Waspada Takjil Berbahaya, Dinkes Bangka Selatan Ingatkan Ciri-cirinya Ini
Asmadi Pandapotan Siregar February 26, 2026 05:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Ramadan identik dengan tradisi berburu takjil menjelang waktu berbuka puasa. Deretan kue warna-warni, minuman manis, hingga aneka gorengan menjadi pemandangan yang menggoda di sudut-sudut Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. Namun di balik ramainya pasar Ramadan, masyarakat diingatkan untuk lebih cerdas memilih makanan demi menjaga kesehatan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Bangka Selatan, Slamet Wahidin, mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergoda tampilan menarik saat membeli takjil. Menurutnya, makanan dengan warna mencolok dan tekstur tidak wajar dapat menjadi indikasi penggunaan bahan berbahaya bagi kesehatan. 

“Kalau warnanya terlalu mencolok dan teksturnya tidak seperti biasanya, misalnya lebih kenyal atau terlalu kental, perlu berhati-hati,” ujar Slamet Wahidin kepada Bangkapos.com, Kamis (26/2/2026).

Slamet Wahidin menjelaskan, langkah sederhana seperti mengamati warna dan tekstur bisa menjadi cara awal mendeteksi potensi penggunaan bahan tambahan berbahaya dalam makanan. Indikator yang perlu diperhatikan adalah warna makanan. Kue atau minuman dengan warna terlalu terang dan mencolok patut dicurigai. Pewarna tekstil seperti rhodamin B kerap disalahgunakan untuk memberikan warna merah cerah pada makanan, padahal zat tersebut berbahaya bagi kesehatan.

Rhodamin B bukan bahan tambahan pangan yang diperbolehkan. Jika dikonsumsi terus-menerus, zat ini dapat berdampak buruk bagi organ tubuh. Selain itu, formalin dan boraks juga menjadi zat yang perlu diantisipasi. Formalin biasanya digunakan sebagai pengawet mayat atau bahan industri. Sedangkan boraks sering disalahgunakan untuk membuat tekstur makanan lebih kenyal dan tahan lama.

“Tiga zat ini yang harus kita waspadai bersama. Karena bukan bahan tambahan pangan yang diizinkan,” tegas Slamet.

Selain warna, tekstur makanan juga menjadi petunjuk penting. Makanan yang terasa terlalu kenyal, sangat elastis, atau tidak mudah basi meski sudah berjam-jam di suhu ruang patut dicurigai. Gorengan yang tetap renyah dalam waktu lama atau kue basah yang tidak berubah tekstur hingga malam hari bisa menjadi tanda penggunaan bahan tambahan tidak wajar. Masyarakat juga disarankan mencium aroma makanan sebelum membeli. 

melakukan pemeriksaan sampel takjil secara acak di lapak penjualan kawasan Himpang Lima Habang, Kamis (26/2/2026. Sampel kue dan makanan olahan tersebut langsung diuji di lokasi menggunakan test kit untuk mendeteksi kandungan zat berbahaya.
melakukan pemeriksaan sampel takjil secara acak di lapak penjualan kawasan Himpang Lima Habang, Kamis (26/2/2026. Sampel kue dan makanan olahan tersebut langsung diuji di lokasi menggunakan test kit untuk mendeteksi kandungan zat berbahaya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto/Cepi Marlianto)

Bau menyengat atau tidak lazim bisa menjadi indikasi adanya bahan kimia tambahan. Tips berikutnya adalah memperhatikan kebersihan lapak dan cara pengolahan makanan. Pilih pedagang yang menjaga kebersihan peralatan, menutup makanan dari debu dan lalat, serta menggunakan sarung tangan atau alat bantu saat menyajikan. Kebersihan tempat berjualan mencerminkan kepedulian pedagang terhadap kualitas produknya. 

“Lingkungan yang bersih mengurangi risiko kontaminasi bakteri maupun zat lain yang membahayakan,” urainya.

Harga juga bisa menjadi pertimbangan. Jika harga makanan jauh lebih murah dibandingkan pedagang lain dengan jenis yang sama, pembeli perlu lebih waspada. Meski tidak selalu demikian, harga terlalu murah bisa jadi karena penggunaan bahan baku yang kualitasnya diragukan.

UJI ACAK TAKJIL --  Petugas kesehatan dari Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan ketika melakukan pengambilan sampel takjil secara acak di lapak penjualan kawasan Himpang Lima Habang, Kamis (26/2/2026. Sampel kue dan makanan olahan tersebut langsung diuji di lokasi menggunakan test kit untuk mendeteksi kandungan zat berbahaya.
UJI ACAK TAKJIL --  Petugas kesehatan dari Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan ketika melakukan pengambilan sampel takjil secara acak di lapak penjualan kawasan Himpang Lima Habang, Kamis (26/2/2026. Sampel kue dan makanan olahan tersebut langsung diuji di lokasi menggunakan test kit untuk mendeteksi kandungan zat berbahaya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto/Cepi Marlianto)

Selain mengimbau masyarakat, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan juga mengingatkan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) agar tidak menggunakan bahan berbahaya demi keuntungan semata. Keuntungan sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang ditanggung masyarakat. Penggunaan bahan kimia berbahaya tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga mengancam keselamatan konsumen.

Ia menegaskan, keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Dengan kesadaran kolektif, Kabupaten Bangka Selatan dapat menjadi daerah dengan keamanan pangan yang terjaga. Dengan lebih teliti memperhatikan warna, tekstur, aroma, serta kebersihan penjual, masyarakat dapat meminimalkan risiko kesehatan saat berburu takjil.

“Marilah kita mengolah makanan sesuai dengan standar kesehatan yang ada. Karena konsumen bisa dirugikan dari sisi kesehatan apabila menggunakan bahan-bahan berbahaya,” ucap Slamet. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.