TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Memasuki hari kelima sejak gangguan akibat dugaan peretasan, layanan Bank Jambi masih belum kembali pulih.
Pada Kamis (26/2/2026), layanan perbankan seluler atau mobile banking maupun mesin ATM di berbagai lokasi di Kota Jambi terpantau belum dapat digunakan.
Seorang pegawai di salah satu kantor cabang yang ditemui Tribun mengaku belum mengetahui kepastian waktu pemulihan sistem yang bermasalah sejak Minggu (22/2).
Ia juga tidak dapat memastikan apakah nasabah nantinya harus melakukan verifikasi ulang layanan e-banking atau tidak setelah sistem pulih.
"Saya tidak berani ngomong," ujarnya Kamis (26/2).
Terkait itu, Gubernur Jambi Al Haris menyebut gangguan tersebut sebagai insiden siber sehingga penanganannya kini melibatkan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, PPATK, serta kepolisian.
Sebagai langkah awal, Bank Indonesia memutus sementara akses ATM dan mobile banking Bank Jambi.
"Untuk ATM dan mobil mobile banking, belum bisa digunakan sementara waktu ya. Kenapa? Karena sedang diadakan audit forensik,” katanya usai rapat umum tahunan dan RUPS luar biasa PT Bank Pembangunan Daerah Jambi di Gedung Mahligai Bank Jambi, Rabu (25/2) malam.
Ia menjelaskan audit forensik dilakukan guna menelusuri pihak-pihak yang terlibat serta aliran dana yang terjadi.
“Alhamdulillah, untuk transaksi berikutnya tidak ada masalah. Ya, tidak ada masalah. Sampai hari ini masih boleh mengambil uang di Bank Jambi, hanya tidak melalui ATM,” tuturnya.
Al Haris menambahkan pihaknya terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia agar layanan ATM dan perbankan digital dapat segera diaktifkan kembali.
“Ya, kalau istilah orang kalau korslet kabel satu, kan ini Bank Indonesia lagi coba. Kabel satu diputuskan mungkin dibuka kabel lain untuk tetap jalan ATM kita.
"Ini yang kita lagi coba dengan Bank Indonesia dikomunikasikan,” jelasnya.
“Kenapa? Karena Otorisasi ini tentu banyak pihak yang akan dicek oleh Bank Indonesia. Vendornya juga dicek, kemudian semua dicek,” lanjutnya.
Ia memastikan gangguan tersebut tidak berdampak pada pembayaran gaji ASN.
“Gaji ASN ada, cuma sementara tidak bisa menarik di ATM saja. Semoga Bank Indonesia bisa secepatnya mengizinkan membuka blokir itu karena itu ada kuncinya di Bank Indonesia,” terangnya.
Terkait kondisi keamanan siber pascainsiden, Al Haris menyebut situasinya sudah membaik dan meningkat ke level 24.
“Nah, ini kan yang namanya siber kan kejahatan extra ordinary crime, ya. Ini bisa saja bisa saja terjadi di bank-bank mana pun gitu.
"Kan BCA juga kena kemarin, Bank DKI juga kena, Bank NTB, gitu kan? Itu Bank Jatim juga gitu. Banyak yang lain juga,” ungkapnya.
"Sebenarnya sudah bisa dikendalikan Bank Indonesia hari ini. Hanya saja karena ini sedang audit forensik Bank Indonesia, karena kalau ini dibuka langsung mungkin ATM itu kan nanti mereka bebas lagi memindah-mindahkan ATM ke ke bank-bank lain, ya kan? Maka ini sementara dibekukan dulu, gitu,” sambungnya.
Soal jumlah nasabah yang kehilangan uang dan total kerugian, Al Haris menyebut hal itu akan disampaikan langsung oleh Bank Jambi.
“Intinya, Bank Jambi tanggung jawab sepenuhnya dan kami pemegang saham ini juga akan tanggung jawab ya terhadap nasabah-nasabah yang ada di Bank Jambi kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemungkinan sanksi terhadap pihak terkait masih menunggu hasil audit forensik.
Berjalan Cepat
Kepala OJK Provinsi Jambi, Yan Iswara Rosya, menilai proses pemulihan berjalan relatif cepat.
"Proses sedang berjalan, menurut saya termasuk cepat, ya," ujarnya Kamis (26/2).
Ia mengatakan proses kini berada di tahap penanganan kepolisian sehingga verifikasi data nasabah masih menunggu hasil pemeriksaan forensik.
Namun demikian, ia menegaskan dana nasabah yang hilang wajib diganti oleh pihak bank.
"OJK sampai saat ini terus mengawal proses pemulihan dan saya meminta masyakat untuk tetap tenang," ungkapnya.
Menurut Yan, peristiwa ini menjadi pembelajaran penting bagi Bank Jambi untuk memperketat sistem pengamanan.
"Tantangan kami bagaimana meningkatkan sistem itu, tidak hanya untuk Bank Jambi tapi untuk seluruh jasa keuangan," katanya.
Ia menambahkan tidak ada aturan khusus terkait pemberian kompensasi tambahan kepada nasabah, karena hal itu bergantung pada kebijakan bank.
"Yang pasti, uang yang hilang harus diganti," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Treasury, Dana, IT, dan Digital Bank Jambi, Achmad Nunung HS, menyatakan pihaknya menargetkan layanan e-banking dan ATM dapat kembali beroperasi sebelum 10 hari.
"Kita berusaha sebelum 10 hari semua layanan telah pulih kembali," ujarnya.
Lapisan Proteksi
Pengamat kebijakan pemerintahan, Rio Yusri Maulana, menilai Bank Jambi seharusnya memiliki lapisan perlindungan sistem yang kuat guna menjaga kepercayaan masyarakat dalam menyimpan dana maupun berinvestasi.
“Perspektif pemerintah saya pikir ini juga perlu diperhatikan karena user-nya Bank Jambi itu adalah seluruh pemerintah kabupaten/kota termasuk Pemprov Jambi,” katanya, Kamis (26/2).
Ia mengingatkan agar gangguan tersebut tidak sampai menghambat pelayanan terhadap ASN maupun aktivitas pemerintahan, mengingat Bank Jambi menjadi penopang arus kas berbagai proyek pemerintah daerah.
“Itu juga menjadi catatan sehingga nanti saya harap, pemerintah daerah yang yang kemudian terdampak harus segera memberikan kepastian mengambil langkah-langkah yang penting, agar kegiatan-kegiatan pemerintah itu akhirnya tidak terdampak permasalahan di Provinsi Jambi ini,” ujarnya.
Dari sisi tata kelola, ia menilai pemerintah daerah memiliki keterkaitan langsung dengan Bank Jambi karena nilai lokalitas yang diusung bank tersebut.
“Ketika local value itu berbasis pada kepercayaan, berbasis pada komitmen ya karena pemegang sahamnya adalah kepala-kepala daerah, maka Bank Jambi harus juga mencerminkan pelayanan yang profesional,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya peningkatan sistem keamanan seiring semakin canggihnya modus peretasan.
“Dengan semakin canggihnya kita melihat sistem peretasan, bank-bank himbara juga berbenah, semua perbankan itu berbenah. Bukan karena kebutuhan kemajuan teknologi, tapi karena memang tuntutannya sudah harus seperti itu,” lanjutnya.
Rio berharap kasus ini dijadikan pelajaran jangka panjang, bukan sekadar respons sesaat.
“Kita mesti bisa memprediksi kebutuhan di masa mendatang, kita mesti bisa memprediksi ancaman yang akan muncul di masa mendatang, bukan hanya inovasi dibuat untuk menyelesaikan masalah-masalah saja,” ucapnya.
Terkait reaksi masyarakat, ia menilai kekhawatiran nasabah merupakan hal yang wajar, terlihat dari adanya penarikan dana.
“Bagi saya itu normal reaksi dari masyarakat, mungkin khawatir nanti penanganan persoalannya akan lama atau mungkin yang tidak terdampak nanti karena ini sedang error bisa terdampak,” terangnya.
Meski demikian, ia mengapresiasi langkah cepat Bank Jambi dalam memberikan pernyataan kepada publik.
“Jadi kalau kepekaan masyarakat itu tergantung penyelesaian masalah ini. Kalau misalnya ke depan permasalahan ini dibiarkan penyelesaiannya berlarut-larut. maka saya yakin nasabah akan beralih ke bank lain,” imbuhnya.
Ia pun berharap Bank Jambi segera melakukan pembenahan menyeluruh.
“Kalau bisa lebih unggul karena cash money-nya ada di sana lebih besar misalnya. Karena kita ingin Bank Jambi akan terus tumbuh besar dan makin baiklah ke depannya,” pungkasnya.
(Tribunjambi.com/Syrillus Krisdianto, M Yon Rinaldi)
Baca juga: Helen si Bos Narkoba Jambi Dieksekusi untuk Dihukum Penjara Seumur Hidup
Baca juga: Belum Ada Angka Pasti Kerugian Nasabah Bank Jambi akibat Peretasan Tempo Hari
Baca juga: Jaksa Buka Peluang Seret DPRD Kerinci dalam Kasus Korupsi Lampu Jalan