TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di sudut ruangan yang tenang di Rumah Pelayanan Sosial (RPS) Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Kota Yogyakarta, jemari renta Siti Mujilah (80) tampak masih lincah.
Meski kulitnya sudah berkeriput, dan matanya tak seawas dulu, ketelitian saat meronce biji-biji manik menjadi seuntai gelang dan kalung tak kalah dengan anak-anak muda.
Siti tidak sendirian, di atas hamparan tikar, ia bersama belasan rekan sejawatnya, yang sama-sama akrab disapa "Simbah", asyik bercengkerama sembari menyelesaikan berbagai kerajinan tangan.
Para lansia putri sibuk meronce kalung dan gelang, membuat gantungan kunci, hingga merajut kain, sementara para lansia kakung fokus mengemasnya ke dalam plastik-plastik nan cantik.
"Senang banget, saya sudah enam tahun di sini. Banyak teman seumuran yang nasibnya sama, tidak ada kerabat di Yogya," ujar Siti dengan senyum merekah, Kamis (28/2/26).
Bagi Siti dan lansia-lansia lainnya, kegiatan ini bukan sekadar mengisi waktu luang di usia yang semakin senja, namun ada kebanggaan tersendiri saat karya mereka dihargai banyak orang.
Bukan tanpa alasan, hasil penjualan kerajinan tersebut langsung masuk ke kantong para simbah, sebagai tabungan atau uang jajan tambahan.
Kasubag TU UPT RPS Budhi Dharma, Sedyawati, mengisahkan, awalnya hanya sedikit lansia saja yang tertarik ikut serta membuat kerajinan.
Namun, kekuatan getok tular atau promosi dari mulut ke mulut antar simbah terbukti ampuh, hingga membuat belasan lansia penghuni panti akhirnya ikut ambil bagian.
"Awalnya cuma tiga sampai empat orang. Tapi begitu melihat temannya dapat uang hasil jualan, yang lain mulai bertanya-tanya dan ikut bergabung. Motivasi mereka muncul sendiri saat menerima cuan dari membuat kerajinan," ujarnya.
Produk-produk ini kemudian dipajang di sebuah etalase kayu berwarna putih di sudut aula panti, dan diberi label jenama yang unik dan sangat khas, yakni "Yangtie Yangkung".
Sedyawati mengungkapkan, aneka kerajinan tersebut dipasangi banderol mulai dari Rp10.000 - Rp50.000, dengan mayoritas konsumen adalah pengunjung panti.
"Kami sesuaikan dengan hobi. Yang suka pernik-pernik, ya diajarkan meronce. Yang hobi merajut, disediakan bahannya. Pernah ada tamu dari Italia datang, mereka borong sampai habis Rp3 juta. Wah, simbah-simbah langsung semangat," ucapnya.
Kendati demikian, di balik perputaran uang dan kesibukan tangan, ada misi yang jauh lebih mulia dari panti di bawah naungan Dinas Sosial, Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Dinsosnaertrans) Kota Yogyakarta ini, yakni menjaga kesehatan mental.
Sedyawati pun menekankan, bahwa kegiatan produktif seperti meronce dan merajut merupkan cara ampuh dan efektif untuk mengurangi risiko kepikunan dini.
"Semangat awalnya bukan komersil, tapi bagaimana mereka mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat. Saya selalu bilang, jangan sampai kita yang harusnya belum pikun jadi pikun karena berdiam saja. Dengan berkarya seperti ini, kepikunan dini di sini sangat berkurang," ungkapnya.
Alhasil, bagi para lansia di RPS Budhi Dharma, setiap butir manik yang dirangkai adalah harapan untuk tetap berarti, sehat, dan tersenyum di masa senja mereka.
Nestapa maupun kesedihan karena ditinggal sanak saudara atau kerabat sontak sirna seketika, melalui gelak tawa warga panti yang saling menguatkan.