Novel Grafis AR Hidupkan Kembali Maestro Lengger Dariah Banyumas
Daniel Ari Purnomo February 26, 2026 10:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Sosok maestro seni tradisi lengger asal Banyumas, Dariah, seakan "hidup kembali" melalui sebuah karya kreatif berupa novel grafis berbasis teknologi augmented reality (AR) yang berjudul "Renjana: Dongeng Kehidupan Maestro Lengger Dariah".

Rangkaian kegiatan peluncuran karya inovatif tersebut meliputi pemutaran film dokumenter proses pembuatan novel grafis, diskusi buku, demonstrasi penggunaan teknologi AR, serta ditutup dengan pementasan seni lengger yang memukau.

Karya Berbasis Teknologi

Baca juga: Memoar Lengger Narsih Mengungkap Perjalanan 53 Tahun Seniman Banyumas Mencegah Kepunahan Lengger

Penggagas novel "Renjana", Rida Purnama Sari, mengatakan bahwa karya tersebut sengaja dibuat sebagai upaya membangun pusat data yang mendokumentasikan jejak kehidupan dan deretan karya pelaku seni lengger di Banyumas.

Rida menjelaskan, pemilihan bentuk karya berupa novel grafis berbasis AR ini juga bertujuan untuk memperkenalkan praktik kolaboratif dalam pendokumentasian seni tradisi yang memadukan pendekatan artistik dengan teknologi masa kini.

"Lewat buku ini kami tidak hanya ingin menonjolkan sosok Maestro Lengger Dariah, tetapi juga menampilkan wajah penciptaan produk kreatif di Banyumas yang lahir dari kolaborasi lintas disiplin ilmu," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, di Ruang Gatra Hetero Space, Purwokerto, Rabu (25/2/2026).

Inspirasi Lintas Zaman

Menurutnya, sosok legendaris Dariah dipilih karena memiliki perjalanan kesenian yang sangat panjang dan berpengaruh besar dalam perkembangan seni tradisi lengger.

Dariah dikenal luas sebagai penari lengger terkemuka yang perjalanan kreatifnya melintasi berbagai zaman, mulai dari masa kolonial, demokrasi terpimpin, Orde Baru, hingga era reformasi.

Bahkan hingga saat ini, sosok Dariah masih terus menjadi sumber inspirasi utama bagi banyak koreografer dan seniman muda yang menaruh minat pelestarian pada seni tradisi lengger.

Apresiasi Pelestarian Budaya

Sementara itu, Staf Khusus Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Annisa Rengganis, menyampaikan bahwa peluncuran novel grafis ini menjadi langkah penting untuk mengenalkan kembali sosok Dariah kepada generasi muda.

"Karya ini merupakan program budaya yang penting karena dapat memperkenalkan kembali tokoh Maestro Dariah kepada generasi muda melalui medium yang lebih dekat dengan perkembangan zaman," katanya sebagaimana tertulis dalam rilis, Kamis (26/2/2026).

Senada dengan hal itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpus) Kabupaten Banyumas, Agus Anggraito, turut mengapresiasi tingginya dedikasi pendokumentasian Maestro Lengger Dariah melalui pendekatan teknologi.

Menurutnya, langkah inovatif tersebut menjadi terobosan dalam pelestarian budaya yang mampu menjembatani kearifan tradisi dengan pesatnya perkembangan teknologi.

"Peluncuran novel grafis berbasis augmented reality ini merupakan langkah strategis yang visioner karena menggabungkan teknologi dengan kearifan lokal," ujar Agus.

Pementasan Tari Lengger

Acara bersejarah tersebut ditutup dengan pementasan lengger yang memukau, menampilkan Otniel Tasman sebagai penari, diiringi tabuhan kendang oleh Sukendar dan lantunan suara sinden oleh Daisah.

Dalam kesempatan istimewa tersebut, pihak panitia juga membagikan sebanyak 50 eksemplar novel secara cuma-cuma kepada tamu undangan.

Penerima buku tersebut berasal dari kalangan perwakilan sanggar tari, pelaku seni tradisi lengger, tokoh seni budaya, akademisi, serta perpustakaan dari sejumlah sekolah di Kabupaten Banyumas. (jti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.