Melihat Kubah dan Jam Raksasa Masjid Raya Baitul Khairaat Kota Palu, Terbesar di Indonesia
Adhinata Kusuma February 26, 2026 01:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM - Masjid Raya Baitul Khairaat berada di Teluk Palu, teluk di pantai barat Pulau Sulawesi, di provinsi Sulawesi Tengah. 

Lokasinya terletak di kawasan pusat kota Palu, di Jalan WR Supratman.

Keunikan masjid ini ada pada pada kubah raksasanya,  seakan menjadi penanda baru kemajuan arsitektur Islam di Indonesia.

Masjid Raya Baitul Khairaat telah tercatat namanya dalam tinta emas sejarah nasional.

Nama “Baitul Khairaat”  berarti Rumah Kebaikan, yang berasal dari bahasa Arab.

Baca juga: Jejak Islam di Masjid Ar-Rahman Waipare Flores, Bangkit Usai Hancur oleh Tsunami 1992

Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menganugerahkan dua penghargaan sekaligus atas pencapaian arsitekturalnya.

Kubah utamanya berdiameter 90 meter, menjadikannya sebagai struktur kubah masjid terbesar di Indonesia saat ini.

Tak hanya itu, salah satu menaranya dilengkapi jam analog raksasa berdiameter 19,3 meter.

Jam tersebut menempatkan Masjid Raya Baitul Khairaat sebagai pemilik jam dinding terbesar kelima di dunia, sejajar dalam percakapan arsitektur global dengan kompleks megah Abraj Al-Bait di Mekkah.

Dari catatan Wikipedia, bangunan masjid ini seluas 26.248 meter.

Terdiri dari tiga lantai:

  • Lantai Dasar terdapat area lobby, museum, convention atau ruang serbaguna dll. 
  • Lantai 1 area sholat pria
  • Lantai 2 untuk wanita serta di lengkapi pintu lift 

99 Ornamen Jendela

Memasuki ruang utama masjid, kemegahan tidak hanya terasa dari skala bangunan, tetapi juga dari makna yang tersirat di setiap sudutnya.

Terdapat 99 ornamen jendela yang merepresentasikan Asmaul Husna, nama-nama indah Allah.

Cahaya yang menembus jendela-jendela itu menciptakan suasana teduh dan khusyuk.

Menara kembar setinggi 66,66 meter dibangun sebagai simbol jumlah ayat dalam Al-Qur’an.

Angka-angka tersebut bukan sekadar perhitungan teknis, melainkan penegasan bahwa arsitektur masjid ini bertumpu pada nilai spiritual.

Dengan anggaran pembangunan mencapai Rp376 miliar, masjid ini dirancang untuk menampung hingga 10.000 jemaah.

Struktur masifnya memadukan seni bina modern dengan estetika Islami, menghadirkan ruang ibadah yang monumental namun tetap fungsional.

Masjid Raya Baitul Khairaat menjadi bukti bahwa kemajuan teknologi dan keteguhan iman dapat berjalan seiring.

Ia berdiri sebagai simbol dedikasi kolektif dalam membangun peradaban yang berakar pada nilai-nilai religius.

Ruang Publik dan Spiritualitas 

Memasuki Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, kawasan pelataran masjid berubah menjadi ruang publik yang hidup.

Masyarakat datang untuk menikmati suasana sore yang asri.

Anak-anak berlarian di halaman luas, keluarga duduk bersantai menanti waktu berbuka, sementara remaja berswafoto dengan latar kubah dan jam raksasa yang ikonik.

Angin sepoi dari Teluk Palu menambah kenyamanan, menjadikan pelataran masjid sebagai lokasi favorit untuk ngabuburit.

Setiap sudutnya terasa fotogenik, namun tetap menghadirkan nuansa khidmat yang terjaga.

Bagi yang ingin mengisi waktu dengan kegiatan lebih mendalam, perpustakaan masjid dan ruang utama yang sejuk menjadi tempat ideal untuk tadarus Al-Qur’an atau mengikuti kajian menjelang azan Magrib.

Seorang pengunjung asal Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Muhammad Hafid Saleh mengaku merasa tenang salat di Masjid Raya Baitul Khairaat.

“Sangat menyenangkan atau tenang ketika kita melaksanakan salat di sini karena begitu megahnya masjid ini”, ujarnya pada Jumat (20/2/2026).

Senja yang Menguatkan Ukhuwah

Ketika azan Magrib berkumandang, suasana hangat penuh syukur menyelimuti seluruh kawasan.

Cahaya lampu yang berpijar keemasan menerangi kubah dan menara, memantul indah di permukaan Teluk Palu.

Senja yang berganti malam justru menegaskan kemegahan bangunan ini.

Masjid Raya Baitul Khairaat bukan hanya simbol rekor dan prestasi arsitektur.

 Ia adalah representasi sinergi, keteguhan, dan harapan. Kemegahannya diharapkan selaras dengan penguatan nilai-nilai spiritual dan ukhuwah umat.

Di bawah kubah raksasa itu, waktu terus berdetak, diiringi jam monumental yang menjadi saksi bahwa peradaban dapat dibangun dengan iman, kerja keras, dan visi yang melampaui generasi. (Tribun Palu)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.