Dwi Sasetyaningtyas Lawan Balik Hujatan: Negara Gak Ngasih Saya, Saya Bayar Pajak Juga
Evan Saputra February 26, 2026 08:03 AM

BANGKAPOS.COM - Nama Dwi Sasetyaningtyas, seorang alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), mendadak jadi sorotan tajam publik setelah pernyataannya yang dinilai merendahkan kewarganegaraan Indonesia viral di media sosial.

Di tengah gelombang hujatan yang membanjiri akun miliknya, Tyas justru menunjukkan sikap "pasang badan" dan menolak mentah-mentah tuduhan bahwa dirinya tidak nasionalis.

Bagi Tyas, ungkapan kontroversial "Cukup aku saja yang WNI, anakku jangan" adalah puncak dari kekecewaannya terhadap kebijakan pemerintah, bukan bentuk kebencian pada tanah air.

​Namun, pembelaan Tyas yang menyebut bahwa dirinya berhak melontarkan kritik karena statusnya sebagai pembayar pajak justru kian memantik api polemik.

Baca juga: Kakak Kelas Bongkar Perilaku Asli Dwi Sasetyaningtyas yang Viral Pamer Anak WNA: Suka Maki Orang

Ia menganggap dana beasiswa yang diterimanya bukan semata-mata "pemberian" cuma-cuma dari negara. "Negara gak ngasih ke saya, saya bayar pajak juga," tegasnya dalam sebuah interaksi panas dengan netizen di Instagram yang kini tersebar luas.

​Efek domino dari pernyataan ini ternyata tak main-main. Sang suami, Arya Pamungkas Iwantoro, yang juga merupakan lulusan doktoral dengan pendanaan negara, kini harus menanggung konsekuensi berat.

Menteri Keuangan secara tegas meminta agar seluruh dana beasiswa yang telah dikucurkan segera dikembalikan ke kas negara, lengkap dengan bunganya.

Tak hanya urusan materi, ancaman blacklist permanen dari seluruh instansi pemerintahan pun kini membayangi masa depan pasangan ini.

Bagaimana kronologi lengkap perseteruan panas antara alumni beasiswa negara ini dengan publik, dan apa poin-poin klarifikasi Tyas yang kini justru dianggap makin memojokkan dirinya? Simak rangkuman faktanya berikut ini.

Alumni beasiswa LPDP Dwi Sasetyaningtyas kembali melakukan perlawanan meski telah mendapatkan hujatan dari publik. 

Dwi merasa tak bersalah merendahkan bangsa Indonesia. 

Padahal dia mendapatkan beasiswa yang bersumber dari pajak.

Kontennya yang menyebut "Cukup aku saja yang WNI, anakku jangan" menuai kontroversi. 

Ucapan yang dinilai merendahkan status warga negara Indonesia (WNI) memicu polemik hingga menyeret kewajiban pengembalian dana beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) oleh suaminya, Arya Pamungkas Iwantoro.

Polemik bermula dari pernyataan Tyas yang menyebut, “Cukup aku saja yang WNI, anakku jangan.”

Ucapan tersebut memicu kritik luas di media sosial dan dianggap merendahkan kewarganegaraan Indonesia.

Tyas kemudian memberikan klarifikasi melalui akun Threads miliknya.

Ia menjelaskan bahwa pernyataan itu merupakan bentuk kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah, bukan kebencian terhadap negara.

Dalam unggahannya, Tyas menyebut dirinya lulus kuliah di Belanda pada 2017 dan telah kembali ke Indonesia selama enam tahun (2017–2023) untuk memenuhi kewajiban sebagai penerima beasiswa serta berkontribusi di Tanah Air.

Ia juga menegaskan kepindahannya ke Inggris bukan untuk melanjutkan studi, melainkan mendampingi suami.

"Melalui post ini, izinkan saya menjawab dan meluruskan segelintir asumsi dan fitnah yang beredar:

Aku lulus kuliah di BELANDA tahun 2017

Selama 6 tahun  (2017-2023) aku menetap di Indonesia untuk memenuhi kewajiban sebagai penerima beasiswa & berkontribusi kembali untuk Indonesia -- dan masih berlangsung hingga hari ini

Pindah ke Inggris BUKAN untuk sekolah, melainkan menunaikan kewajiban sebagai Istri," tulis Tyas di Threads.

Sementara itu, suaminya, Arya Pamungkas Iwantoro, diketahui merupakan lulusan magister dan doktoral dari Utrecht University di Belanda dengan pendanaan LPDP.

Tyas juga menilai dana beasiswa yang diterimanya merupakan hak karena ia merasa telah membayar pajak.

Ia bahkan menyebut penerima beasiswa berhak melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah sebagai bentuk kontribusi kepada rakyat.

Ia mengatakan bahwa penerima beasiswa dari LPDP sudah seharusnya melontarkan kritik atas kebijakan pemerintah.

"Penerima beasiswa dengan uang rakyat sudah SEHARUSNYA melontarkan kritik ke kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat sebagai timbal balik/kontribusi terhadap rakyat.

Ungkapan "cukup aku saja yang WNI, anak aku jangan" adalah bentuk kekecewaan, kemarahan, kekesalan terhadap kebijakan Pemerintah Indonesia

Saya menolak tuduhan/asumsi/fitnah yang beredar, tapi saya sadar itu semua diluar kuasa saya.

Mohon maaf lahir batin, Selamat menunaikan ibadah puasa ya warga!" tulis Tyas.

Tak sampai di situ saja, Tyas menganggap beasiswa yang diterimanya bukan pemberian dari negara.

"Negara gak ngasih ke saya, saya bayar pajak juga. Lagian paspor WNI emang lemah karena apa ? Diplomasi pemerintah. Jadi ini kritik buat pemerintah. Sampe sini gak paham juga ?" kata Tyas membalas komentar netizen di Instagram.

Purbaya Minta Beasiswa Dikembalikan

Pernyataan tersebut mendapat respons dari Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyampaikan bahwa Arya telah menyatakan kesediaan untuk mengembalikan dana beasiswa LPDP yang diterima, termasuk bunganya.

“Dia sudah setuju mengembalikan uang yang dipakai LPDP, termasuk bunganya,” ujar Purbaya.

Ia juga mengingatkan agar penerima beasiswa tidak menghina negara, mengingat dana LPDP bersumber dari pajak dan utang negara yang dialokasikan untuk pengembangan sumber daya manusia.

Tak hanya itu, Purbaya menyatakan akan memasukkan Tyas dan Arya ke dalam daftar hitam pemerintahan.

“Nanti akan saya blacklist dia. Di seluruh pemerintahan tidak akan bisa masuk,” katanya.

"Jadi jangan menghina negara anda sendiri. Gak apa-apa gak patriotis gak apa-apa, tapi jangan menghina negara deh yah," tambah Purbaya.

Hingga kini, polemik tersebut masih menjadi perbincangan publik, terutama terkait batas antara kritik terhadap kebijakan pemerintah dan sikap terhadap negara

(Wartakotalive/Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.