TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Momen Ramadan menjadi momen untuk nostalgia masa lalu.
Bagi generasi 1970-1990an, pernahkan merindukan suasana Ramadan tempo dulu di Solo Raya?
Salah satu momen paling ikonik kala itu adalah dentuman long bumbung atau meriam bambu tradisional, yang menggema menjelang berbuka hingga malam takbiran.
Baca juga: Mengenal Tradisi Kopi Rempah di Masjid Jami Assegaf Solo, Erat Kaitannya dengan Komunitas Arab
Di Solo dan sekitarnya, meriam bambu lebih dikenal dengan sebutan long bumbung atau mercon bumbung.
Permainan ini biasanya dimainkan anak-anak dan remaja menjelang waktu berbuka puasa atau selepas tarawih.
Terbuat dari bambu tua berdiameter besar, bagian pangkalnya dilubangi lalu diisi minyak tanah atau karbit.
Ketika disulut api, terdengar suara menggelegar yang memantul di antara rumah-rumah kampung atau tepi sungai.
Dentuman itu seolah menjadi penanda: Ramadan telah tiba, dan Lebaran kian dekat.
Baca juga: Mengenang Tradisi Dhul, Penanda Waktu Buka Puasa di Solo Era 1980-1990an
Meriam bambu bukan hanya milik Solo.
Tradisi ini dikenal luas di wilayah Melayu dan Nusantara dengan beragam nama: bedil bambu, meriam betung, bebeledugan, hingga bunggo.
Sejarahnya diperkirakan terinspirasi dari meriam bangsa Portugis pada abad ke-16.
Masyarakat pribumi lalu “menciptakan” versi tradisional dari bambu.
Seiring waktu, permainan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Ramadan dan Idulfitri di berbagai daerah, termasuk Jawa Tengah.
Di Solo Raya, long bumbung dulu kerap dimainkan di lapangan, kebun, atau tepi sungai.
Bahkan di beberapa daerah seperti Klaten, permainan ini dilakukan berkelompok layaknya “perang meriam”, menambah keseruan suasana.
Pembuatan long bumbung bukan perkara instan. Anak-anak harus mencari bambu tua, memotong sepanjang 1,5–2 meter, melubangi ruasnya, lalu mengikatnya dengan karet ban agar tak mudah pecah.
Proses ini mengajarkan:
Meski terdengar sederhana, permainan ini menyimpan nilai budaya: wujud syukur, kegembiraan menyambut hari besar, dan pelestarian tradisi turun-temurun.
Seiring perkembangan zaman, long bumbung semakin jarang terdengar di Solo Raya.
Minimnya lahan terbuka, kekhawatiran soal keselamatan, serta tergeser permainan modern membuat tradisi ini kian redup.
Kini, long bumbung masih bisa ditemui di beberapa wilayah seperti lereng Gunung Merbabu dan Merapi atau Desa Gabus, Sragen
Namun di kota, dentumannya nyaris tak terdengar lagi.
(*)