal-pegal atau tegang di area pundak dan punggung, disertai kaku otot.
Jika berlanjut, muncul gejala kesemutan, kebas, atau nyeri menjalar seperti tersetrum atau terbakar yang merupakan ciri khas nyeri neuropatik.
Pada tahap berat, dapat terjadi kelemahan anggota gerak seperti sulit menggenggam atau sering jatuh, bahkan gangguan fungsi BAB dan BAK pada kasus saraf tulang belakang.
(TribunHealth.com)