POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Peri Suswanto (44) turun dari sepeda motor sambil menenteng dua tabung gas 3 kg kosong ke tenda penukaran di Taman Kota Manggar, Belitung Timur, Kamis (26/2/2026)
Peri merupakan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), datang bukan untuk mengantre gas subsidi, melainkan untuk melepaskannya.
"Tujuannya bagus ya, supaya gas 3 kg ini benar-benar untuk orang yang tidak mampu. Kalau kita yang sudah mampu beralih ke 5,5 kg, maka jatah yang 3 kg itu bisa tersalurkan ke penerima yang berhak," ujarnya.
Peri bercerita bahwa tabung gas tersebut adalah peninggalan saat dirinya masih berstatus tenaga honorer. Kini, setelah menyandang status ASN, ia merasa memiliki kewajiban moral untuk mengikuti edaran pemerintah mengenai pembatasan penggunaan energi bersubsidi.
"Kita sudah pindah status, dari honorer jadi ASN. Jadi wajib bagi yang menengah ke atas beralih ke non-subsidi. Ini soal ketaatan pada aturan," ucapnya.
Dalam proses penukaran tersebut, Peri menyerahkan dua tabung 3 kg miliknya dan membayar biaya isi ulang sebesar Rp97.000 untuk membawa pulang satu tabung Bright Gas 5,5 kg baru.
Baginya, selisih harga tersebut tidak menjadi masalah dibandingkan harus mengambil jatah warga miskin yang seringkali kesulitan mendapatkan stok gas di pasaran.
"Daripada kita paksakan pakai yang 3 kg, antrenya lama dan kadang warga yang benar-benar butuh malah tidak kebagian. Lebih baik mengalah saja," ungkapnya.
Saat ditanya mengenai rasa gengsi karena harus mengangkut sendiri tabung gas ke lokasi publik, Peri hanya tertawa kecil. Menurutnya, menjalankan aturan dan berbuat jujur jauh lebih penting daripada sekadar gengsi.
"Gengsi? Sama sekali tidak. Ini kan kewajiban kita untuk menukar sesuai edaran," ujarnya.
Peri menilai program penukaran seperti ini sangat memudahkan bagi masyarakat yang ingin bermigrasi, karena tidak perlu mencari-cari tempat penukaran yang jauh.
Ia pun menyadari bahwa sebagai abdi negara, tindakannya akan menjadi sorotan masyarakat, sehingga memberi contoh yang baik adalah sebuah keharusan.
Peri mengatakan bahwa penggunaan gas non-subsidi sebenarnya memberikan kenyamanan tersendiri karena ketersediaannya yang lebih terjamin dibandingkan gas melon yang sering mengalami kelangkaan. Dengan beralih ke gas 5,5 kg, ia mengaku tidak lagi merasa was-was jika nanti persediaan gas di rumahnya habis saat mendesak.
Setelah seluruh proses administrasi dan pembayaran selesai, Peri langsung bergegas membawa tabung merah muda seberat 5,5 kg tersebut menuju kendaraannya. Ia segera menaikkan tabung baru itu ke atas motornya.
Tas selempang yang melingkar di bahu Peri sesekali bergeser saat ia mengatur posisi tabung gas agar aman selama perjalanan pulang di tengah cuaca yang panas ini.
Tak hanya Peri yang memilik inisiatif untuk melakukan penukaran ini. Pemandangan di lokasi menunjukkan rata-rata warga yang datang melakukan pola serupa, yakni menukarkan dua tabung 3 kg untuk satu tabung 5,5 kg. Namun, sejauh ini belum terlihat warga yang melakukan penukaran untuk jenis 12 kg di lokasi tersebut.
Adapun program penukaran ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan subsidi energi tepat sasaran. Bagi masyarakat yang belum sempat hadir di Taman Kota, program fasilitasi penukaran tabung ini masih akan dibuka hingga 30 Maret 2026.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)