POS-KUPANG.COM, SURABAYA - Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan dan Promosi Luar Negeri, Prof. Tommy Kayhatu, menyambut baik penguatan kerja sama dengan Timor Leste.
Prof Tommy menegaskan, Timor Leste merupakan mitra dagang strategis bagi Jawa Timur karena kedekatan geografis dan kebutuhan pasar yang saling melengkapi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, kinerja perdagangan kedua wilayah sepanjang 2021–2025 menunjukkan tren positif dengan surplus neraca perdagangan yang konsisten.
Baca juga: Asisten Atase Industri dan Perdagangan Timor Leste Berkunjung ke Kadin Jatim
Pada 2021, nilai ekspor Jawa Timur ke Timor Leste tercatat sebesar US$206,61 juta dengan impor US$0,56 juta, menghasilkan surplus US$206,05 juta. Tahun 2022, ekspor meningkat menjadi US$231,66 juta dengan surplus US$229,01 juta.
Kinerja tersebut terus menguat pada 2023 dengan nilai ekspor US$243,18 juta dan surplus US$237,68 juta. Pada 2024, ekspor kembali naik menjadi US$256,99 juta dengan surplus tertinggi sebesar US$254,84 juta.
Hingga Oktober 2025, ekspor Jawa Timur ke Timor Leste tercatat US$241,56 juta dengan surplus perdagangan mencapai US$238,29 juta.
“Secara keseluruhan, hubungan dagang Jawa Timur dan Timor Leste menunjukkan prospek yang sangat baik. Surplus yang konsisten dan pertumbuhan ekspor yang positif menjadi indikator kuat bahwa Timor Leste adalah mitra strategis bagi Jawa Timur,” ujar Tommy.
Ia berharap, penguatan kolaborasi di sektor perdagangan, industri, UMKM, hingga investasi dapat semakin meningkatkan nilai perdagangan kedua wilayah ke depan.
Adapun Asisten Atase Industri dan Perdagangan Timor Leste, Ricardo de Araujo melakukan kunjungan ke Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim) di Surabaya.
Kunjungan asisten atase pada Rabu (25/2/2026) itu memperkuat hubungan dagang antara Jawa Timur dan Timor Leste.
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk meninjau sekaligus memperluas kerja sama di bidang perdagangan, industri, dan investasi antara kedua wilayah.
Ricardo mengatakan, kunjungan ini bertujuan melihat perkembangan hubungan yang telah terjalin sekaligus membuka peluang kolaborasi baru.
“Kami ingin memperhatikan dan memperkuat hubungan kerja sama industri dan perdagangan Timor Leste dengan Kadin Jatim sejauh ini,” ujarnya.
Menurutnya, Timor Leste sebagai negara yang relatif muda masih berada dalam tahap pembangunan. Kondisi itu membuka ruang besar bagi pengembangan industri kecil dan menengah.
Ia menilai Jawa Timur memiliki posisi strategis karena selama ini Surabaya menjadi salah satu pintu utama pengiriman berbagai produk ke Timor Leste.
“Surabaya termasuk daerah yang paling banyak mengirim bahan dan produk ke Timor Leste,” ungkapnya.
Selain bertemu jajaran Kadin Jatim, delegasi Timor Leste juga mengunjungi sejumlah perusahaan di Jawa Timur yang mengekspor produknya ke negaranya, seperti PT Akuasi, Bogasari, dan Indofood.
Mereka juga mendatangi kawasan Pelabuhan Tanjung Perak untuk melihat aktivitas ekspor secara langsung.
“Kami ingin melihat langsung proses produksi barang-barang yang dikirim ke Timor Leste,” kata Ricardo.
Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu prioritas dalam penjajakan kerja sama ini.
Ricardo mengakui, jumlah dan kapasitas UMKM di Timor Leste masih terbatas karena pembangunan dilakukan secara bertahap.
“Karena kami masih berjalan pelan-pelan, pendampingan UMKM sangat kami perlukan,” ujarnya.
Adapun sektor yang dinilai potensial antara lain industri tenun, makanan ringan, hingga produksi perabot rumah tangga sederhana seperti kursi dan meja. Produk-produk tersebut dinilai sesuai dengan kebutuhan pasar domestik Timor Leste.
Tak hanya UMKM, peluang investasi juga terbuka di sektor pengelolaan sampah dan daur ulang. Hingga kini, Timor Leste belum memiliki sistem pemilahan maupun industri daur ulang terpadu.
“Sampah masih dikumpulkan di satu tempat. Untuk daur ulang memang belum ada,” ungkap Ricardo.
Ia berharap investor dari Indonesia, khususnya Jawa Timur, dapat melihat peluang tersebut sebagai potensi kerja sama jangka panjang.
Selain itu, kebutuhan suku cadang dan layanan perawatan alat berat juga menjadi perhatian. Banyak pengusaha Timor Leste membeli alat berat dari Indonesia, namun kerap menghadapi kendala ketersediaan suku cadang setelah satu hingga dua tahun penggunaan.
“Sering muncul masalah karena tidak ada suku cadang di sana,” jelasnya.
Saat ini, sejumlah produk utama yang diekspor dari Indonesia ke Timor Leste meliputi bahan bangunan, makanan dan minuman, obat-obatan, kosmetik, hingga alat berat. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,5 juta jiwa, Ricardo optimistis potensi pasar Timor Leste masih terbuka luas.
“Kami berharap kerja sama dengan Kadin Jawa Timur bisa semakin konkret dan saling menguntungkan,” tuturnya. (*)